Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam diutus ke muka bumi bukan hanya membawa risalah syariat, tetapi juga untuk menjadi teladan paripurna (uswatun hasanah) dalam setiap aspek kehidupan. Gambaran akhlak beliau adalah cerminan sempurna dari ajaran Islam itu sendiri. Ibunda Aisyah RA pernah berkata, "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." Ini menunjukkan bahwa tingkah laku, ucapan, dan perilakunya selaras sepenuhnya dengan wahyu ilahi.
Kejujuran dan Amanah (As-Shidiq dan Al-Amin)
Sebelum diangkat menjadi rasul, Muhammad SAW telah dikenal luas di Mekkah dengan dua gelar mulia: As-Shidiq (yang selalu berkata benar) dan Al-Amin (yang terpercaya). Kejujuran beliau bukanlah sekadar kebiasaan, melainkan pondasi karakter yang tidak pernah goyah, bahkan ketika menghadapi tantangan terbesar dalam dakwah. Beliau tidak pernah berdusta, bahkan dalam urusan sepele sekalipun. Sifat amanah ini menuntut integritas total; beliau menjaga titipan harta orang lain sebagaimana beliau menjaga amanah risalah yang dibebankan kepadanya. Inilah bukti bahwa akhlak mulia adalah konsisten, baik dalam keadaan senang maupun susah.
Rahmat dan Kasih Sayang Universal
Salah satu aspek paling menonjol dari akhlak Rasulullah adalah rahmat yang meluas tanpa batas. Allah SWT menggambarkannya dalam Al-Qur'an: "Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil 'Alamin)." Kasih sayang ini tidak hanya ditujukan kepada umat Islam, tetapi juga kepada non-Muslim, anak-anak, orang tua, bahkan kepada makhluk hidup lainnya. Beliau sangat penyayang kepada para sahabat, selalu memprioritaskan kemudahan bagi umatnya, dan menunjukkan empati mendalam terhadap penderitaan orang lain. Ketika diperlakukan kasar oleh musuh, respons beliau seringkali adalah doa agar mereka diberi petunjuk, bukan pembalasan setimpal.
Kerendahan Hati (Tawadhu') yang Luar Biasa
Meskipun memiliki kedudukan tertinggi sebagai utusan Allah, kerendahan hati Nabi Muhammad SAW tetap menakjubkan. Beliau menolak segala bentuk pengagungan yang berlebihan. Beliau makan di mana pun makanan itu tersedia, duduk di mana pun ia sampai, dan seringkali menjahit pakaiannya sendiri atau membersihkan rumahnya. Beliau tidak pernah membiarkan pelayannya melakukan pekerjaan yang ia mampu lakukan sendiri. Kerendahan hati ini bukan tanda kelemahan, melainkan puncak kekuatan spiritual yang membebaskan diri dari ego dan kesombongan duniawi. Ia mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah diukur dari takwa, bukan dari status sosial atau kekuasaan.
Kesabaran dan Keteguhan dalam Ujian
Perjalanan dakwah Rasulullah penuh dengan penolakan, penganiayaan fisik, dan pemboikotan ekonomi. Namun, kesabarannya (sabr) teruji secara konsisten. Dalam menghadapi kaum Quraisy yang terus-menerus menghalanginya, beliau memilih pendekatan persuasif yang didukung keteguhan iman yang tak tergoyahkan. Kesabaran beliau bukan berarti pasrah, melainkan sebuah strategi spiritual untuk menghadapi kesulitan dengan tenang, menjaga keseimbangan emosi, dan terus berpegang teguh pada tujuan ilahi. Keteguhan ini menjadikannya pemimpin yang mampu menenangkan dan menguatkan pengikutnya di tengah badai ujian.
Sikap Terhadap Keluarga dan Sosial
Di lingkungan domestiknya, Rasulullah SAW adalah suami dan ayah yang penuh kasih sayang dan adil. Beliau sangat menghargai peran perempuan dan mengangkat derajat mereka dari kondisi jahiliah. Beliau terkenal sangat hormat kepada orang yang lebih tua dan sangat lembut kepada yang muda. Dalam interaksi sosial, beliau selalu memulai salam, menerima undangan siapa pun (tanpa memandang status), dan sangat menjaga perasaan orang lain sehingga tidak ada seorang pun yang merasa diabaikan kehadirannya. Akhlak sosialnya mengajarkan pentingnya inklusivitas dan penghormatan timbal balik dalam komunitas.
Secara keseluruhan, gambaran akhlak Rasulullah SAW adalah perpaduan sempurna antara ketelitian menjalankan ibadah vertikal kepada Allah (taqwa) dan kesempurnaan dalam berinteraksi horizontal dengan sesama manusia dan alam (muamalah). Beliau adalah standar emas moralitas, di mana setiap Muslim dan kemanusiaan diajak untuk meneladaninya agar dapat mencapai kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat.