Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga mengandung pelajaran spiritual, hukum, dan akidah yang mendalam. Bagi seorang Muslim, memahami tafsir ayat-ayat yang berkaitan adalah kunci untuk mengapresiasi signifikansi kejadian agung ini.
Teks utama yang menjadi dasar penafsiran mengenai Isra Mi'raj terdapat dalam dua sumber utama: Al-Qur'an dan As-Sunnah. Fokus utama dalam Al-Qur'an adalah pada dua ayat kunci yang menjelaskan aspek spiritual dan temporal perjalanan tersebut.
Para mufassir sepakat bahwa Isra merujuk pada perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis (Yerusalem), sementara Mi'raj adalah kenaikan Nabi SAW dari sana menuju sidratul muntaha dan berjumpa dengan Allah SWT.
Ayat pertama dari Surat Al-Isra ini menjadi landasan utama tafsir Isra. Kata kunci di sini adalah "Subhan", yang berarti Maha Suci Allah, menunjukkan keagungan dan kemustahilan peristiwa tersebut jika dilihat dari perspektif alam biasa.
Penggunaan kata "Asra bi 'abdihi" (memperjalankan hamba-Nya) menegaskan bahwa perjalanan ini adalah kehendak dan kuasa penuh dari Allah, bukan upaya Nabi SAW sendiri. Ini juga menegaskan status Nabi Muhammad sebagai 'Abdullah (Hamba Allah).
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan titik awal (Masjidil Haram) dan titik akhir (Masjidil Aqsa). Tafsir menegaskan bahwa perjalanan ini adalah perjalanan fisik yang nyata, melintasi jarak yang sangat jauh dalam satu malam, membuktikan kebenaran kenabian.
Tujuan yang disebutkan adalah "li nuriyahū min āyātinā" (untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami). Tafsir menunjukkan bahwa aspek terpenting dari Isra adalah pembelajaran (riyah) dan penguatan iman, yang berpuncak pada Mi'raj.
Sementara Surat Al-Isra menjelaskan Isra, bagian Mi'raj (kenaikan) dijelaskan secara rinci dalam Surat An-Najm, yang berfokus pada puncak pertemuan Nabi dengan alam malakut (alam gaib).
Ayat ini menguatkan bahwa Nabi melihat Jibril dalam wujud aslinya untuk kedua kalinya di "Sidratul Muntaha" (Pohon Teratai Terakhir). Tafsir dari para ulama seperti Al-Qurtubi menjelaskan bahwa tempat ini adalah batas akhir di mana tidak ada seorang pun malaikat yang diizinkan melewatinya, menandakan kedekatan yang belum pernah dicapai makhluk lain.
"Maa zaaghal basharu wamaa taghaa" (pandangannya tidak berpaling dan tidak melampaui batas). Ini adalah pelajaran akidah terbesar. Walaupun menyaksikan keagungan yang luar biasa, pandangan dan hati Nabi SAW tetap stabil, terkontrol, dan patuh pada batas yang ditetapkan Allah.
Kesimpulan dari perjalanan Mi'raj adalah penegasan bahwa Nabi SAW telah menyaksikan "Ayat-Ayat Tuhan yang paling besar" (Al-Kubra). Bagi para mufassir, ini meliputi pemandangan surga dan neraka, sifat-sifat Allah yang terjelaskan secara langsung, serta penerimaan perintah Shalat lima waktu, yang merupakan tiang agama.
Tafsir terhadap ayat-ayat Isra Mi'raj memberikan landasan teologis yang kuat: