Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 12
Konteks Penurunan Ayat
Surah Al-Hijr, ayat ke-12, merupakan bagian dari rangkaian peringatan keras dari Allah SWT kepada kaum musyrikin Quraisy di Mekah yang menolak risalah Nabi Muhammad SAW. Ayat ini berfungsi sebagai pembuka dialog (atau lebih tepatnya, sebagai penetapan fakta yang menyakitkan) dari Allah kepada para penolak kebenaran tersebut.
Allah SWT mengingatkan mereka bahwa penolakan mereka bukanlah hal baru. Sejarah telah berulang kali menunjukkan bagaimana umat-umat terdahulu—yang dikuatkan dengan wahyu dan para rasul—tetap memilih jalan kekafiran. Ayat ini secara spesifik merujuk kepada wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebuah Kitab Agung (Al-Qur'an), yang diwariskan kepada mereka setelah generasi-generasi rasul sebelumnya.
Perbandingan dengan Umat Terdahulu
Inti dari pengingat ini adalah penegasan bahwa Allah telah memberikan bukti-bukti yang jelas, baik melalui rasul-rasul terdahulu maupun melalui Al-Qur'an. Kaum musyrikin Quraisy diingatkan bahwa mereka telah disuguhi Al-Kitab, sebuah pedoman hidup yang sempurna, yang datang menyempurnakan dan mengoreksi kitab-kitab sebelumnya. Bagaimana mungkin mereka menolaknya, padahal mereka menyaksikan sendiri bagaimana generasi-generasi sebelum mereka dihukum karena menolak risalah serupa?
Ayat ini menggarisbawahi konsistensi misi kenabian. Setiap rasul yang diutus membawa pesan dasar yang sama: tauhid (mengesakan Allah) dan kepatuhan terhadap wahyu-Nya. Penolakan Quraisy adalah pengulangan pola lama yang berujung pada konsekuensi yang sama, yaitu azab.
Implikasi Terhadap Kaum Nabi Luth (Kontekstualisasi Lebih Lanjut)
Meskipun ayat 12 ini secara umum berbicara tentang pemberian kitab, rangkaian ayat-ayat setelahnya dalam Surah Al-Hijr (terutama ayat 13 hingga 15) secara eksplisit menyebutkan respons kaum kafir terhadap kerasulan tersebut, yang kemudian diikuti dengan kisah kehancuran kaum Nabi Luth. Dalam konteks ini, ayat 12 berfungsi sebagai landasan, menunjukkan bahwa meski telah diberi peringatan berupa Kitab, mereka tetap memilih bersikap seperti kaum terdahulu yang mengingkari.
Ketika Allah berfirman, "Bukankah telah Kami wahyukan kepadamu kitab...", respons mereka, seperti yang disebutkan pada ayat-ayat selanjutnya (ayat 13), adalah kecurigaan dan ejekan: "Wahai orang yang diturunkan kepadanya Kitab! Sesungguhnya kamu benar-benar orang gila." Ejekan ini menunjukkan puncak kesombongan dan penolakan mereka terhadap kebenaran ilahi. Ini adalah pola yang sama yang pernah terjadi pada setiap umat yang didatangi rasul.
Pelajaran Penting dari Al-Hijr Ayat 12
Pelajaran utama dari ayat ini adalah tentang tanggung jawab menerima kebenaran. Islam tidak datang secara tiba-tiba tanpa dasar. Al-Qur'an adalah puncak dari rangkaian wahyu ilahi. Menolaknya berarti mengabaikan sejarah kenabian yang panjang dan bukti-bukti yang telah disajikan Allah.
Pertanyaan retoris dari Allah ini mengandung teguran keras. Ia menuntut introspeksi: Mengapa kalian menolak bukti yang jelas ini, padahal kalian mengetahui bahwa umat-umat terdahulu dihancurkan karena menolak pesan serupa? Ini menekankan bahwa kekafiran bukanlah masalah kurangnya bukti, melainkan masalah kesombongan, keangkuhan, dan penolakan hati nurani.
Ayat ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim bahwa menerima Al-Qur'an adalah sebuah nikmat dan amanah besar. Sikap mereka yang sombong dalam menolak wahyu pada akhirnya memicu murka ilahi yang puncaknya digambarkan dalam kisah kaum Luth dan umat-umat lain yang disebutkan setelahnya dalam surah ini, di mana mereka dicabut nikmatnya dan digantikan dengan kehancuran yang dahsyat.