Transliterasi: Al-yawma ya'isal-ladhīna kafarū min dīnikum falā takhshawhum wakhshawni. Al-yawma akmaltu lakum dīnakum wa atmamtu 'alaikum ni'matī wa raḍītu lakumul-islāma dīnā. Faman iḍṭurra fī makhmaṣatin ghayra mutajāinifin li'ithmin fa'innallāha ghafūrun raḥīm.
Terjemahan: Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan (dan bukan karena ingin melakukan dosa), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surah Madaniyah yang kaya akan pembahasan hukum dan syariat. Ayat ketiga dari surah ini memegang posisi yang sangat istimewa dalam sejarah Islam. Ayat ini sering disebut sebagai ayat penutup nikmat terbesar dari Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Momen turunnya ayat ini menandai puncak pencapaian dakwah dan tegaknya pilar-pilar utama syariat.
Ayat ini turun pada tahun ke-10 Hijriah, tepatnya saat Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan Haji Wada’ (Haji Perpisahan) di Arafah. Ketika ayat ini diturunkan, Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala telah menurunkan kepada kami satu ayat, dan pada hari Allah menurunkannya, maka hari itu adalah Hari Raya bagi kita." Peristiwa ini mengukuhkan bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ telah mencapai kesempurnaan, tidak ada lagi wahyu yang bersifat fundamental yang akan ditambahkan setelah itu.
Tulisan Arab Al-Maidah Ayat 3 mengandung tiga klausa penting yang saling terkait erat: penegasan kepastian iman, kesempurnaan agama, dan pengecualian darurat.
Bagian awal ayat menyatakan, "Pada hari ini telah putus asa orang-orang kafir dari (rancangan) agamamu, maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku." Ini adalah janji kemenangan spiritual dan ideologis. Setelah agama Islam berdiri tegak dengan syariat yang lengkap, harapan musuh-musuh Islam untuk mematahkan atau mengalahkan Islam secara fundamental menjadi sirna. Ini memberikan penegasan kepada kaum Muslimin untuk tidak lagi merasa gentar terhadap ancaman atau gangguan dari luar.
Klausa inti adalah penegasan Allah: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu." Kata "sempurna" (أَكْمَلْتُ - akmaltu) dan "cukup" (أَتْمَمْتُ - atmamtū) menunjukkan bahwa ajaran Islam, baik akidah, ibadah, maupun muamalah, sudah final dan menyeluruh. Tidak ada kebutuhan untuk mencari pelengkap dari ideologi atau sistem kehidupan lain. Keridhaan Allah terhadap Islam sebagai satu-satunya agama yang diterima merupakan puncak dari segala kenikmatan.
Bagian terakhir ayat menunjukkan sisi rahmat dan kemudahan dalam syariat, yaitu pengecualian bagi yang terpaksa: "Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan (dan bukan karena ingin melakukan dosa), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Ini menekankan bahwa hukum darurat (seperti memakan makanan haram ketika terancam mati kelaparan) diterapkan atas dasar kemaslahatan. Islam adalah agama yang logis, yang menempatkan penjagaan nyawa di atas aturan sekunder, selama niatnya bukan untuk membangkang atau berbuat maksiat secara sengaja. Sifat Ghafur (Maha Pengampun) dan Rahim (Maha Penyayang) menjadi payung bagi kondisi-kondisi yang di luar kendali manusia.
Memahami tulisan Arab Al-Maidah Ayat 3 bukan hanya tentang menghafal teks, tetapi memahami bahwa fondasi ajaran telah kokoh. Kesempurnaan ini menuntut umat Islam untuk menjunjung tinggi syariat yang telah ditetapkan. Ayat ini juga berfungsi sebagai benteng psikologis, mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada jumlah pendukung, melainkan pada validitas dan kelengkapan ajaran yang dibawa. Ketika sebuah sistem telah dinyatakan sempurna oleh Penciptanya, maka kehati-hatian (takwa) harus selalu diterapkan agar tidak melanggar batasan yang telah ditetapkan, kecuali dalam situasi yang benar-benar mendesak dan tanpa niat buruk.
Oleh karena itu, ketika kita membaca ayat ini, kita diingatkan akan komitmen Ilahi atas agama ini dan tanggung jawab kita untuk memelihara kesempurnaan tersebut dalam setiap aspek kehidupan, selalu mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya ketika kita berjuang dalam batasan kemanusiaan.