Inti dari Surah Al-Isra Ayat 36
Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak sekali pedoman etika dalam berinteraksi sosial, salah satunya adalah pentingnya pertanggungjawaban atas setiap ucapan yang keluar dari lisan kita. Hal ini ditegaskan secara spesifik dalam Surah Al-Isra ayat 36. Ayat ini merupakan peringatan keras dari Allah SWT kepada manusia agar tidak terburu-buru dalam berbicara, bersaksi, atau membuat pernyataan tanpa landasan pengetahuan yang kuat.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36)
Larangan Mengikuti Sesuatu Tanpa Ilmu (Wa La Taqfu...)
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ" (Wa la taqfu ma laysa laka bihi 'ilm), yang secara harfiah berarti "Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya." Para mufassir menjelaskan bahwa kata "taqfu" (mengikuti) di sini memiliki makna yang luas, meliputi:
- Berbicara Tanpa Bukti: Peringatan utama adalah larangan mengutarakan pendapat, menghakimi, atau memberikan kesaksian (syahadah) mengenai suatu perkara yang belum terverifikasi kebenarannya. Ini mencegah penyebaran fitnah, rumor, atau dusta yang didasarkan pada dugaan semata.
- Mengikuti Keyakinan Buta: Ayat ini juga melarang mengikuti keyakinan atau tradisi orang lain secara membabi buta (taqlid jamid) tanpa proses penelitian dan pemahaman yang benar. Jika suatu ajaran atau tradisi bertentangan dengan kebenaran yang telah diketahui, maka mengikutinya adalah mengikuti sesuatu yang tidak berdasar ilmu.
- Perbuatan yang Diduga Salah: Meskipun konteksnya sangat kuat pada ucapan, larangan ini juga mencakup perbuatan yang dilakukan berdasarkan asumsi atau spekulasi yang belum teruji kebaikannya.
Pertanggungjawaban Organ Indera dan Hati
Ayat 36 diakhiri dengan penekanan bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban penuh atas tiga aset krusial yang dimiliki manusia: pendengaran (as-sam’u), penglihatan (al-basharu), dan hati (al-fu’aadu). Ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar diperoleh melalui proses terintegrasi:
- Pendengaran: Apa yang telah kita dengar dan terima sebagai informasi. Apakah kita menyaringnya dari sumber yang kredibel?
- Penglihatan: Apa yang telah kita saksikan dan lihat. Apakah mata kita digunakan untuk mencari kebenaran atau untuk mengamati keburukan tanpa filter moral?
- Hati (Fu'ad): Akal dan perasaan yang memproses data dari pendengaran dan penglihatan. Hati adalah tempat pengambilan keputusan. Apakah ia digunakan untuk menimbang dengan adil atau didorong oleh hawa nafsu?
Setiap informasi yang masuk melalui indra dan diproses oleh hati akan dihisab. Jika seseorang berbicara atas dasar informasi yang ia peroleh secara valid (melalui pendengaran dan penglihatan yang benar) dan diproses oleh hati yang lurus, maka ia aman. Namun, jika ia berbicara tanpa ilmu—yaitu tanpa validasi indra atau dengan membiarkan hatinya keliru—maka ia pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kesalahannya.
Relevansi Kontemporer
Di era digital saat ini, Surah Al-Isra ayat 36 menjadi semakin vital. Penyebaran informasi yang sangat cepat melalui media sosial telah membuat batas antara fakta dan opini menjadi kabur. Banyak orang tanpa ragu menyebarkan berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, atau tuduhan serius hanya berdasarkan judul atau potongan informasi yang mereka terima.
Ayat ini mengajarkan kita prinsip dasar literasi digital dan etika berkomunikasi: Verifikasi sebelum Menyebar. Islam mewajibkan integritas intelektual. Sebelum kita bertindak, sebelum kita bersaksi, dan terutama sebelum kita berbicara di depan publik (sekecil apa pun), kita harus memastikan bahwa apa yang kita sampaikan adalah benar dan didukung oleh bukti yang kuat, bukan sekadar asumsi, kebencian, atau ikut-ikutan semata. Menghindari ucapan tanpa ilmu adalah bentuk ketaatan tertinggi kepada Allah dan upaya menjaga kedamaian sosial.