Surat yang Menceritakan tentang Perjalanan Isra Mi'raj Agung

Ilustrasi Bintang dan Masjid Al-Aqsa Simbol bulan sabit, bintang, dan siluet masjid yang merepresentasikan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW.

Kepada saudaraku yang dirahmati Allah di mana pun engkau berada, aku menulis surat ini dengan hati yang penuh kerinduan dan rasa takjub akan kebesaran-Nya. Surat ini kupersembahkan untuk merefleksikan kembali salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah risalah Islam: perjalanan suci Isra Mi'raj yang dialami oleh junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Bayangkanlah, wahai saudaraku, malam itu datang dengan keheningan yang pekat. Di tengah kesendirian dan ujian dakwah yang terus menghadang, Allah SWT memilih hamba-Nya yang paling mulia untuk diangkat derajatnya melampaui batas-batas pemahaman manusiawi. Perjalanan ini bukanlah sekadar mimpi atau dongeng; ia adalah manifestasi nyata dari kebenaran risalah yang dibawa beliau.

Perhentian Pertama: Dari Masjidil Haram ke Al-Aqsa (Isra)

Isra, perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis (Yerusalem), adalah sebuah mukjizat transportasi spiritual dan fisik. Diceritakan bahwa Jibril Alaihissalam mendatangi beliau saat sedang beristirahat, membelah dada beliau (untuk membersihkan hati), kemudian menunggangi Buraq, makhluk yang lebih cepat dari kilat, menuju tempat suci ketiga umat Islam.

Di Al-Aqsa, terjadi sebuah penyatuan yang luar biasa. Nabi Muhammad SAW menjadi imam shalat bagi roh para nabi terdahulu. Kehadiran beliau di sana menegaskan estafet kenabian, di mana Islam adalah puncak dan penyempurnaan ajaran yang dibawa oleh Musa, Isa, Ibrahim, dan nabi-nabi lainnya. Al-Aqsa menjadi saksi bisu bahwa beliau adalah Nabi penutup, pemimpin segenap rasul.

Puncak Kenabian: Naik Menuju Sidratul Muntaha (Mi'raj)

Setelah shalat, dimulailah Mi'raj, kenaikan ke langit. Perjalanan ini melintasi lapisan-lapisan langit, di mana di setiap lapisan, Nabi bertemu dengan nabi-nabi terdahulu yang menyambut dan membenarkan kenabian beliau. Ini adalah pengakuan kosmik atas kedudukan agung beliau.

Puncak dari perjalanan ini adalah ketika beliau mencapai Sidratul Muntaha, batas akhir yang tidak pernah dilampaui oleh siapapun sebelumnya. Di sana, tanpa perantara, beliau diwajibkan untuk menerima perintah fundamental bagi umat Islam: perintah shalat lima waktu. Ini menunjukkan betapa intimnya hubungan beliau dengan Sang Pencipta dan betapa sentralnya shalat sebagai tiang agama. Momen inilah yang menjadi penegasan bahwa ibadah ritual kita adalah buah langsung dari perjumpaan ilahi tersebut.

Makna dan Pelajaran yang Terkandung

Saudaraku, surat ini mengajak kita merenungkan. Isra Mi'raj mengajarkan kepada kita tentang pentingnya **keteguhan hati (sabat)** di tengah kesulitan, sebagaimana Nabi menghadapi penolakan kaumnya sebelum diangkat. Ia juga mengajarkan tentang **prioritas ibadah**. Ketika Allah ingin memberikan kemuliaan, Dia tidak memberikannya dalam bentuk harta dunia, melainkan dalam bentuk perintah ibadah yang mendekatkan hamba kepada-Nya.

Peristiwa ini memberikan penghiburan spiritual yang tak ternilai. Setelah mengalami kesedihan mendalam (Amul Huzn—tahun kesedihan karena wafatnya Abu Thalib dan Khadijah), Allah mengangkat derajat Nabi-Nya untuk menyegarkan kembali semangat risalah. Bagi kita, ini adalah pengingat bahwa setelah badai kesulitan, pasti akan datang ketenangan dan kemenangan, asalkan kita tetap menjaga tali shalat kita dengan khusyuk.

Mari kita jadikan peringatan Isra Mi'raj bukan hanya sebagai tradisi seremonial, tetapi sebagai momentum introspeksi untuk meningkatkan kualitas shalat kita. Karena dari perjalanan suci itulah, kita memperoleh pedoman hidup yang paling hakiki. Semoga kita semua mampu meneladani ketabahan dan keikhlasan beliau dalam menjalani setiap ujian.

Salam ukhuwah dari seorang perenung yang mengharap syafaat beliau.
🏠 Homepage