Dalam khazanah Al-Qur'an, setiap ayat membawa petunjuk dan pelajaran hidup yang mendalam. Salah satu ayat yang seringkali menjadi fokus perenungan umat Islam adalah **Al-Isra ayat 56**. Ayat ini secara spesifik membahas tentang batasan kuasa makhluk dan kekuasaan mutlak Sang Pencipta, terutama ketika manusia tengah berada dalam kondisi yang sangat membutuhkan pertolongan.
QS. Al-Isra (17): 56
"Katakanlah: 'Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Dia, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula untuk memindahkannya.'"
Ayat ini turun sebagai respons terhadap praktik politeisme (syirik) yang terjadi di masa Nabi Muhammad SAW, di mana sebagian orang masih menyembah berhala atau meminta pertolongan kepada selain Allah SWT. Inti dari ayat ini adalah sebuah tantangan lugas dari Allah kepada para penyembah selain-Nya.
Makna tersirat dari Al-Isra ayat 56 sangat kuat dalam menegaskan konsep Tauhid (keesaan Allah). Ketika seseorang menghadapi musibah, kesulitan, penyakit yang parah, atau ketakutan yang mencekam, mereka cenderung mencari segala macam jalan keluar. Bagi seorang mukmin, titik akhir dari pencarian solusi adalah kembali kepada Allah. Namun, bagi mereka yang masih bergantung pada selain-Nya, ayat ini menunjukkan kemustahilan harapan tersebut.
Allah menantang: Panggillah ilah-ilah sesembahanmu itu—berhala, jin, roh leluhur, atau apa pun yang kalian yakini dapat memberikan manfaat atau menolak mudarat. Permintaan itu akan selalu berujung pada kegagalan total. Mereka tidak memiliki kuasa sedikit pun, baik untuk menghilangkan kesulitan yang sedang menimpa Anda, maupun untuk memindahkannya ke tempat lain. Kekuatan untuk menentukan nasib, baik dalam menghilangkan bala maupun mendatangkan nikmat, sepenuhnya berada di tangan Allah semata.
Ayat ini mengajarkan kita untuk mengarahkan seluruh harapan dan doa hanya kepada Allah. Mengapa demikian? Karena hanya Allah yang memiliki sifat *Al-Qadir* (Maha Kuasa). Dalam situasi krisis, ketergantungan penuh pada kekuatan ilahiah adalah jalan paling aman dan paling efektif. Ketika kita menyadari bahwa segala sumber daya lain—bahkan para 'penolong' yang kita puja—tidak memiliki kemampuan untuk mengintervensi takdir, maka hati kita akan terpusat.
Hal ini bukan berarti kita tidak boleh berusaha secara ikhtiar (usaha fisik), namun ikhtiar harus selalu dibingkai oleh keyakinan bahwa hasil akhir sepenuhnya ditentukan oleh Pencipta. Jika kita berdoa kepada selain Allah, seolah-olah kita meminta sesuatu kepada entitas yang tidak memiliki kunci gudang rezeki atau kunci pemecah masalah.
Meskipun ayat ini ditujukan kepada mereka yang terang-terangan melakukan syirik akbar (penyembahan berhala), pelajarannya sangat relevan bagi umat Islam saat ini. Syirik bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus, seperti terlalu bergantung pada jimat, 'orang pintar' tertentu, atau bahkan terlalu memuja jabatan dan harta benda hingga mengabaikan kewajiban agama.
Ketika seseorang menaruh kepercayaan penuh bahwa harta yang ia miliki yang akan menyelamatkannya dari kemiskinan, atau bahwa jaringan kekuasaan yang ia bangun yang akan melindunginya dari kezaliman, maka ia telah memasukkan ilah-ilah lain ke dalam hatinya, meskipun tidak dalam bentuk patung. Al-Isra ayat 56 mengingatkan bahwa semua sumber daya itu hanyalah perantara yang tunduk pada izin Allah. Tanpa izin-Nya, semua usaha itu akan sia-sia.
Oleh karena itu, ayat ini berfungsi sebagai pengingat yang kokoh: ketika kesulitan datang, palingkan wajah dan hati Anda kepada Allah. Seruan tersebut adalah seruan untuk memurnikan ibadah dan kepercayaan, membuang segala bentuk ketergantungan yang rapuh, dan bersandar pada satu-satunya Dzat yang kuasa atas segala sesuatu. Dengan demikian, doa kita akan menjadi lebih fokus, lebih tulus, dan penuh harapan akan jawaban dari Yang Maha Mengabulkan.