Air raksa, atau yang lebih dikenal dengan sebutan merkuri, adalah unsur kimia dengan simbol Hg dan nomor atom 80. Unsur ini unik karena merupakan satu-satunya logam yang berwujud cair pada suhu dan tekanan standar. Meskipun memiliki daya tarik estetika dan kegunaan historis, air raksa adalah zat yang sangat beracun dan menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan manusia serta lingkungan. Pengenalan terhadap sifat-sifatnya, potensi bahayanya, dan cara penanganannya sangat krusial agar kita dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Sifat-sifat Air Raksa
Keunikan air raksa tidak hanya terletak pada wujudnya yang cair. Logam berat ini memiliki beberapa karakteristik penting:
Wujud Cair: Pada suhu kamar, air raksa berbentuk cairan berwarna keperakan yang mengkilap. Sifat ini membuatnya mudah menguap, membentuk uap yang tidak terlihat namun berbahaya.
Volatilitas Tinggi: Air raksa memiliki tekanan uap yang cukup tinggi, artinya ia dapat dengan mudah berubah menjadi gas, bahkan pada suhu ruangan. Uap air raksa inilah yang menjadi jalur paparan utama bagi manusia melalui pernapasan.
Mudah Terbagi: Tetesan air raksa cair cenderung terpecah menjadi tetesan-tetesan yang lebih kecil saat bersentuhan dengan permukaan. Hal ini membuat pembersihannya menjadi sangat sulit dan meningkatkan risiko penyebaran.
Daya Tahan Kimia: Air raksa relatif tidak reaktif dengan banyak zat kimia lain, namun dapat membentuk amalgam dengan logam lain seperti emas, perak, dan tembaga.
Sumber Paparan dan Bahaya Kesehatan
Paparan air raksa dapat terjadi melalui berbagai jalur, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan dampaknya sangat bervariasi tergantung pada bentuk dan tingkat paparan:
1. Merkuri Elementer (Cair):
Sumber utama merkuri elementer adalah dari pecahnya termometer kaca atau lampu hemat energi yang mengandung air raksa. Ketika termometer pecah, tetesan air raksa yang kecil akan menyebar dan menguap. Uap ini sangat beracun jika terhirup.
2. Merkuri Anorganik:
Senyawa merkuri anorganik dapat ditemukan dalam beberapa jenis obat, kosmetik (terutama produk pencerah kulit yang ilegal), dan industri tertentu. Paparan dapat terjadi melalui kontak kulit atau tertelan.
3. Merkuri Organik (Metilmerkuri):
Ini adalah bentuk merkuri yang paling berbahaya bagi manusia. Metilmerkuri terbentuk ketika bakteri di lingkungan (seperti di dasar laut atau sungai) mengubah merkuri anorganik menjadi bentuk organik. Ikan dan hewan laut lainnya, terutama ikan predator besar yang berada di puncak rantai makanan, dapat mengakumulasi metilmerkuri dalam jaringan tubuhnya. Mengonsumsi ikan yang terkontaminasi metilmerkuri adalah jalur paparan paling umum bagi manusia.
Bahaya Kesehatan Utama:
Gangguan Sistem Saraf: Merkuri sangat neurotoksik. Paparan, terutama metilmerkuri, dapat merusak sistem saraf pusat dan tepi, menyebabkan masalah kognitif, gangguan koordinasi, tremor, perubahan suasana hati, dan kesulitan berbicara atau berjalan. Janin dan anak-anak sangat rentan terhadap efek neurotoksik merkuri.
Gangguan Ginjal: Paparan merkuri kronis dapat merusak ginjal.
Masalah Reproduksi: Merkuri dapat mempengaruhi kesuburan dan kesehatan reproduksi, baik pada pria maupun wanita.
Gangguan Perkembangan: Paparan merkuri selama kehamilan dapat menyebabkan cacat lahir, gangguan perkembangan otak, dan masalah perilaku pada anak.
Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh: Merkuri dapat menekan sistem kekebalan tubuh.
Penanganan dan Pencegahan
Mengetahui risiko merkuri sangat penting untuk mengambil langkah pencegahan yang efektif:
1. Saat Termometer Raksa Pecah:
Segera Jauhkan Anak dan Hewan Peliharaan: Pastikan area tersebut aman.
Ventilasi Ruangan: Buka jendela untuk mengalirkan udara keluar. Tutup pintu ruangan agar uap tidak menyebar ke area lain.
Jangan Gunakan Vakum atau Sapu: Ini akan memecah tetesan menjadi bagian yang lebih kecil dan menyebarkan uap.
Kumpulkan Tetesan dengan Hati-hati: Gunakan pipet, kartu kredit, atau selembar kertas tebal untuk mengumpulkan tetesan. Tempatkan dalam wadah kedap udara (misalnya, botol kaca dengan tutup rapat) berisi air.
Bersihkan Sisa Tetesan: Gunakan selotip untuk mengambil sisa-sisa kecil yang mungkin terlewat.
Buang dengan Aman: Wadah berisi merkuri yang sudah terkumpul harus dibuang di tempat pembuangan limbah berbahaya yang ditunjuk oleh pemerintah daerah. Jangan pernah membuangnya ke saluran pembuangan atau tempat sampah biasa.
2. Hindari Produk Berbahaya:
Waspadai kosmetik yang menjanjikan hasil pencerahan kulit instan atau menghilangkan flek hitam. Periksa label dan hindari produk yang mencantumkan "mercury" atau "merkuri" sebagai bahan.
Hindari penggunaan obat-obatan tradisional yang tidak jelas komposisinya.
3. Perhatikan Konsumsi Ikan:
Batasi konsumsi ikan predator besar seperti tuna sirip biru, todak (swordfish), hiu, dan king mackerel, terutama bagi ibu hamil, wanita yang berencana hamil, ibu menyusui, dan anak-anak kecil.
Pilih ikan yang lebih kecil dan rendah merkuri seperti salmon, sarden, teri, atau lele.
4. Pengelolaan Limbah Industri:
Industri yang menggunakan air raksa wajib menerapkan protokol pengelolaan limbah yang ketat untuk mencegah pelepasan ke lingkungan.
Kesimpulan
Air raksa (merkuri) adalah logam yang memikat namun sangat berbahaya. Sifatnya yang cair dan mudah menguap, ditambah dengan toksisitasnya yang tinggi, menjadikannya ancaman serius bagi kesehatan manusia dan ekosistem. Dengan memahami sumber paparan dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat, kita dapat meminimalkan risiko yang terkait dengan unsur berbahaya ini. Kesadaran akan bahaya merkuri, terutama dari sumber seperti termometer pecah dan konsumsi ikan yang terkontaminasi, adalah kunci untuk menjaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan kita.