Dalam Al-Qur'an, surah Al-Hijr memuat kisah-kisah penting mengenai ciptaan, tantangan, dan peringatan ilahi. Salah satu ayat yang sarat makna filosofis mengenai asal-usul manusia adalah Al-Hijr Ayat 33. Ayat ini menjadi tonggak penting dalam memahami perbedaan status antara penciptaan manusia dan penciptaan makhluk lain di alam semesta.
(QS. Al-Hijr: 33)
Iblis berkata, "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk."
Ayat ini merekam dengan jelas penolakan iblis—sebuah penolakan yang lahir dari kesombongan dan rasa superioritas. Ketika Allah memerintahkan para malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Adam setelah penciptaannya, Iblis menjawab dengan penolakan yang lugas. Ia merendahkan martabat Adam, mendasarkan argumennya pada bahan dasar penciptaannya: tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam.
Bagi iblis, yang diciptakan dari api—sesuatu yang secara kasat mata lebih "mulia" dan panas—perintah untuk bersujud kepada makhluk yang berasal dari materi padat, dingin, dan relatif rendah (tanah) adalah sebuah penghinaan yang tidak dapat ia terima. Penolakan ini bukan sekadar pembangkangan teknis; ini adalah pemberontakan ideologis terhadap takdir dan pilihan Allah.
Kisah Al-Hijr Ayat 33 mengajarkan kita pelajaran fundamental mengenai penciptaan dan eksistensi. Meskipun manusia diciptakan dari materi yang dianggap rendah (tanah), ia mendapatkan kemuliaan yang jauh melampaui iblis. Kemuliaan itu bukan terletak pada unsur dasarnya, melainkan pada tiupan ruh (nafas kehidupan) dari Allah dan kemampuan untuk memegang sifat-sifat ilahi seperti ilmu pengetahuan dan kehendak bebas.
Tanah adalah simbol stabilitas, ketekunan, dan kemampuan untuk menumbuhkan kebaikan. Manusia, meskipun rentan dan fana seperti tanah, memiliki potensi tak terbatas untuk menjadi khalifah di bumi. Sebaliknya, iblis, yang bangga dengan asal apinya, terperangkap dalam sifatnya yang membakar, cepat marah, dan ingin menghancurkan.
Dalam perspektif tasawuf, tanah melambangkan keberadaan fisik dan kebutuhan duniawi, sementara api iblis melambangkan hawa nafsu yang tidak terkendali. Kemampuan manusia untuk membumi (rendah hati seperti tanah) sambil merasakan ruh ilahi adalah keistimewaan yang membuat Adam lebih mulia daripada malaikat yang diciptakan murni dari cahaya namun tidak memiliki kehendak bebas untuk memilih kebaikan di tengah godaan.
Penolakan Iblis menjadi cetak biru bagi semua bentuk kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran. Setiap kali seseorang merasa dirinya lebih baik dari orang lain berdasarkan status, kekayaan, atau asal usul—sebuah cerminan dari pikiran iblis—ia sedang menempuh jalan yang sama.
Ayat ini mengingatkan umat Islam bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan dan kepatuhan, bukan komposisi fisik semata. Manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik (Ahsan Taqwiim), namun potensi kejatuhannya juga besar jika ia melupakan dari mana ia berasal dan kepada siapa ia akan kembali.
Oleh karena itu, merenungkan Al-Hijr Ayat 33 adalah undangan untuk senantiasa bersyukur atas anugerah keberadaan dan berhati-hati agar kesombongan tidak menutupi mata hati kita dari kebenaran yang diwahyukan. Kita harus menghargai kemanusiaan kita, menyadari kerapuhannya (tanah liat), namun bangga akan kemuliaan yang diberikan Allah (tiupan ruh).