Akhirnya Aku Lihat Lagi Sederhana

Dunia bergerak begitu cepat. Notifikasi berkedip, email menumpuk, dan tenggat waktu seolah mengejar tanpa henti. Dalam hiruk pikuk modernitas ini, kita sering kali melupakan hal-hal yang paling mendasar, yang sesungguhnya memberikan fondasi ketenangan batin. Beberapa waktu lalu, dalam jeda singkat yang tak terduga, akhirnya aku lihat lagi betapa berharganya kesederhanaan.

Kesederhanaan, dalam konteks ini, bukanlah tentang kekurangan atau kemiskinan, melainkan tentang fokus. Fokus pada esensi. Ketika saya memutuskan untuk mematikan semua notifikasi selama sehari penuh—sebuah tindakan yang terasa seperti revolusi kecil—saya merasakan sebuah kejernihan yang telah lama hilang. Ruangan terasa lebih lega, pikiran terasa lebih lapang. Saya mulai memperhatikan detail-detail kecil yang selama ini tertutupi oleh layar gawai.

Saya ingat duduk di tepi jendela, membiarkan sinar matahari pagi menyentuh kulit. Bukan sekadar "oh, matahari terbit," tetapi benar-benar mengamati bagaimana gradasi warna jingga perlahan digantikan oleh biru langit yang jernih. Ada ritme alam yang konstan, yang tidak peduli seberapa cepat kita mengirim pesan atau seberapa banyak tugas yang belum terselesaikan. Ritme itu selalu ada, menunggu untuk diperhatikan.

Menemukan Keindahan dalam Hal Biasa

Keindahan sederhana seringkali tersembunyi di balik rutinitas yang membosankan. Secangkir kopi yang diseduh perlahan, aroma tanah setelah hujan, atau bahkan suara angin yang bergesekan dengan dedaunan pohon di halaman rumah. Hal-hal ini adalah jangkar kita. Mereka mengingatkan kita bahwa kehidupan sejati terjadi di momen sekarang, bukan di linimasa masa depan yang dipenuhi proyeksi, atau di masa lalu yang penuh penyesalan.

Saya mulai menerapkan prinsip "satu hal pada satu waktu." Ketika makan, saya hanya makan. Ketika berbicara dengan seseorang, saya benar-benar mendengarkan, bukan sambil mengetik balasan di perangkat lain. Perubahan kecil ini memiliki dampak besar. Kualitas interaksi meningkat, dan rasa syukur atas apa yang dimiliki mulai tumbuh subur kembali. Rasa terburu-buru yang kronis itu perlahan memudar.

Ketenangan yang Ditemukan

Visualisasi kesederhanaan dan fokus.

Menyederhanakan Pilihan Hidup

Kesederhanaan juga berarti meninjau kembali apa yang benar-benar penting. Berapa banyak barang yang kita miliki yang sebenarnya tidak menambah nilai? Berapa banyak komitmen yang kita ambil yang hanya menghabiskan energi tanpa memberikan kepuasan sejati? Proses ini bisa menyakitkan—seperti membuang kebiasaan lama—tetapi hasilnya membebaskan.

Saya mulai mengurangi jumlah aplikasi yang memicu kecemasan di ponsel. Saya memilih membaca satu buku fisik daripada berpindah-pindah antara lima tab browser. Saya memilih memasak makanan rumahan daripada memesan makanan cepat saji yang kompleks. Setiap keputusan untuk memilih yang lebih sedikit, yang lebih fokus, adalah langkah mundur menuju kedamaian.

Mengapa kita cenderung mengasosiasikan kesuksesan dengan kompleksitas? Seolah-olah jika hidup kita tidak rumit, kita belum mencapai apa-apa. Inilah ilusi yang dijual oleh budaya konsumerisme. Namun, ketika akhirnya aku lihat lagi bagaimana orang-orang paling bijaksana menjalani hidup mereka—mereka seringkali hidup dengan sangat sedikit beban mental.

Mengadopsi kesederhanaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah latihan harian. Ini adalah komitmen untuk tetap waspada terhadap tarikan hiruk pikuk yang selalu ingin menarik kita kembali ke dalam pusaran kesibukan yang tidak perlu. Untuk saat ini, saya memilih untuk menikmati secangkir teh di bawah langit senja, tanpa perlu mendokumentasikannya atau membagikannya. Keindahan itu cukup ada di mata yang melihat, di hati yang merasa, dan di momen yang sederhana.

🏠 Homepage