Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berlebih-lebihan (dalam membelanjakan hartanya) itu adalah saudara-saudara setan. Dan setan itu sangat kufur kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra: 27)
Ilustrasi konsep ayat
Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang memuat banyak ajaran penting mengenai etika sosial, moralitas, dan sejarah umat terdahulu. Ayat ke-27 secara spesifik memberikan peringatan keras mengenai perilaku berlebih-lebihan atau pemborosan harta, yang dalam Islam dikenal sebagai israf.
Ayat ini menetapkan sebuah hubungan langsung dan kuat antara perilaku boros dengan kesesatan yang dibawa oleh setan. Mengapa pemborosan disamakan dengan tindakan setan?
Dalam perspektif Islam, israf bukan sekadar menghabiskan uang, tetapi penggunaan sumber daya (baik waktu, energi, maupun materi) secara tidak proporsional, tidak bijaksana, atau melebihi batas kebutuhan yang wajar. Allah SWT menganjurkan umat-Nya untuk bersikap pertengahan (tawassut), tidak kikir (baqhil), dan juga tidak boros (musrif). Ayat ini menegaskan bahwa kecenderungan untuk boros adalah sifat yang sangat dibenci karena melanggar prinsip keseimbangan yang diajarkan agama.
Penyebutan "saudara setan" memberikan bobot peringatan yang sangat serius. Setan, sesuai dengan ayat tersebut, adalah makhluk yang sangat kufur kepada Tuhannya. Kekufuran ini termanifestasi dalam penolakan terhadap perintah Allah dan upaya menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Pemborosan, dalam konteks ini, dilihat sebagai salah satu manifestasi kekufuran karena:
Al-Isra ayat 27 mengajarkan kita untuk senantiasa sadar akan setiap pengeluaran kita. Kesadaran ini harus didasari oleh dua prinsip utama: kesadaran terhadap hak Allah atas harta tersebut, dan kesadaran terhadap kebutuhan sesama manusia. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa pertengahan adalah yang terbaik, sebagaimana firman Allah dalam Al-Isra ayat 29: "Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir), dan jangan pula engkau mengulurkannya (boros) secara berlebihan, karena nanti engkau menjadi tercela dan menyesal."
Dengan demikian, ayat ini berfungsi sebagai pengingat fundamental bahwa pengelolaan sumber daya adalah bagian integral dari keimanan seorang Muslim. Perilaku yang menjauh dari moderasi akan membawa pemiliknya pada kategori yang diserupakan dengan sahabat-sahabat setan, yaitu mereka yang durhaka dan ingkar terhadap karunia Ilahi.
Semoga penjelasan ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya bersyukur melalui pengelolaan harta yang bijak.