Surat Al-Maidah (السورة المائدة) adalah surat ke-5 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Nama surat ini diambil dari kisah mukjizat yang diceritakan di ayat 112 hingga 115, yaitu permintaan para pengikut Nabi Isa Al-Masih (Hawariyyin) kepada Nabi Isa agar diturunkan hidangan (ma'idah) dari langit. Surat Al-Maidah tergolong dalam kelompok Madaniyah, diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, dan mengandung banyak sekali kaidah hukum Islam yang penting.
Mempelajari terjemahan Al-Maidah sangat krusial karena ayat-ayatnya mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari hukum makanan (halal dan haram), hukum jinayat (pidana), hingga masalah perjanjian dan hubungan antar umat beragama. Pemahaman yang mendalam terhadap terjemahan akan membantu seorang Muslim mengaplikasikan ajaran Islam secara utuh.
Ayat-ayat dalam Al-Maidah seringkali berkaitan dengan penetapan hukum yang spesifik. Misalnya, ayat-ayat mengenai larangan memakan bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah (QS. Al-Maidah: 3). Tanpa pemahaman yang akurat dari terjemahan, umat Islam berisiko salah dalam menafsirkan batasan-batasan syariat.
Lebih jauh lagi, surat ini menegaskan prinsip keadilan yang fundamental, seperti firman Allah: "Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Maidah: 8). Terjemahan yang tepat membawa kita pada pemahaman bahwa keadilan harus diterapkan tanpa memandang afiliasi kelompok atau permusuhan pribadi.
Surat Al-Maidah juga kaya akan pembahasan mengenai hubungan dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ayat-ayat ini memberikan panduan tentang interaksi sosial, batasan pernikahan, dan cara berdialog. Ayat 53, misalnya, membahas bagaimana sebagian Ahli Kitab menolak untuk beriman sepenuhnya kepada Nabi Muhammad SAW.
Namun, surat ini juga menekankan pluralisme dan penghormatan terhadap keyakinan lain selama tidak melanggar prinsip dasar tauhid. Ayat 48 menegaskan bahwa bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat (jalan dan hukum) dan metodologi tertentu. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Bagi Allah jualah kalian semua akan dikembalikan, lalu Dia akan memberitakan kepadamu perbedaan-perbedaan yang dahulu kalian perselisihkan. Ayat ini menjadi landasan penting dalam memahami bahwa Islam menghargai keragaman dalam praktik ibadah, namun menekankan kesatuan tujuan akhir, yaitu ketaatan kepada Tuhan. Oleh karena itu, mengkaji terjemahan Al-Maidah adalah upaya untuk memahami spektrum penuh ajaran Islam, baik dalam ranah ritual pribadi maupun interaksi sosial-politik.
Surat Al-Maidah adalah kompendium hukum dan etika Islam yang komprehensif. Setiap terjemahan yang diakses harus dibaca dengan niat untuk mengamalkan, bukan sekadar mengetahui. Dari hukum makanan yang rinci, aturan peradilan yang tegas, hingga pesan universal tentang keadilan dan toleransi, surat ini menuntut perhatian penuh dari setiap Muslim yang mendalaminya. Membaca terjemahan secara berkala memastikan bahwa pelajaran-pelajaran berharga dari surat agung ini tidak lekang oleh waktu dan relevan dalam tantangan kontemporer.