Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam yang melibatkan perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), dan kemudian naik ke langit hingga ke Sidratul Muntaha (Mi'raj). Kisah agung ini diabadikan secara ringkas namun mendalam dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Isra. Memahami tulisan Arab Al-Isra bukan sekadar membaca teks kuno, melainkan menghayati keagungan firman Allah yang menceritakan perjalanan spiritual dan fisik Nabi.
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, terdiri dari 111 ayat. Ayat pertama surah inilah yang menjadi landasan utama penceritaan Isra. Keindahan dan kekuatan pesan dalam tulisan Arab Al-Isra ayat pertama ini sangat terasa ketika dibaca dalam konteks aslinya.
Dalam terjemahan bebas, ayat tersebut berbunyi: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Bagi umat Muslim, tulisan Arab Al-Isra membawa dimensi spiritual yang unik. Setiap harakat, titik, dan bentuk huruf memiliki makna historis dan teologis yang mendalam. Seni kaligrafi Arab telah berkembang selama berabad-abad untuk memperindah ayat-ayat suci, dan teks mengenai Isra Mi'raj sering menjadi subjek utama dalam karya seni Islam. Kejelasan dan ketepatan penulisan huruf-huruf Arab (seperti Alif, Sin, Ra, Alif, Shad) sangat krusial untuk menjaga kemurnian makna yang dibawa dari Allah SWT.
Perhatikan bagaimana kata "أَسْرَىٰ" (Asrā - Memperjalankan) dan "لَيْلًۭا" (Lailan - Pada suatu malam) tersusun dalam rangkaian kata. Struktur kalimat dalam bahasa Arab, yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia, memberikan penekanan dramatis pada aspek waktu (malam) dan subjek yang melakukan perjalanan (hamba-Nya). Keindahan tata bahasa ini menjadi bagian tak terpisahkan dari mengapa pembacaan Al-Qur'an selalu terasa khidmat.
Perjalanan Isra tidak hanya sekadar perpindahan fisik dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya; ini adalah validasi ilahi atas kenabian Muhammad SAW di saat beliau sedang mengalami masa-masa sulit (tahun kesedihan). Ayat-ayat yang menceritakan peristiwa ini, yang tertulis indah dalam tulisan Arab Al-Isra, berfungsi sebagai pengingat bahwa di tengah kesulitan, pertolongan dan penguatan dari Allah pasti datang.
Ayat tersebut juga menekankan keagungan Allah dengan frasa "ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ" (yang telah Kami berkahi sekelilingnya). Pemberkahan atas Masjidil Aqsa menunjukkan kedudukan sentralnya dalam sejarah kenabian, menghubungkan rantai para nabi secara geografis. Penekanan pada "Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami" menegaskan bahwa tujuan utama perjalanan tersebut adalah peningkatan ilmu dan keyakinan melalui observasi langsung terhadap kekuasaan Tuhan.
Penutup ayat ini, "إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ" (Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat), adalah penegasan atribut Allah yang sempurna. Setelah menceritakan peristiwa yang sedemikian dahsyat, Al-Qur'an menutupnya dengan mengingatkan pembaca bahwa Allah menyaksikan setiap detail peristiwa tersebut—dari bisikan di Mekkah hingga perjalanan di langit. Ketika kita merenungkan tulisan Arab Al-Isra, kita diingatkan bahwa kita pun selalu berada dalam pengawasan-Nya yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Penguasaan terhadap bentuk tulisan ini membantu memperdalam penghayatan terhadap makna transenden yang terkandung di dalamnya. Ini menjadikan surah ini sumber inspirasi visual dan spiritual yang tak pernah lekang oleh waktu.
— Renungan atas Ayat Kebesaran Ilahi —