Kajian Mendalam Al Isra Ayat 11

Teks dan Terjemahan Al Isra Ayat 11

Surah Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Salah satu ayat penting yang mengandung pelajaran mendasar tentang karakter manusia dan sifat kefanaan dunia adalah ayat ke-11. Ayat ini menyoroti kecenderungan alami manusia dalam bersikap ketika mendapatkan kemudahan dan kesulitan.

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

Terjemahan: Dan manusia cenderung mendoakan keburukan bagi dirinya sendiri sebagaimana ia mendoakan kebaikan, karena (sifatnya) yang tergesa-gesa.

KHAYR (BAIK) Doa yang Tulus SYARR (BURUK) Doa yang Tergesa TERGESA

Ilustrasi Konsep Tergesa-gesa dalam Permintaan Manusia

Analisis Sifat Tergesa-gesa Manusia

Ayat ini memberikan diagnosis mendalam mengenai watak dasar manusia. Allah SWT menegaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk berlaku tergesa-gesa ('ajūl). Ketergesa-gesaan ini termanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan, namun dalam konteks ayat ini, ia terlihat jelas dalam cara manusia berdoa atau membuat keputusan penting.

Ketika seseorang berada dalam kesulitan atau penderitaan, misalnya sakit parah, kehilangan harta, atau menghadapi musibah, naluri pertamanya sering kali adalah memohon pertolongan dengan penuh keputusasaan. Dalam keadaan panik tersebut, sering kali ia tanpa sadar melontarkan doa yang bersifat menghancurkan atau mencela keadaan, bahkan kadang-kadang mencela takdir, tanpa menyadari bahwa ia sedang memohon keburukan yang mungkin lebih besar dampaknya daripada kesulitan yang sedang dihadapinya saat itu. Ia berdoa "sebagaimana ia mendoakan kebaikan," yang berarti tanpa filter, tanpa pertimbangan jangka panjang, dan didorong oleh emosi sesaat.

Kontradiksi dalam Doa

Inti dari ayat ini adalah kontradiksi perilaku. Manusia sangat menginginkan kebaikan (rizki, kesehatan, keselamatan) dan akan berusaha keras meraihnya dengan doa yang khusyuk. Namun, ketika ujian datang, emosi negatif—seperti marah, putus asa, atau dendam—menguasai akal sehatnya. Dalam kondisi tersebut, lisannya dapat tanpa sengaja mengucapkan sumpah serapah atau doa negatif terhadap dirinya sendiri atau orang lain yang ia anggap sebagai penyebab masalahnya.

Para mufassir menjelaskan bahwa ketergesa-gesaan ini membuat manusia tidak mampu menimbang konsekuensi dari permintaannya. Jika Allah mengabulkan doa buruk yang terucap karena emosi sesaat itu, maka manusia sendirilah yang akan menanggung kerugian besar. Hal ini diperkuat oleh ayat selanjutnya (Al Isra: 12) yang menyatakan bahwa Allah menjadikan malam dan siang sebagai tanda, tetapi manusia sering kali tidak menggunakan waktu mereka untuk tafakkur (merenung) dengan baik.

Pelajaran Praktis untuk Umat Islam

Pemahaman terhadap Al Isra ayat 11 mengajarkan pentingnya pengendalian diri, khususnya saat menghadapi tekanan:

  1. Menahan Lisan Saat Marah: Ayat ini adalah pengingat tegas bahwa kata-kata yang terucap saat marah atau sedih bisa menjadi bumerang. Nabi Muhammad SAW sering mengajarkan untuk diam atau beristighfar ketika emosi memuncak.
  2. Sabar dalam Doa: Ketika meminta kebaikan, kita harus bersabar dan yakin akan janji Allah. Sebaliknya, ketika menghadapi kesulitan, kita harus berdoa memohon kesabaran dan jalan keluar yang baik, bukan malah mencaci atau menyalahkan.
  3. Mengingat Sifat Cepat Lelah Manusia: Dengan menyadari bahwa kita makhluk yang tergesa-gesa dan mudah panik, kita harus selalu kembali kepada Allah (tawakal) dan meminta bimbingan-Nya sebelum mengambil keputusan besar atau melontarkan sumpah serapah.

Pada akhirnya, ayat ini mengajak kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Apakah kita benar-benar memohon kebaikan kepada Allah, ataukah kita terlalu sering membiarkan emosi sesaat kita memandu ucapan kita menuju kehancuran yang tidak kita sadari? Kehati-hatian dalam berbicara, khususnya dalam berdoa, adalah cerminan dari kedewasaan spiritual dan pemahaman sejati terhadap sifat kelemahan diri di hadapan Zat Yang Maha Bijaksana.

Penutup

Kajian atas Al Isra ayat 11 menegaskan bahwa kesempurnaan hanya milik Allah. Tugas kita sebagai hamba-Nya adalah berusaha melawan sifat tergesa-gesa yang melekat ini melalui dzikir, refleksi, dan penyerahan diri total atas segala ketetapan-Nya, baik yang terlihat baik maupun yang tampak sulit.

🏠 Homepage