Surah Al Hijr Ayat 94 Beserta Artinya

Perintah Ilahi

Ilustrasi: Ketegasan dalam menyampaikan wahyu.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ
Artinya: Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilahlah termasuk orang-orang yang bersujud.

Konteks dan Kedalaman Makna Surah Al Hijr Ayat 94

Ayat ke-94 dari Surah Al Hijr ini merupakan penutup yang kuat bagi serangkaian perintah dan peringatan yang telah disampaikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, khususnya terkait dengan penolakan kaum musyrik dan tekanan yang mereka berikan. Setelah diperintahkan untuk bersabar dan tidak merasa sedih atas pengingkaran kaumnya, klimaksnya adalah perintah untuk kembali kepada sumber kekuatan sejati, yaitu Allah SWT.

Perintah ini mengandung dua unsur utama: Tashbih (tasbih) dan Sujud (bersujud). Tasbih, yang berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan dan memuji-Nya atas kesempurnaan-Nya, adalah bentuk pengakuan tertinggi atas keesaan dan keagungan-Nya. Ini adalah respons yang tepat ketika menghadapi ujian atau penolakan; alih-alih fokus pada kegagalan komunikasi dengan manusia, fokus dialihkan kepada pemuliaan Sang Pencipta.

Frasa "Fasabbih bihamdi Rabbika" (Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu) menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan harus didasari oleh kesadaran penuh akan nikmat dan kebaikan Allah. Pujian ini bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan manifestasi syukur dari hati yang memahami batasan dirinya di hadapan kebesaran Ilahi.

Makna Bersujud dalam Konteks Ayat

Unsur kedua, "wa kun minas-sajidin" (dan jadilah termasuk orang-orang yang bersujud), menekankan pentingnya kerendahan hati dan kepatuhan total. Sujud adalah puncak ketundukan seorang hamba. Dalam shalat, sujud adalah posisi di mana kening (bagian terhormat dari manusia) menyentuh tanah (simbol kerendahan), menunjukkan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.

Ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi tantangan berat dalam berdakwah, perintah untuk bersujud menjadi jalan keluar spiritual. Ini mengajarkan umatnya bahwa di tengah hiruk pikuk dunia, penenangan jiwa hanya dapat ditemukan dalam ketaatan total kepada Allah. Ayat ini mengingatkan bahwa validitas dakwah dan keberhasilan misi tidak bergantung pada penerimaan manusia, melainkan pada konsistensi seorang hamba dalam menjalankan perintah Tuhannya.

Pelajaran Penting untuk Umat Muslim Kontemporer

Surah Al Hijr ayat 94 ini memiliki relevansi abadi, terutama di era informasi yang sering kali dipenuhi kontroversi dan kritik. Ketika kita merasa tertekan oleh pandangan orang lain atau merasa usaha kita sia-sia, ayat ini memberikan panduan aksi yang jelas: kembali kepada ibadah inti.

Pertama, kita harus selalu menjaga lisannya untuk memuji Allah (Tasbih), mengakui bahwa segala sesuatu, baik dan buruk, berada dalam genggaman dan kebijaksanaan-Nya. Kedua, kita harus memperkuat hubungan kita melalui sujud. Sujud yang khusyuk adalah sumber ketenangan batin yang tidak dapat diganggu gugat oleh faktor eksternal. Ayat ini secara implisit menyatakan bahwa kekuatan sejati seorang mukmin terletak pada kedekatannya dengan Sang Pencipta, bukan pada dukungan atau penerimaan publik.

Proses penegasan iman melalui tasbih dan sujud ini berfungsi sebagai 'reset' spiritual. Ia membersihkan hati dari ego, kesombongan, dan keputusasaan yang mungkin muncul akibat dinamika interaksi sosial atau hambatan dakwah. Dengan demikian, ayat ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap tantangan, jalan menuju kedamaian batin dan keberhasilan hakiki adalah dengan memurnikan niat dan memperkuat ritual pengabdian kepada Allah SWT. Ayat ini menutup bagian kisah para nabi dan kaum mereka dengan penekanan pada jalan lurus yang harus diikuti oleh Rasulullah dan pengikutnya.

Memahami konteks dan makna mendalam dari Surah Al Hijr ayat 94 ini menguatkan pondasi spiritual seorang muslim untuk menghadapi berbagai cobaan hidup dengan keteguhan hati, senantiasa bersyukur, dan selalu merendahkan diri di hadapan keagungan Allah SWT melalui ibadah yang ikhlas.

🏠 Homepage