Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, ditutup dengan serangkaian ayat yang sangat penting, yaitu dari ayat 100 hingga 111. Bagian penutup ini berfungsi sebagai rangkuman doktrinal sekaligus peringatan keras bagi mereka yang mungkin meragukan janji Allah atau memiliki pemahaman yang sempit tentang rezeki dan kekuasaan-Nya. Ayat-ayat ini secara spesifik menjawab beberapa kekhawatiran kaum musyrikin Mekkah terkait potensi kekayaan dan kemudahan hidup jika mereka mengikuti Islam.
Katakanlah (Muhammad): "Sekiranya kamu memiliki gudang-gudang rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu akan kamu tahan (daripada dibelanjakan) karena takut kehabisan (kepada orang-orang fakir); dan adalah manusia itu kikir sekali."
Ayat 100 adalah bantahan langsung terhadap mentalitas materialistis yang menghalangi seseorang untuk bersedekah atau berbagi. Kaum Quraisy seringkali menyangka bahwa jika mereka memeluk Islam, mereka akan kehilangan kekayaan atau status sosial. Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menjelaskan bahwa jika kekayaan duniawi sepenuhnya berada di tangan manusia, mereka pasti akan menahannya karena sifat kikir yang melekat, bukan karena takut Allah akan memberi rezeki kepada orang lain. Ini menyoroti bahwa sumber daya sebenarnya ada di tangan Allah, bukan di tangan manusia yang egois.
Setelah membahas masalah harta, ayat-ayat berikutnya membahas tantangan yang dihadapi Musa (ditujukan kepada kaum musyrikin yang menantang mukjizat). Ayat 101 menegaskan bahwa Allah telah memberikan sembilan mukjizat yang jelas kepada Musa, namun kaum tersebut tetap ingkar. Puncaknya adalah janji Allah (Ayat 103) bahwa azab akan menimpa mereka jika mereka berpaling dari petunjuk.
Ayat krusial di bagian ini adalah ayat 104: "...dan Kami jadikan itu (Al-Qur'an) sebagai penerangan bagi Bani Israil." Al-Qur'an di sini disajikan bukan hanya sebagai pembenar, tetapi sebagai cahaya petunjuk yang universal, walaupun konteks awalnya juga terkait dengan Bani Israil. Ini menekankan fungsi abadi Al-Qur'an sebagai petunjuk utama.
Allah menegaskan kebenaran wahyu-Nya yang diturunkan dalam bentuk Al-Qur'an (Ayat 105) sebagai penutup semua kitab sebelumnya. Bagian ini kemudian mengalir ke pembahasan tentang kebangkitan (Ayat 106-109). Penegasan bahwa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap (terpecah-pecah) adalah untuk memudahkan manusia memahaminya dan membuktikan keasliannya secara bertahap.
Sujud syukur para ulama dan rahib ketika mendengar ayat-ayat suci (Ayat 109) menjadi kontras tajam dengan kekerasan hati banyak orang yang mendengar kebenaran tersebut. Sikap merendah dan mengakui kebesaran Allah inilah yang menjadi ciri khas mereka yang benar-benar berilmu.
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Nama mana saja yang kamu seru, bagi-Nya adalah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan (pula) merendahkannya; dan carilah jalan tengah di antara keduanya." (Ayat 110)
Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak, dan Yang tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan Dia tidak memerlukan penolong untuk (menghadapi) kehinaan." Dan bertasbihlah kepada-Nya dengan bertasbih yang sebanyak-banyaknya. (Ayat 111)
Ayat 110 memberikan pelajaran etika ibadah yang sangat universal: moderasi (wasathiyah). Dalam berdoa atau berzikir, tidak boleh terlalu keras hingga mengganggu orang lain, tetapi juga tidak boleh terlalu pelan sehingga diri sendiri tidak dapat meresapi. Ini adalah prinsip keseimbangan yang ditekankan dalam Islam.
Puncak dari keseluruhan surah ini terdapat pada Ayat 111. Ini adalah penegasan doktrin Tauhid yang paling murni: Allah Maha Esa, tidak beranak, tidak bersekutu, dan tidak membutuhkan pertolongan. Setelah membahas berbagai dilema duniawi, ekonomi, dan tantangan risalah, surah ditutup dengan pengesaan mutlak terhadap keagungan Allah SWT. Perintah untuk ber-tasbih sebanyak-banyaknya menutup kajian ini, mengingatkan bahwa pujian tertinggi hanya layak bagi-Nya yang Maha Sempurna. Ayat-ayat 100 hingga 111 ini menjadi pilar penguatan akidah di penghujung Surah Al-Isra.
— Akhir Kajian Al-Isra Ayat 100-111 —