Surah Al-Hijr, yang juga dikenal sebagai Surah Al-Hijr (Batu Karang), adalah surah yang sarat dengan kisah-kisah peringatan dari umat-umat terdahulu. Salah satu ayat yang paling tegas dan menjadi titik balik dalam kisah kaum Nabi Luth AS adalah ayat ke-27. Ayat ini menceritakan tentang nasib akhir kaum yang durhaka tersebut, menjadi pelajaran abadi tentang konsekuensi penolakan terhadap risalah kenabian dan pelanggaran norma fitrah yang parah.
"Dan orang-orang yang terdahulu sebelum mereka (orang kafir Mekah), (juga telah mendustakan pula), dan telah dibinasakan kaum Nabi Luth."
Ayat 27 ini diletakkan dalam konteks peringatan Allah SWT kepada kaum musyrikin Mekah yang menolak keras kerasulan Nabi Muhammad SAW. Untuk memberikan bobot pada ancaman dan peringatan tersebut, Allah SWT mengingatkan mereka akan kehancuran umat-umat terdahulu yang juga menolak para rasul. Salah satu contoh paling mengerikan dan jelas adalah kisah kaum Nabi Luth (kadang disebut kaum Sodom).
Kaum Nabi Luth terkenal karena perbuatan keji mereka, yaitu melakukan hubungan seksual sesama jenis yang belum pernah dilakukan oleh umat manusia sebelumnya. Nabi Luth AS telah berdakwah siang dan malam, mengingatkan mereka tentang keesaan Allah dan larangan keras atas perbuatan mereka yang melanggar batas (fitrah) yang ditetapkan Allah. Namun, dakwah tersebut disambut dengan penolakan arogan dan bahkan ancaman terhadap Nabi Luth dan tamu-tamunya (malaikat yang menyamar).
Penegasan dalam Al Hijr ayat 27 sangat penting. Ini bukan sekadar penyebutan sejarah, melainkan sebuah validasi bahwa pola penolakan dan penyimpangan moral akan selalu berujung pada kehancuran yang serupa. Bagi kaum kafir Mekah saat itu, ayat ini berfungsi sebagai cermin: jika kalian menolak wahyu seperti kaum Luth menolak Luth, maka azab yang serupa patut kalian nantikan.
Ayat ini menekankan prinsip sunnatullah (hukum Allah yang berlaku universal): tidak ada umat yang diizinkan untuk terus menerus melanggar batas-batas Ilahi tanpa pertanggungjawaban. Kehancuran kaum Luth, yang digambarkan secara detail dalam surah-surah lain (seperti Al-A'raf, Hud, dan Al-Ankabut), adalah manifestasi dari murka Ilahi atas dosa-dosa besar mereka, terutama kekafiran dan penyimpangan seksual yang melampaui batas.
Kisah kaum Nabi Luth yang disinggung dalam Al Hijr 27 mengajarkan beberapa pelajaran fundamental yang relevan sepanjang masa, terutama di era modern yang terkadang kembali mengabaikan batasan-batasan fitrah:
Dengan menempatkan kisah kaum Luth sebagai pengingat, Al Hijr 27 menegaskan bahwa Allah tidak pernah membiarkan kemungkaran yang dilakukan secara terang-terangan tanpa ada akibatnya. Baik itu kehancuran fisik (seperti yang menimpa Sodom dan Gomora) maupun kehancuran moral dan spiritual, konsekuensi pasti mengikuti pelanggaran syariat.
Untuk menggambarkan betapa dahsyatnya keputusan untuk menolak wahyu dan mengikuti hawa nafsu, berikut adalah representasi visual dari kehancuran yang menjadi peringatan:
Ayat Al Hijr 27, meskipun singkat, memberikan pukulan telak bagi mereka yang merasa aman dalam kemaksiatan. Ia menegaskan bahwa kehancuran kaum Nabi Luth adalah fakta sejarah yang harus menjadi pelajaran serius bagi setiap generasi yang hidup setelahnya, khususnya bagi mereka yang mendengar seruan kebenaran.