"Tuhanmu Maha Mengetahui siapa yang paling benar di antara hamba-hamba-Nya. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat saja, tetapi Dia hendak menguji kalian dalam apa yang telah Dia berikan kepada kalian. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kalian semua akan kembali, dan Dia akan memberitakan kepada kalian apa yang dahulu kalian perselisihkan." (QS. Al-Isra' [17]: 25)
Ayat kelima puluh lima dari Surah Al-Isra' (atau Al-Isra' 17:25) adalah pengingat mendalam tentang hakikat hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Ayat ini membuka dengan pernyataan fundamental: "Tuhanmu Maha Mengetahui siapa yang paling benar di antara hamba-hamba-Nya." Pengetahuan Allah bersifat absolut, mencakup segala niat, bisikan hati, dan perbuatan yang tampak maupun tersembunyi. Ini adalah jaminan bahwa ketulusan hati (ikhlas) tidak akan luput dari pengawasan dan penilaian-Nya, meski manusia lain mungkin gagal melihatnya.
Poin pertama yang ditekankan adalah otoritas ilahi atas persatuan umat manusia. Frasa "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat saja" menunjukkan bahwa perbedaan dan keragaman adalah bagian dari rancangan ilahi, bukan sebuah kebetulan. Jika Allah ingin semua manusia sama persis dalam keyakinan dan tindakan, Dia bisa saja menciptakannya demikian. Namun, karena perbedaan itu ada, maka di balik perbedaan itu pasti ada tujuan yang lebih besar.
Tujuan utama dari keragaman dan ujian ini dijelaskan dengan jelas: "...tetapi Dia hendak menguji kalian dalam apa yang telah Dia berikan kepada kalian." Pemberian di sini mencakup segala sesuatu—rezeki, kemampuan intelektual, kedudukan sosial, bahkan kesehatan dan waktu. Ujian bukanlah hukuman, melainkan kesempatan untuk menunjukkan kualitas spiritual sejati seseorang. Bagaimana kita menggunakan nikmat yang diberikan Allah—apakah kita menjadi sombong, pelit, atau justru menggunakannya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan menolong sesama?
Inilah letak esensi dari amal shaleh. Dalam konteks ayat ini, amal shaleh tidak terbatas hanya pada ritual ibadah semata, tetapi meluas pada bagaimana kita mengelola titipan duniawi tersebut dengan penuh tanggung jawab dan kebaikan. Kekayaan diuji melalui sedekah, ilmu diuji melalui penyampaian yang benar, dan kekuasaan diuji melalui keadilan.
Respons yang diharapkan dari ujian ini adalah perintah yang tegas: "Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan." Ini dikenal dalam terminologi Islam sebagai fastabiqul khairat. Ini menuntut proaktivitas, bukan pasivitas. Seorang mukmin sejati tidak hanya menunggu perintah, tetapi secara aktif mencari peluang untuk melakukan kebaikan di mana pun ia berada. Berlomba di sini bukan berarti persaingan untuk memenangkan pujian manusia, melainkan perlombaan melawan waktu dan hawa nafsu menuju ridha Allah.
Ayat ini menutup dengan mengingatkan kita akan titik akhir perjalanan kita: "Hanya kepada Allah kalian semua akan kembali, dan Dia akan memberitakan kepada kalian apa yang dahulu kalian perselisihkan." Ketika kita kembali kepada-Nya, semua perdebatan duniawi—tentang metodologi yang benar, tafsir yang berbeda, atau perselisihan kecil yang memecah belah—akan sirna. Yang tersisa hanyalah catatan amal kita yang akan ditimbang berdasarkan ketulusan niat di hadapan Zat yang Maha Mengetahui segalanya. Oleh karena itu, fokus utama seharusnya bukan pada pembenaran diri di mata manusia, tetapi pada kesempurnaan amal di hadapan Allah.