Tafsir Ibnu Katsir: Surat Al-Isra Ayat 1

Ilustrasi Perjalanan Malam (Isra') Gambaran langit malam, bulan sabit, dan jejak cahaya memanjang melambangkan perjalanan spiritual dan mukjizat. Isra' wal Mi'raj

Surat Al-Isra’ atau yang dikenal juga sebagai Bani Israil adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan makna, sejarah, dan ajaran mendasar. Pembukaannya, ayat pertama, memuat peristiwa agung yang menjadi salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW, yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Mari kita selami makna ayat ini melalui lensa tafsir Ibnu Katsir, seorang ulama besar yang terkenal dengan pendekatan periwayatan hadis dan atsar dalam menjelaskan ayat-ayat suci.

Teks Ayat Pertama Surat Al-Isra

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Penjelasan Ibnu Katsir Mengenai "Subhanalladzi Asra Bi'abdihi"

Imam Ibnu Katsir memulai penjelasannya dengan fokus pada kata pembuka, "Subhanalladzi" (Maha Suci Allah). Kata tasbih ini menunjukkan pengagungan mutlak terhadap Allah SWT. Peristiwa yang dijelaskan setelahnya adalah sebuah peristiwa luar biasa, hanya mungkin terjadi melalui kekuasaan Ilahi yang sempurna. Menjajarkan pujian (tasbih) di awal menunjukkan bahwa peristiwa Isra' ini adalah manifestasi dari kesempurnaan Allah, bukan sekadar perjalanan fisik biasa.

Frasa "Asra Bi'abdihi" (Memperjalankan Hamba-Nya) menegaskan status Nabi Muhammad ﷺ sebagai hamba Allah. Ibnu Katsir menekankan bahwa beliau diperjalankan oleh Allah (bukan berjalan sendiri atau diperjalankan oleh makhluk lain secara independen), menegaskan keikhlasan dan ketundukan Nabi sebagai seorang 'abd (hamba). Penggunaan kata 'abd' ini sangat penting karena menyoroti posisi Nabi sebagai teladan tertinggi dalam perbudakan (pengabdian) kepada Rabb-nya.

Perjalanan Malam: Dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perjalanan ini terjadi pada "Lailan" (suatu malam). Mayoritas ulama tafsir, termasuk Ibnu Katsir, berpegang pada pendapat bahwa Isra’ (perjalanan malam) ini adalah perjalanan fisik, dari Mekkah (Al-Masjidilharam) menuju Yerusalem (Al-Masjidil Aqsa). Perjalanan ini dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, sebuah mustahil bagi perjalanan manusia normal, yang membuktikan kebenaran firman Allah.

Tujuan pertama adalah Al-Masjidil Aqsa. Ibnu Katsir mengutip berbagai riwayat yang menegaskan bahwa perjalanan ini adalah bagian dari bukti kenabian. Masjidil Aqsa sendiri diberkahi oleh Allah di sekelilingnya. Keberkahan ini bukan hanya pada bangunannya tetapi juga pada tanah suci tersebut, tempat di mana banyak nabi terdahulu diutus dan tempat di mana Nabi Muhammad ﷺ melanjutkan perjalanan ke langit (Mi'raj).

Tujuan Isra' dan Mi'raj: Melihat Tanda-Tanda Kebesaran-Nya

Ayat tersebut menyimpulkan tujuan perjalanan ini: "Li-nuriya min āyātinā" (Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami). Ibnu Katsir menafsirkan bahwa ayat ini secara spesifik merujuk pada Isra', namun banyak riwayat yang menggabungkannya dengan Mi'raj (kenaikan ke langit). Tanda-tanda kebesaran yang diperlihatkan mencakup pemandangan alam semesta, kedudukan para nabi sebelumnya, dan berbagai keajaiban yang hanya dapat disaksikan oleh Rasulullah ﷺ.

Ini menunjukkan bahwa mukjizat bukan sekadar pertunjukan kekuatan, melainkan sarana pendidikan dan penguatan iman. Bagi Nabi, ini adalah peneguhan atas risalahnya; bagi umatnya, ini adalah kebanggaan dan bukti otentisitas kenabian beliau.

Penutup Ayat: As-Sami'ul Bashir

Ayat diakhiri dengan dua sifat agung Allah: "Innahu Huwa As-Samī'ul-Bashīr" (Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyebutan kedua sifat ini di akhir ayat memiliki korelasi langsung dengan peristiwa tersebut. Allah mendengar permohonan Nabi, mendengar ucapan kaum kafir yang meragukannya, dan melihat seluruh perjalanan tersebut secara hakiki. Sifat mendengar dan melihat ini adalah jaminan bahwa setiap ucapan dan perbuatan, sekecil apapun, selalu berada dalam pengawasan dan pengetahuan-Nya yang sempurna. Keagungan perjalanan ini mustahil terjadi tanpa Pengawasan Ilahi yang menyeluruh.

Secara keseluruhan, tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa Surat Al-Isra' ayat 1 adalah fondasi bagi pemahaman kita tentang mukjizat Isra' dan Mi'raj, sekaligus pengingat akan kesempurnaan Allah sebagai Penguasa tunggal yang mampu melakukan apa pun yang Dia kehendaki terhadap hamba-Nya yang terpilih.

🏠 Homepage