Dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur'an, terdapat petunjuk-petunjuk ilahi yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari ibadah hingga etika sosial dan ekonomi. Di antara ayat-ayat penting yang menyoroti tanggung jawab kita terhadap karunia Allah dan perlindungan terhadap jiwa adalah Surah Al-Isra ayat 30 dan 31. Kedua ayat ini memberikan fondasi kokoh mengenai tauhid dalam rezeki dan larangan membunuh anak karena alasan materiil.
Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 30
Ayat 30 ini adalah peringatan keras dari Allah SWT mengenai nasib peradaban atau sebuah negeri. Kehancuran seringkali bukan disebabkan oleh bencana alam semata, melainkan oleh penyimpangan moral yang dilakukan oleh kaum elit atau mereka yang hidup dalam kemewahan (*mutrafīhā*). Ketika kemewahan membuai mereka hingga lupa akan perintah Allah dan justru melakukan kezaliman serta kefasikan, maka hukuman berupa pembinasaan menjadi ketetapan yang tak terhindarkan. Ini mengajarkan bahwa kemakmuran material harus diiringi dengan ketakwaan dan keadilan.
Pelajaran pentingnya adalah bahwa kenikmatan duniawi adalah ujian. Jika digunakan untuk berbuat fasik dan menindas, ia justru menjadi jalan menuju kehancuran total, bukan kemuliaan.
Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 31
Ayat berikutnya melanjutkan dengan fokus pada isu yang lebih personal dan fundamental, yaitu perlindungan terhadap kehidupan, khususnya anak-anak, yang seringkali terancam oleh ketakutan akan kemiskinan.
Larangan Keras Terhadap Pembunuhan Anak Karena Kemiskinan
Surah Al-Isra ayat 31 ini merupakan salah satu landasan utama dalam syariat Islam yang melarang praktik jahiliyah, yaitu membunuh anak, terutama anak perempuan, karena kekhawatiran akan kefakiran (kemiskinan) atau beban ekonomi. Dalam konteks masa lalu, beberapa suku Arab membunuh keturunan mereka karena takut tidak mampu menyediakan makanan atau karena merasa malu jika anak perempuan mereka kelak tertangkap musuh.
Pencabutan Kekhawatiran Duniawi
Allah SWT memberikan jaminan mutlak dalam ayat ini: "Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu." Jaminan ini menempatkan akidah tauhid secara praktis dalam rumah tangga. Manusia diperintahkan untuk berusaha, namun hasil dan ketetapan rezeki sepenuhnya berada di tangan Allah. Kekhawatiran akan kemiskinan (imlaq) tidak boleh menjadi pembenar untuk menghilangkan nyawa yang telah Allah titipkan.
Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki itu terjamin. Tugas orang tua adalah mendidik, memelihara, dan membesarkan amanah tersebut dengan segenap cinta dan tanggung jawab, bukan menghakiminya berdasarkan prediksi keuangan masa depan yang belum tentu benar.
Dosa yang Sangat Besar
Penutup ayat tersebut menegaskan konsekuensi dari pelanggaran ini: "Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar (*khith'an kabiira*)." Penggunaan frasa "dosa besar" menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran ini di mata Allah. Ini bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan kejahatan yang melanggar dua hak dasar: hak hidup dan hak untuk diasuh.
Korelasi Ayat 30 dan 31
Terdapat korelasi yang kuat antara kedua ayat ini. Ayat 30 berbicara tentang kehancuran kolektif yang dipicu oleh keserakahan dan kezaliman kaum yang dimanjakan. Ayat 31 membahas akar masalah internal yang seringkali mendorong kezaliman: ketakutan pribadi yang ekstrem akan kehilangan materi hingga rela melanggar batas moral tertinggi (membunuh anak).
Singkatnya, ketika masyarakat dan individu berorientasi hanya pada pemenuhan kebutuhan materiwi tanpa peduli pada batas-batas ketuhanan, maka kehancuran kolektif (seperti pada ayat 30) atau kebobrokan individu (seperti pada ayat 31) adalah konsekuensi yang logis. Islam menuntut keseimbangan, di mana iman kepada Allah sebagai Sumber Rezeki menjadi fondasi bagi setiap keputusan hidup, termasuk dalam merawat keturunan.
Ilustrasi Konsep Kepercayaan Rezeki
Ayat-ayat ini menawarkan ketenangan spiritual yang mendalam. Ketika keyakinan pada kuasa dan kasih sayang Allah sebagai Pemberi Rezeki tertanam kuat, maka ketakutan yang mendorong pada perbuatan dosa besar, seperti menghilangkan nyawa anak karena kekhawatiran materi, akan hilang digantikan oleh kepasrahan dan amal saleh.