Teks Arab (Al-Hijr: 86)
Latin: *Inna Rabbaka Huwal Khallāqul 'Alīm*
Artinya: "Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui."
Ayat 86 dari Surah Al-Hijr (Surah ke-15) ini ditutup dengan penegasan mutlak tentang sifat-sifat Allah SWT. Setelah melalui serangkaian teguran kepada kaum musyrik Mekah yang mendustakan wahyu, mendustakan hari kebangkitan, dan bahkan meminta Nabi Muhammad SAW mendatangkan sesuatu yang mustahil bagi manusia biasa, Allah menutup pembelaan-Nya dengan dua sifat agung-Nya: Al-Khallāq (Maha Pencipta) dan Al-'Alīm (Maha Mengetahui).
Penyebutan "Maha Pencipta" (Al-Khallāq) di sini memiliki dampak retoris yang kuat. Ketika kaum Quraisy menuduh Nabi membawa ajaran baru atau menuduh beliau gila, Allah mengingatkan mereka bahwa Zat yang menurunkan wahyu dan menciptakan mereka semua adalah Zat yang sama yang menciptakan langit dan bumi, yang tidak mungkin berbuat kesalahan atau membicarakan hal sia-sia. Penciptaan alam semesta yang begitu kompleks adalah bukti nyata kekuasaan-Nya, jauh melampaui kemampuan manusia dalam menciptakan hal sepele sekalipun.
Kombinasi dua nama ini tidaklah kebetulan. Seorang pencipta haruslah memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai apa yang akan diciptakan, bagaimana cara menciptakannya, dan apa tujuan penciptaan tersebut. Al-'Alīm (Maha Mengetahui) memastikan bahwa setiap ciptaan-Nya tidak terjadi secara acak, melainkan berdasarkan ilmu dan hikmah yang mendalam. Allah mengetahui apa yang ada di hati mereka yang mendustakan, apa yang mereka sembunyikan, dan bagaimana cara terbaik untuk membimbing mereka—walaupun mereka sendiri tidak mengerti.
Bagi Rasulullah SAW dan para pengikutnya yang saat itu menghadapi penolakan keras, ayat ini menjadi sumber ketenangan dan keteguhan. Ketika manusia meragukan risalah, Allah menegaskan bahwa Dia adalah Sumber segala sesuatu. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk gentar atau berputus asa. Tugas mereka hanyalah menyampaikan, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Sang Pencipta yang Maha Tahu.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, ayat ini mendorong kita untuk selalu menyandarkan segala urusan pada kehendak Ilahi. Jika kita dihadapkan pada kesulitan atau ketidakadilan, kita diingatkan bahwa Sang Pencipta segalanya melihat dan mengetahui segalanya. Kepercayaan pada Al-Khallāqul 'Alīm adalah pondasi utama bagi rasa syukur dan kesabaran (sabr). Ketika kita bersyukur, kita mengakui bahwa semua karunia berasal dari Sumber Agung yang Maha Tahu mana yang terbaik untuk kita. Ketika kita sabar, kita yakin bahwa di balik setiap ujian ada hikmah yang hanya diketahui oleh Dzat yang Maha Pencipta.
Merenungkan Al-Hijr ayat 86 adalah undangan untuk terus mengamati alam semesta. Setiap bintang, setiap tetes hujan, setiap detail dalam tubuh kita adalah hasil ciptaan yang terencana sempurna. Keindahan dan keteraturan kosmos adalah bukti otentik dari validitas wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Jika Allah mampu menciptakan miliaran galaksi dengan hukum fisika yang presisi, sungguh mudah bagi-Nya untuk menjaga janji-Nya tentang hari perhitungan dan balasan.
Oleh karena itu, ketika kita membaca atau merenungkan ayat ini, fokuslah pada kepastian. Kepastian bahwa Tuhan kita adalah Pemilik Tunggal atas kekuatan menciptakan dan mengetahui. Ini menghilangkan ruang bagi kesombongan manusia dan menempatkan kita pada posisi yang seharusnya: sebagai hamba yang berserah diri dalam naungan kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Ini adalah penutup yang sempurna bagi sebuah serangkaian peringatan, menegaskan bahwa kebenaran datang dari sumber yang paling otoritatif dan berpengetahuan.