Menelusuri Makna Mendalam: Tafsir Ayat Isra Mi'raj

Perjalanan Spiritual

Ilustrasi perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW.

Pengantar Isra Mi'raj dalam Perspektif Al-Qur'an

Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, yang secara fundamental meneguhkan kedudukan beliau sebagai utusan Allah. Peristiwa ini terbagi menjadi dua bagian: Isra, yaitu perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Mi'raj, yaitu perjalanan vertikal dari Al-Aqsa naik ke Sidratul Muntaha, melampaui batas-batas pemahaman manusia.

Tafsir ayat-ayat yang berkaitan dengan peristiwa ini menjadi krusial untuk memahami kedalaman spiritual dan dimensi keesaan Allah yang ditunjukkan. Sumber utama tafsir ini terbagi antara penegasan singkat dalam Al-Qur'an dan penjelasan detail dalam hadis-hadis shahih. Ayat inti yang menjadi landasan adalah firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra’ (Bani Israil) ayat 1:

"Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra’: 1)

Tafsir Ayat Isra: Perjalanan Fisik dan Spiritual

Kata "Isra" secara harfiah berarti perjalanan di malam hari. Para mufassir sepakat bahwa perjalanan ini terjadi dalam satu malam, dimulai setelah Nabi SAW selesai menunaikan salat Isya. Tafsir ayat ini menyoroti beberapa poin penting:

Tafsir modern sering mengaitkan peristiwa Isra ini dengan kemampuan Nabi SAW untuk menembus batas ruang dan waktu, sebuah konsep yang, meskipun kontroversial bagi sebagian pemikiran rasionalistik, mutlak diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah berdasarkan keniscayaan wahyu.

Tafsir Ayat Mi'raj: Puncak Kedekatan dengan Pencipta

Sementara Surah Al-Isra’ ayat 1 hanya menyebutkan Isra (perjalanan malam), bagian Mi'raj (kenaikan ke langit) dijelaskan lebih lanjut dalam Surah An-Najm ayat 13 hingga 18. Mi'raj adalah dimensi vertikal yang membawa Nabi SAW melampaui tujuh lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha.

Ayat-ayat dalam An-Najm menjelaskan momen puncak kedekatan ini:

"Dan sungguh (Muhammad) telah melihat Jibril itu (pada wujud aslinya) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada Surga Ma’wa. (Ingatlah) ketika langit tertutup oleh sesuatu yang meliputinya, dan pemandangan itu tidak berpaling dari (apa yang dilihatnya) dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar." (QS. An-Najm: 13-18)

Tafsir mengenai Mi'raj menekankan:

  1. Kunjungan kepada Jibril: Nabi SAW melihat Jibril dalam bentuk aslinya di Sidratul Muntaha, menunjukkan bahwa Jibril hanyalah perantara yang memiliki batasan, sementara Nabi adalah penerima wahyu langsung dari Allah SWT.
  2. Pemberian Salat Wajib: Hikmah utama Mi'raj, sebagaimana dijelaskan dalam hadis, adalah penerimaan perintah salat lima waktu secara langsung tanpa perantara. Ini membedakan ibadah salat dari ibadah-ibadah umat terdahulu.
  3. Batasan Penglihatan: Frasa "pemandangan itu tidak berpaling dan tidak pula melampauinya" mengindikasikan bahwa apa yang dilihat Nabi SAW adalah batas maksimum yang diizinkan bagi makhluk untuk melihat keagungan Allah, menegaskan kemahakuasaan Ilahi yang tak terjangkau oleh ciptaan.

Pelajaran Spiritualitas dari Tafsir Isra Mi'raj

Tafsir ayat Isra Mi'raj tidak hanya bersifat naratif sejarah, tetapi juga mengandung pelajaran sufistik dan teologis yang mendalam. Peristiwa ini mengajarkan bahwa spiritualitas sejati membutuhkan perjalanan (Isra) yang dimulai dari kesadaran duniawi menuju kesucian tempat suci (Al-Aqsa), diikuti dengan kenaikan (Mi'raj) menuju kesadaran ketuhanan tertinggi.

Bagi umat Islam, mukjizat ini berfungsi sebagai penguat keyakinan di saat Nabi menghadapi penolakan kaum Quraisy. Ini adalah bukti nyata bahwa di balik penderitaan dakwah terdapat dukungan dan kedekatan Ilahi yang tak terbatas. Dengan demikian, setiap tafsir ayat Isra Mi'raj mengingatkan kita bahwa iman yang teguh mampu mengatasi batas-batas realitas fisik, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.

🏠 Homepage