Ayat ke-110 dari Surah Al-Isra (atau Surah Bani Israil) ini merupakan penutup bagian besar dari surah tersebut, dan mengandung dua pesan utama yang sangat fundamental dalam akidah Islam: keesaan Allah dalam penamaan-Nya dan tata cara ibadah yang moderat. Ayat ini turun di tengah konteks di mana Nabi Muhammad SAW menghadapi berbagai macam tuduhan dari kaum musyrikin, termasuk tuduhan bahwa beliau mengajarkan penyembahan kepada tuhan yang berbeda-beda, atau bahwa beliau terlalu keras dan terlalu pelan dalam berdoa.
Bagian pertama ayat ini, "Katakanlah, 'Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.'" memberikan keleluasaan bagi umat manusia untuk memanggil Allah dengan nama apa pun yang sesuai dengan sifat keagungan-Nya. 'Allah' adalah nama zat ilahi yang paling agung dan spesifik. Sementara itu, 'Ar-Rahman' adalah salah satu dari Asmaul Husna yang menekankan sifat kasih sayang-Nya yang meliputi seluruh makhluk.
Pesan di baliknya adalah bahwa hakikat yang disembah itu satu. Apakah mereka memanggil-Nya dengan nama Allah atau Ar-Rahman (atau nama-nama agung lainnya seperti Al-Khaliq, Al-Malik, Al-Quddus), hakikat yang mereka tuju adalah Tuhan yang sama, Pencipta alam semesta. Frasa selanjutnya, "Nama mana saja yang kamu seru, Dia memiliki Asmaul Husna," memperkuat konsep tauhid dalam penamaan. Allah tidak terbatasi oleh satu nama tertentu; semua nama terbaik adalah milik-Nya. Ini menolak logika politeisme yang sering kali membagi tuhan berdasarkan fungsi spesifik.
Ilustrasi konsep keseimbangan dalam ibadah dan keesaan nama-Nya.
Bagian kedua ayat ini memberikan petunjuk spesifik mengenai cara berinteraksi dengan Allah dalam ibadah formal (shalat) dan non-formal (doa): "dan janganlah engkau mengeraskan shalatmu dan janganlah (pula) merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya."
Latar belakang turunnya ayat ini sering dikaitkan dengan praktik Nabi Muhammad SAW dalam membaca Al-Qur'an. Ketika beliau membaca Al-Qur'an dengan suara keras di malam hari di Masjidil Haram, kaum musyrikin akan berusaha mengganggu bacaannya dan mencegah orang lain mendengarkan seruan tauhid. Di sisi lain, ada pula perintah atau anjuran agar beliau tidak terlalu pelan sehingga pesan dakwah tidak tersampaikan secara efektif.
Oleh karena itu, perintah untuk mencari "jalan tengah" (sabilan wasatan) adalah inti dari ajaran Islam: moderasi.
Jalan tengah yang dicari adalah suara yang terdengar jelas oleh diri sendiri dan orang-orang di sekitar yang membutuhkan petunjuk, namun tetap menjaga ketenangan dan tidak mengganggu. Prinsip moderasi (wasatiyyah) ini adalah ciri khas ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan, tidak hanya dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam muamalah, ekonomi, dan sosial.
Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah harus didasari oleh pemahaman yang benar mengenai siapa Tuhan itu—satu Zat yang memiliki semua nama kebaikan—dan bagaimana cara beribadah yang benar, yaitu dengan keseimbangan dan kesadaran. Keikhlasan lebih utama daripada volume suara. Meskipun Al-Isra ayat 110 berbicara spesifik tentang shalat dan doa, spirit ayat ini meluas ke seluruh aspek kehidupan Muslim. Kita didorong untuk tidak ekstrem dalam bentuk apa pun.
Dalam konteks modern, "jalan tengah" ini relevan dalam menghadapi polarisasi pemikiran. Muslim harus bersikap tegas dalam memegang akidah (tidak goyah pada prinsip tauhid) namun fleksibel dan bijaksana dalam cara menyampaikan pesan (tidak ekstrem dalam metode). Kita menggunakan nama Allah yang paling mulia saat memohon rahmat-Nya, dan kita memastikan bahwa cara kita beribadah mencerminkan ketenangan dan penghambaan sejati, bukan pertunjukan yang mengabaikan etika sosial di sekitar kita. Ini adalah ajaran yang membumi dan universal, menekankan hubungan pribadi yang intim dengan Sang Pencipta tanpa melupakan tanggung jawab terhadap sesama hamba-Nya.