Perjalanan Malam dan Keniscayaan Ayat-Ayat Allah
Ilustrasi simbolis dari perjalanan malam (Isra')
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surah Bani Israil (Putra-Putra Israel), adalah surah ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surah ini dinamakan Al-Isra karena di dalamnya terdapat ayat krusial yang menceritakan tentang peristiwa perjalanan malam luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem.
Surah ini kaya akan ajaran, mencakup aspek tauhid, peringatan terhadap kesombongan, pentingnya berbakti kepada orang tua, larangan membunuh anak karena kemiskinan, dan batasan-batasan moral lainnya. Ayat pertama surah ini seringkali menjadi titik fokus utama pembahasan mengenai mukjizat Isra Mi'raj.
Ayat pertama Surah Al-Isra inilah yang menjadi dasar utama narasi perjalanan suci Nabi Muhammad SAW.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Peristiwa Isra adalah perjalanan fisik Nabi dari Ka'bah di Mekkah menuju Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa) di Yerusalem. Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan ini adalah kehendak dan kuasa penuh Allah SWT, dan tujuannya adalah untuk menunjukkan sebagian dari kebesaran-Nya kepada Nabi. Ayat ini juga menyoroti sifat Allah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Meskipun ayat ini secara spesifik menyebutkan perjalanan ke Masjid Al-Aqsa (Isra), dalam tradisi Islam, perjalanan tersebut dilanjutkan dengan Mi'raj (kenaikan) menuju tingkatan langit yang tidak disebutkan eksplisit dalam ayat ini, namun diperkuat oleh hadis-hadis shahih.
Selain mukjizat Isra Mi'raj, Surah Al-Isra memberikan landasan etika dan spiritual yang mendalam bagi umat Islam:
Ayat 23 dan 24 menekankan larangan berkata kasar (bahkan 'ah' atau 'uff') kepada orang tua dan perintah untuk merendahkan diri serta mendoakan mereka dengan kasih sayang. Ini menunjukkan prioritas tinggi dalam menjaga hubungan keluarga dalam ajaran Islam.
Allah SWT melarang sifat boros (Israf) dan mempersamakan orang yang boros dengan saudara setan (Ayat 26-27). Ini adalah prinsip manajemen sumber daya yang sangat relevan hingga kini.
Surah ini mengingatkan untuk tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik, dan pentingnya menepati setiap janji (Ayat 34).
Salah satu perintah tegas dalam surah ini adalah larangan membunuh anak-anak karena kekhawatiran akan kefakiran (Ayat 31). Allah menjamin rezeki bagi semua makhluk-Nya.
Surah ini berulang kali mengingatkan bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Secara keseluruhan, Surah Al-Isra berfungsi sebagai peta jalan moral dan spiritual. Peristiwa Isra yang agung menjadi penguat iman, sementara serangkaian perintah dan larangan di dalamnya menjadi panduan hidup praktis bagi setiap Muslim dalam berinteraksi dengan Tuhan, keluarga, dan masyarakat.