Ilustrasi Isra (Perjalanan Malam) Sebuah garis melengkung (melambangkan perjalanan malam) dari kiri ke kanan, dengan bintang-bintang kecil dan bulan sabit di atasnya, serta garis dasar yang stabil.

Kajian Mendalam: Tulisan Arab Surat Al-Isra Ayat 1

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, menempati posisi penting dalam Mushaf Al-Qur'an. Ayat pertamanya adalah pembuka yang agung, merangkum salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu peristiwa Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa).

Teks Asli: Tulisan Arab Surat Al-Isra Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Ayat ini singkat namun padat makna, mengandung pujian tertinggi kepada Allah SWT. Memahami setiap kata dalam teks Arabnya adalah kunci untuk membuka lapisan hikmah yang terkandung di dalamnya. Mari kita bedah struktur dan makna filosofis dari rangkaian huruf yang mulia ini.

Struktur dan Makna Per Kata

Ayat ini dimulai dengan kata pujian yang mendahului deskripsi peristiwa. Kata kunci yang harus diperhatikan adalah:

  1. سُبْحَانَ (Subhana): Maha Suci. Ini adalah penegasan kemutlakan Allah dari segala kekurangan, bahkan dari anggapan bahwa peristiwa luar biasa ini terjadi tanpa izin dan kuasa-Nya. Ini adalah bentuk takzim (penghormatan) tertinggi.
  2. الَّذِي أَسْرَىٰ (Alladzi Asra): Yang telah memperjalankan. Kata "Asra" secara harfiah berarti melakukan perjalanan di waktu malam (Isra). Ini membedakannya dari "Sara" (berjalan biasa) dan menegaskan bahwa perjalanan ini adalah sebuah pemindahan yang dilakukan oleh Dzat yang Maha Kuasa.
  3. بِعَبْدِهِ (Bi 'Abdihi): Dengan hamba-Nya. Penggunaan kata "hamba" (Abd) menunjukkan posisi kerendahan hati dan ketaatan Nabi Muhammad SAW, meskipun beliau adalah penerima mukjizat agung. Ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati datang dari status kehambaan kepada Allah.
  4. لَيْلًا (Lailan): Pada malam hari. Penegasan waktu perjalanan ini menggarisbawahi keajaiban waktu pelaksanaan. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu berbulan-bulan diselesaikan dalam satu malam.
  5. مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى: Dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Ini membatasi jarak geografis mukjizat tersebut, menghubungkan dua kiblat utama umat Islam (sebelum perpindahan ke Ka'bah), dan menegaskan kontinuitas risalah kenabian.
  6. الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ (Alladzi Barrakna Hawlahu): Yang Kami berkahi sekitarnya. Ini menunjukkan bahwa Masjid Al-Aqsa (di Baitul Maqdis) bukan sekadar titik transit, melainkan tempat yang telah ditetapkan penuh berkah oleh Allah SWT, menjadikannya penting dalam sejarah kenabian.
  7. لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا (Linuriyahu min Ayatina): Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Tujuan utama dari Isra Mi'raj bukanlah sekadar hiburan atau perjalanan fisik, melainkan demonstrasi kebesaran dan keajaiban Allah kepada Rasul-Nya.
  8. إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (Innahu Huwas-Sami'ul-Bashir): Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Penutup ayat ini menguatkan kembali klausa "Subhana" di awal. Allah Maha Mendengar doa dan pujian hamba-Nya, dan Maha Melihat setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta, termasuk perjalanan agung tersebut.

Konteks Historis dan Hikmah Ayat

Peristiwa Isra Mi'raj (Isra adalah perjalanan malam, Mi'raj adalah kenaikan ke surga) terjadi setelah masa-masa sulit bagi Nabi Muhammad SAW, khususnya setelah ditinggal wafat oleh istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib, serta penolakan keras di Thaif. Ayat ini berfungsi sebagai penghiburan ilahi.

Pertama, ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak meninggalkan Nabi-Nya. Perjalanan ini adalah **penegasan status kenabian** di hadapan Allah, meskipun di hadapan manusia beliau diperlakukan dengan buruk. Dengan diperlihatkannya tanda-tanda kebesaran (seperti melihat surga, neraka, dan tingkatan para nabi), keimanan beliau diperkuat.

Kedua, ayat ini menetapkan **kedudukan sentral Masjid Al-Aqsa** dalam Islam. Pemberkahan yang disebutkan Allah di sekitar masjid tersebut menjadikan Yerusalem dan wilayah sekitarnya sebagai tanah suci yang memiliki koneksi langsung dengan perjalanan suci para nabi. Ini memberikan landasan teologis yang kuat bagi klaim kesucian tempat tersebut.

Singkatnya, Surat Al-Isra ayat 1 adalah deklarasi teologis yang menggabungkan pujian (tasbih), fakta sejarah (perjalanan), tujuan spiritual (melihat ayat), dan penegasan sifat ilahi (Maha Mendengar dan Melihat).

🏠 Homepage