AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) bukanlah penyakit itu sendiri, melainkan stadium akhir dari infeksi yang disebabkan oleh sebuah agen patogen spesifik. Virus penyebab AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus, atau yang lebih dikenal sebagai HIV.
HIV adalah retrovirus yang memiliki kemampuan unik untuk mengintegrasikan materi genetiknya ke dalam DNA sel inang. Tujuan utama virus ini adalah menyerang dan menghancurkan sel-sel penting dalam sistem kekebalan tubuh manusia, terutama sel T helper (juga dikenal sebagai limfosit T CD4+). Sel T CD4+ berperan sebagai "komandan" yang mengoordinasikan respons imun tubuh terhadap berbagai infeksi dan penyakit. Ketika jumlah sel CD4+ ini terus menurun drastis akibat replikasi HIV, kemampuan tubuh untuk melawan patogen lain menjadi sangat lemah.
Infeksi HIV tidak selalu langsung berujung pada AIDS. Ada periode laten yang panjang, seringkali bertahun-tahun, di mana virus terus bereplikasi secara diam-diam, secara bertahap menggerogoti pertahanan tubuh. Tahap klinis ini disebut Infeksi HIV, dan seseorang bisa hidup bertahun-tahun tanpa menunjukkan gejala signifikan. Namun, tanpa pengobatan antiretroviral (ARV) yang efektif, virus akan terus berkembang biak hingga mencapai titik kritis di mana sistem kekebalan tubuh runtuh.
Proses infeksi HIV sangat terstruktur dan efisien. Pertama, partikel virus (virion) menempel pada reseptor spesifik pada permukaan sel CD4+. Setelah menempel, membran virus menyatu dengan membran sel inang, melepaskan inti virus ke dalam sitoplasma sel. Materi genetik HIV, yang berupa RNA, kemudian diubah menjadi DNA oleh enzim yang dibawa virus, yaitu reverse transcriptase.
DNA virus yang baru terbentuk ini kemudian dibawa masuk ke inti sel dan, dengan bantuan enzim integrase, disisipkan ke dalam genom sel inang. Pada titik ini, sel terinfeksi dan mulai memproduksi komponen-komponen virus baru. Sel CD4+ yang terinfeksi ini kemudian menjadi pabrik penghasil ribuan partikel virus baru yang siap keluar dan menginfeksi sel CD4+ lainnya. Siklus destruktif inilah yang perlahan-lahan mengurangi populasi sel pelindung tubuh.
Penting untuk membedakan antara status terinfeksi HIV dan diagnosis AIDS. Seseorang didiagnosis mengidap AIDS ketika sistem kekebalan tubuh mereka telah rusak parah, yang ditandai dengan salah satu dari dua kondisi utama: hitungan sel CD4+ turun di bawah 200 sel per milimeter kubik darah (bandingkan dengan orang sehat yang biasanya memiliki 500-1500 sel/mm³), atau ketika mereka mengembangkan satu atau lebih infeksi oportunistik yang parah (seperti Pneumocystis pneumonia, sarkoma Kaposi, atau tuberkulosis ekstensif).
Faktanya, berkat kemajuan ilmu kedokteran, penemuan virus penyebab AIDS tidak lagi berarti vonis mati. Terapi Antiretroviral (ARV) yang dikombinasikan kini dapat menekan replikasi HIV secara drastis, membuat jumlah virus dalam darah menjadi tidak terdeteksi (Undetectable Viral Load/UVL). Ketika seseorang hidup dengan UVL, mereka tidak hanya mampu menjaga sistem kekebalan tubuh mereka tetap kuat, tetapi mereka juga tidak dapat menularkan virus kepada pasangannya melalui hubungan seksual (Undetectable = Untransmittable atau U=U).
Penularan HIV terjadi melalui pertukaran cairan tubuh tertentu yang mengandung konsentrasi virus tinggi, yaitu darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, cairan vagina, dan air susu ibu. Cara penularan utama meliputi hubungan seksual tanpa kondom, berbagi jarum suntik (terutama dalam penggunaan narkoba suntik), transfusi darah yang terkontaminasi (sangat jarang terjadi di negara dengan sistem skrining yang ketat), serta penularan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Memahami secara mendalam mengenai virus penyebab AIDS adalah langkah pertama dalam menghilangkan stigma dan meningkatkan kesadaran global. Meskipun belum ada obat yang dapat menghilangkan virus secara total dari tubuh, pengobatan modern memungkinkan individu yang hidup dengan HIV menjalani kehidupan yang panjang, sehat, dan produktif, sejauh mereka rutin mengonsumsi terapi ARV.