Para Nabi dan Rasul Allah adalah utusan pilihan yang membawa risalah ilahi untuk membimbing umat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Salah satu warisan terbesar yang mereka tinggalkan, selain ajaran tauhid, adalah teladan sempurna dalam **akhlak terpuji**. Sungguh, **akhlak terpuji para nabi dan rasul wajib kita** jadikan standar tertinggi dalam berperilaku sehari-hari. Mereka adalah uswatun hasanah, teladan yang baik, yang perilakunya dijamin oleh Allah SWT.
Mengapa akhlak mereka begitu fundamental bagi kehidupan kita? Karena akhlak adalah cerminan keimanan seseorang. Iman yang kuat akan membuahkan karakter yang mulia. Jika kita mengamati sirah (sejarah hidup) mereka, kita akan menemukan benang merah berupa kualitas karakter yang luar biasa, yang relevan hingga detik ini.
Kejujuran (Sidq) sebagai Fondasi Kenabian
Integritas adalah pondasi utama. Nabi Muhammad SAW bahkan sebelum diangkat menjadi rasul telah dikenal sebagai "Al-Amin" (yang terpercaya). Kejujuran ini bukan sekadar tidak berbohong lisan, tetapi mencakup konsistensi antara ucapan, perbuatan, dan niat hati. Ketika kita meneladani sifat sidq, kita membangun kepercayaan dalam hubungan personal, profesional, dan spiritual. Tanpa kejujuran, fondasi moralitas akan rapuh.
Kesabaran (Shabr) dalam Menghadapi Ujian
Setiap nabi diuji dengan cobaan yang luar biasa, mulai dari penolakan kaum, pengasingan, hingga ancaman fisik. Nabi Nuh AS berdakwah ratusan tahun tanpa menyerah. Nabi Ayub AS menghadapi sakit parah dan kehilangan harta. Keteguhan hati mereka mengajarkan bahwa kesabaran adalah kunci untuk bertahan dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Dalam menghadapi tantangan hidup modern, sifat sabar membantu kita menjaga emosi dan membuat keputusan yang bijak.
Kerendahan Hati (Tawadhu) di Puncak Kemuliaan
Meskipun memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah, para nabi senantiasa menunjukkan kerendahan hati. Mereka makan bersama kaumnya, melayani kebutuhan, dan tidak pernah merasa lebih unggul. Kerendahan hati ini menyingkirkan kesombongan dan arogansi. Ketika **akhlak terpuji para nabi dan rasul wajib kita** internalisasi, kita belajar untuk menghormati setiap manusia, terlepas dari status sosial mereka, karena kemuliaan sejati datang dari takwa, bukan jabatan.
Tanggung Jawab dan Amanah
Setiap rasul mengemban amanah dakwah yang sangat berat. Mereka memastikan setiap pesan ilahi tersampaikan tanpa cacat. Sifat bertanggung jawab ini menuntut ketekunan dan dedikasi penuh. Bagi kita umatnya, ini berarti bertanggung jawab penuh atas tugas dan peran yang diberikan Tuhan, baik sebagai hamba, orang tua, pekerja, maupun anggota masyarakat.
Sifat Syaja'ah (Keberanian Moral)
Keberanian yang diajarkan para nabi bukanlah kegaduhan tanpa perhitungan, melainkan keberanian moral untuk menyatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim atau mayoritas yang menyimpang. Nabi Musa AS menghadapi Firaun dengan keberanian yang bersumber dari pertolongan Allah. Keberanian moral inilah yang diperlukan untuk membela keadilan dan kebenaran di tengah arus peradaban yang seringkali mengabaikan nilai-nilai etika luhur.
Penerapan Praktis dalam Kehidupan Modern
Meniru akhlak nabi bukan sekadar menghafal nama-nama sifat baik. Ini adalah proses transformatif:
- Dalam Interaksi Sosial: Menjaga lisan dari ghibah dan fitnah, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
- Dalam Pengelolaan Sumber Daya: Bersikap qana’ah (merasa cukup) dan menghindari sifat tamak, meneladani kesederhanaan hidup para rasul terdahulu.
- Dalam Berdakwah: Menggunakan hikmah dan mauizah hasanah (nasihat yang baik), seperti metode dakwah Nabi Isa AS dan Nabi Ibrahim AS.
Intinya, teladan para Nabi dan Rasul menyediakan cetak biru (blueprint) moral yang sempurna. Jika kita sungguh-sungguh ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, maka mempelajari dan mengaplikasikan **akhlak terpuji para nabi dan rasul wajib kita** jadikan prioritas utama, karena di dalam diri mereka terdapat kunci kesuksesan spiritual sejati. Upaya meneladani mereka adalah ibadah yang bernilai pahala besar.