Surat Az-Zalzalah (Kegoncangan) adalah surat ke-99 dalam Al-Qur'an yang menjelaskan secara ringkas namun mendalam tentang hari kiamat dan pertanggungjawaban amal manusia. Dua ayat terakhirnya (ayat 7 dan 8) merupakan inti penekanan mengenai keadilan mutlak Allah SWT.
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ
Ayat 7 dan 8 Surat Az-Zalzalah ini membawa pesan universal tentang akuntabilitas total di hadapan Allah SWT. Kata kunci dalam ayat ini adalah "mitsqala dzarrah" (مِثْقَالَ ذَرَّةٍ), yang secara harfiah berarti seberat atom, atau lebih tepatnya, seberat partikel terkecil yang bisa dibayangkan.
Konsep ini menegaskan bahwa tidak ada satu perbuatan—sekecil apapun—yang terlewat dari catatan malaikat pencatat. Dalam kehidupan duniawi, seringkali kita meremehkan perbuatan kecil. Kita mungkin berpikir, "Ah, sedekah sedikit tidak akan mengubah nasib," atau "Berbohong kecil seperti ini tidak akan dihitung." Namun, Al-Qur'an meluruskan persepsi ini.
Jika kebaikan sekecil debu di mata manusia akan diperlihatkan dan diberi balasan, maka ini adalah sumber optimisme bagi orang-orang yang berusaha istiqomah dalam ketaatan, meskipun terkadang merasa amalnya sedikit. Sebaliknya, bagi mereka yang cenderung melakukan maksiat, ayat ini adalah peringatan keras. Tidak ada kejahatan yang dapat disembunyikan atau dianggap remeh.
Ayat-ayat ini turun setelah gambaran dahsyatnya guncangan bumi pada ayat 1 hingga 6. Keseimbangan antara kengerian kiamat dan kepastian perhitungan amal menunjukkan bahwa tujuan utama kiamat adalah tegaknya keadilan yang sempurna. Bumi yang tadinya menjadi saksi bisu atas segala perbuatan manusia (seperti dijelaskan pada ayat 4), kini menunaikan tugasnya untuk memberitahu segala isinya (ayat 3).
Mengapa rincian sekecil zarrah ini penting? Karena manusia cenderung tidak adil dalam penilaiannya terhadap kebaikan orang lain. Kita sering terkesan pada performa besar, namun melupakan proses dan niat di baliknya. Allah SWT, dengan kesempurnaan ilmu-Nya, menimbang tidak hanya hasil akhirnya, tetapi juga bobot moral dan intensi hati dari setiap tindakan.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa balasan kebaikan akan dilihat sebagai kebaikan, dan balasan keburukan akan dilihat sebagai keburukan. Ini menekankan pentingnya ikhlas (ketulusan). Niat yang tulus dalam perbuatan yang terlihat kecil dapat memiliki bobot yang jauh lebih besar daripada perbuatan besar yang didorong oleh riya’ (ingin dipuji).
Memahami dan merenungkan kandungan Surat Az-Zalzalah ayat 7 dan 8 memiliki implikasi besar pada perilaku seorang Muslim. Pertama, mendorong motivasi untuk berbuat baik. Setiap tindakan kebajikan, sekecil apapun—seperti tersenyum, menyingkirkan duri di jalan, atau mengucapkan kata yang baik—dihitung dan dicatat. Ini membebaskan kita dari beban berpikir bahwa hanya amal besar yang berarti.
Kedua, meningkatkan kehati-hatian (wara') dari perbuatan dosa. Kesadaran bahwa kejahatan terkecil pun akan disajikan akan mendorong seorang mukmin untuk senantiasa menjaga lisan, tangan, dan hati dari hal-hal yang meragukan, apalagi yang jelas-jelas haram. Ini adalah kontrol diri (muhasabah) yang paling efektif, karena pengawasannya adalah Allah sendiri.
Pada akhirnya, ayat-ayat ini adalah janji dan ancaman yang seimbang. Janji bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia, dan ancaman bahwa tidak ada keburukan yang akan terabaikan. Mereka menuntun jiwa manusia untuk hidup dalam kesadaran penuh bahwa kehidupan ini adalah ladang tanam, dan hari kiamat adalah hari panen tanpa ada satu pun butir pun yang hilang atau tertukar.