Dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur'an, setiap ayat membawa bobot hikmah dan pelajaran yang mendalam bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi bahan perenungan adalah firman Allah SWT dalam surah Al-Hijr, yaitu ayat ke-85. Fokus kita kali ini adalah memahami makna esensial dari Al-Hijr ayat 85.
"Fasbir shabran jamiila, inna wa'dal laahi haqqun..."
(Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik, sesungguhnya janji Allah itu benar...)
Pentingnya Kesabaran yang Indah (Shabran Jamiila)
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan kepada Rasulullah SAW—dan secara universal kepada seluruh mukminin—untuk mempraktikkan "shabran jamiila". Kata 'jamiila' (indah) di sini sangat penting. Ini bukan sekadar menahan diri dari mengeluh, tetapi kesabaran yang disertai dengan keikhlasan, keridhaan terhadap takdir Allah, dan tanpa disertai rasa putus asa atau keluh kesah yang merusak pandangan positif terhadap rahmat-Nya.
Dalam konteks turunnya ayat ini, Nabi Muhammad SAW sering menghadapi penolakan keras, ejekan, bahkan ancaman dari kaum musyrikin Quraisy. Ketika ujian datang bertubi-tubi, Allah mengingatkan beliau bahwa cara terbaik untuk menghadapinya bukanlah dengan membalas kekerasan dengan kekerasan, melainkan dengan memancarkan ketenangan batin yang sejati. Kesabaran yang indah ini adalah manifestasi keimanan tertinggi, menunjukkan bahwa hati seorang mukmin sepenuhnya bergantung pada janji dan pertolongan Sang Pencipta.
Janji Allah Pasti Tertepati
Penyempurna dari perintah sabar tersebut adalah penegasan: "Inna wa'dal laahi haqqun" (Sesungguhnya janji Allah itu benar). Penegasan ini berfungsi sebagai jangkar spiritual. Dalam setiap kesulitan atau penantian akan kemenangan dan pertolongan, ayat ini mengingatkan bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Janji kemenangan bagi orang yang sabar, janji balasan bagi yang berbuat baik, dan janji pertanggungjawaban bagi yang zalim, semuanya pasti akan terwujud pada waktu yang telah ditentukan-Nya.
Bagi seorang Muslim, keyakinan terhadap kebenaran janji Allah menghilangkan keraguan dan memperkuat keteguhan hati. Meskipun dunia tampak bergejolak dan musuh tampak menang sementara, kesadaran bahwa ada janji ilahi yang lebih kuat daripada realitas sesaat adalah sumber kekuatan yang tak terbatas. Ini adalah landasan utama dalam menghadapi berbagai cobaan hidup, baik itu dalam dakwah, urusan pribadi, maupun perjuangan melawan kebatilan.
Korelasi dengan Ayat Lain dan Relevansi Kontemporer
Surah Al-Hijr sendiri membahas tentang keagungan ciptaan Allah, kisah kaum Nabi Luth, dan teguran keras terhadap pengingkar. Ayat 85 ini seolah menjadi penutup diskusi berat tersebut dengan solusi yang elegan: kesabaran. Ayat ini beresonansi kuat dengan ayat-ayat lain yang memerintahkan kesabaran, seperti dalam Surah Al-Baqarah (2:153).
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, konsep kesabaran sejati ini semakin relevan. Kita sering dihadapkan pada hasil instan, dan ketika hasil tersebut tertunda, mudah sekali kita jatuh pada kekecewaan atau mengambil jalan pintas yang menyimpang. Al-Hijr 85 mengajak kita untuk melambatkan ritme emosi dan memperlambat fokus dari hasil cepat menuju keteguhan proses dan keyakinan pada ketepatan waktu Ilahi.
Kesabaran yang baik juga mencakup pengendalian diri dari hal-hal yang dilarang saat sedang diuji. Misalnya, ketika menghadapi kesulitan rezeki, kesabaran yang indah berarti tetap menjauhi cara-cara haram. Ketika menghadapi perlakuan buruk, kesabaran itu berarti menahan diri dari membalas dengan ucapan kasar atau tindakan yang melampaui batas, sambil tetap memohon keadilan kepada Allah.
Simbol Visual dari Keteguhan
Untuk merenungkan keteguhan ajaran ini, kami sajikan representasi visual dari salah satu prinsip utama yang ditekankan dalam ayat ini—keteguhan janji dan pesan ilahi.
Ilustrasi Keteguhan dan Janji
Kesimpulan
Al-Hijr ayat 85 adalah sebuah manifesto kesabaran. Ia mengajarkan bahwa di tengah hiruk pikuk penantian dan ujian, seorang mukmin harus berpegang teguh pada dua prinsip: melakukan ikhtiar terbaik dengan kesabaran yang indah tanpa mengeluh, dan memegang teguh keyakinan bahwa setiap janji Allah adalah kebenaran mutlak yang pasti terealisasi. Memahami dan mengamalkan ayat ini adalah kunci untuk mencapai ketenangan jiwa di dunia, apapun dinamika yang terjadi di sekeliling kita.