Menggali Hikmah di Balik Al-Hijr Ayat 11: Pelajaran dari Kaum Nabi Luth

Ilustrasi Taman Surga dan Peringatan Waspada!

Al-Qur'an adalah sumber petunjuk dan peringatan bagi umat manusia sepanjang zaman. Di antara ayat-ayat yang mengandung pelajaran sejarah dan tauhid adalah yang terdapat dalam Surah Al-Hijr. Salah satu ayat kunci yang seringkali menjadi bahan perenungan mendalam mengenai keadilan ilahi dan konsekuensi perbuatan adalah **Surah Al-Hijr ayat 11**.

Teks dan Bacaan Al-Hijr Ayat 11

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ (Wa laqad ātaynāka sab'am minal-mathānī wal-Qur'ānal-'aẓīm)

Terjemahan makna dari ayat ini adalah: "Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung."

Konteks dan Kedudukan Ayat

Ayat 11 dari Surah Al-Hijr ini datang setelah Allah SWT menyebutkan tentang betapa giliran kaum-kaum terdahulu telah tiba, seperti kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, dan kaum Nabi Luth. Ayat 10 secara spesifik menanyakan kepada Nabi Muhammad SAW, "Apakah (wahai Muhammad) dia menjadikan ilah-ilah itu Tuhan yang satu saja? Sungguh ini adalah sesuatu yang mengherankan."

Setelah menyoroti keheranan atas pengingkaran kaum musyrik terhadap tauhid, Allah SWT kemudian memberikan penegasan kepada Rasulullah ﷺ mengenai kedudukan beliau dan anugerah teristimewa yang telah diberikan kepadanya. Ayat 11 ini berfungsi sebagai peneguhan (taqrir) sekaligus pengingat akan keistimewaan risalah yang diemban oleh Nabi Muhammad ﷺ, sebagai respons terhadap penolakan yang dihadapi.

Memahami "Tujuh Ayat yang Berulang-ulang" (Sab'am Minal Mathani)

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "Sab'am Minal Mathani" (tujuh ayat yang berulang-ulang). Mayoritas ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud dengan "tujuh ayat yang berulang-ulang" adalah **Surah Al-Fatihah**, yang merupakan induk Al-Qur'an.

Mengapa disebut berulang-ulang (mathani)?

  1. Diulang dalam shalat: Al-Fatihah wajib dibaca pada setiap rakaat salat fardu maupun sunah. Pengulangan ini menjadikan substansinya selalu segar dan relevan.
  2. Memuat berbagai makna: Ayat ini mengandung pujian, permohonan ampun, penetapan tauhid, kisah teladan, dan permintaan petunjuk jalan lurus, menjadikannya saripati seluruh ajaran Al-Qur'an.
  3. Dibaca berpasangan: Beberapa penafsiran mengartikan mathani sebagai sesuatu yang dibaca berdua-dua atau berpasangan.

Pemberian Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah sebuah kehormatan yang sangat besar. Ini menunjukkan bahwa risalah yang dibawa beliau adalah penyempurnaan dari semua risalah sebelumnya, dimulai dari doa yang paling fundamental dan paling sering diucapkan umat Islam.

Kombinasi Keistimewaan: Al-Fatihah dan Al-Qur'an yang Agung

Ayat ini tidak hanya menyebutkan Al-Fatihah, tetapi langsung menggandengnya dengan anugerah kedua: "wa Al-Qur'ānal-'aẓīm" (dan Al-Qur'an yang agung). Penjajaran dua anugerah ini menegaskan posisi mulia Al-Qur'an secara keseluruhan.

Al-Qur'an dinamakan "Al-'Azhim" (yang Agung) karena berbagai alasan. Keagungan tersebut meliputi:

Ayat 11 Al-Hijr memberikan ketenangan batin bagi Nabi Muhammad ﷺ di tengah penolakan kaumnya. Ia seolah berkata: "Meskipun mereka berpaling dan mengingkari tanda-tanda kebesaran Kami, Kami telah menganugerahkan kepadamu sesuatu yang jauh lebih berharga dan agung daripada pemahaman mereka yang sempit."

Pelajaran Bagi Umat

Bagi umat Islam, ayat ini menjadi pengingat untuk selalu menghargai dua pondasi utama agama kita. Pertama, pentingnya menghayati dan mengamalkan Surah Al-Fatihah. Ia bukan sekadar bacaan rutin, melainkan inti dari hubungan vertikal kita dengan Sang Pencipta. Setiap kali kita mengucap "Shirāṭal-mustaqīm", kita sedang meminta petunjuk yang telah dianugerahkan kepada Nabi kita.

Kedua, adalah tanggung jawab kita untuk berinteraksi secara mendalam dengan Al-Qur'an yang Agung. Keagungan Al-Qur'an menuntut pengkajian yang serius, bukan hanya dibaca secara permukaan. Ketika kita menghadapi keraguan atau godaan dari lingkungan yang mengingkari kebenaran (seperti yang dialami kaum Nabi Luth), kembali kepada petunjuk yang tertulis dalam Al-Qur'an adalah pelabuhan terakhir yang aman.

Pada hakikatnya, Al-Hijr ayat 11 menegaskan bahwa kenikmatan spiritual dan kebenaran wahyu jauh melampaui kenikmatan duniawi yang fana, dan inilah bekal utama yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih.

🏠 Homepage