Sebuah Surat Tentang Perjalanan Agung Isra Mi'raj

Ilustrasi simbolis perjalanan malam yang agung.

Kepada saudaraku yang terkasih dalam iman, salam sejahtera menyertaimu. Aku menuliskan lembaran ini setelah merenungi kembali mukjizat terbesar yang Allah anugerahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebuah peristiwa yang mengubah sejarah spiritualitas umat manusia: Isra dan Mi'raj. Ini bukan sekadar kisah perjalanan fisik, namun merupakan perjalanan ruhani yang mendalam, sebuah penguatan iman di saat hati Rasulullah tengah diselimuti duka.

Perjalanan ini dimulai pada malam yang sunyi, ketika kesedihan meliputi Rasulullah ﷺ setelah wafatnya istri tercinta, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib. Dari Masjidil Haram, beliau diperjalankan secara ajaib (Isra) menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis. Bayangkanlah kegelapan malam yang dipecah oleh kecepatan cahaya, melewati dataran, lautan, dan langit. Dalam riwayat, beliau menunggangi Buraq, makhluk yang lebih cepat dari kilat, sebuah kendaraan yang hanya bisa dipahami oleh kehendak Ilahi. Kedatangan beliau di Al-Aqsa adalah titik transisi, tempat beliau bertemu dengan para nabi pendahulu, shalat bersama mereka, dan mempersiapkan diri untuk tangga spiritual tertinggi.

Tangga Menuju Sidratul Muntaha (Mi'raj)

Setelah Isra, sampailah saatnya Mi'raj—kenaikan vertikal menuju langit-langit alam semesta. Ini adalah bagian yang paling mengagumkan dan sarat hikmah. Nabi Muhammad ﷺ menaiki tangga surgawi, melintasi tujuh lapisan langit. Di setiap lapisan, beliau bertemu dengan para Nabi agung yang memberikan penghormatan dan pengakuan atas kedudukan beliau sebagai penutup para rasul. Dari Adam AS di langit pertama, hingga Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh.

Puncak perjalanan ini adalah di Sidratul Muntaha, pohon batas yang melampaui jangkauan pengetahuan makhluk. Di sanalah beliau menerima perintah paling fundamental dalam Islam: kewajiban salat lima waktu. Perintah ini turun langsung dari Allah SWT, tanpa perantara malaikat Jibril lagi. Ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di hadapan Pencipta, sebuah kehormatan yang tak tertandingi.

Pelajaran yang Dibawa Kembali

Ketika Rasulullah ﷺ kembali ke Mekah sebelum subuh, beliau membawa pulang bukan hanya kewajiban salat, tetapi juga pemahaman mendalam tentang hakikat alam gaib dan kebesaran Allah. Ketika beliau menceritakan perjalanannya, banyak orang yang ragu, bahkan mencemooh. Abu Jahal dan kaum Quraisy menganggapnya sebagai kegilaan belaka. Namun, di tengah keraguan itu, muncul Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang langsung membenarkan tanpa bertanya, seraya berkata, "Jika Muhammad mengatakannya, maka itu benar." Keimanan Abu Bakar inilah yang mengukuhkan gelar Ash-Shiddiq (Yang Membenarkan).

Kisah Isra Mi'raj mengajarkan kita bahwa mukjizat sejati seringkali tidak hanya tentang hal-hal yang terlihat mata, tetapi tentang ujian keimanan. Ia menguatkan keyakinan bahwa di balik kesulitan duniawi, terdapat janji Ilahi yang jauh lebih besar. Salat yang kita tunaikan setiap hari adalah pengingat konstan akan peristiwa agung ini, seolah-olah kita ikut menapaki tangga menuju hadirat Ilahi setiap kali kita bersujud.

Saudaraku, marilah kita jadikan kisah ini sebagai pelita dalam kegelapan dunia. Ingatlah bahwa bahkan ketika bumi terasa sempit, Allah telah menyediakan ruang tak terbatas di atas sana. Perjalanan spiritual Rasulullah ﷺ adalah peta jalan bagi kita untuk terus mendaki, membersihkan hati, dan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Semoga kita selalu termasuk golongan yang membenarkan dan mengamalkan hikmah dari Isra Mi'raj.

🏠 Homepage