Menggali Makna Perjalanan Agung: Al Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW

Simbol Perjalanan Isra Mi'raj
Ilustrasi simbolis perjalanan spiritual Isra Mi'raj.

Peristiwa Al Isra Mi'raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Perjalanan spiritual dan fisik ini bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan mengandung pelajaran mendalam tentang keimanan, keteguhan hati, dan kedekatan seorang hamba dengan Sang Pencipta. Isra adalah perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Mi'raj adalah kelanjutan perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju tingkatan langit yang lebih tinggi hingga mencapai Sidratul Muntaha.

Memahami Dua Fase Perjalanan

Isra, yang secara harfiah berarti "perjalanan malam," menjadi penegasan penting setelah periode dakwah Nabi yang penuh tantangan di Mekkah. Dalam riwayat yang diyakini umat Islam, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan luar biasa ini bersama Malaikat Jibril. Setibanya di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa), Nabi dipertemukan dengan ruh para nabi terdahulu, di mana beliau turut mengimami salat. Momen ini menunjukkan kedudukan mulia Nabi Muhammad sebagai penutup para rasul. Perjalanan ini terjadi ketika beliau sedang dalam keadaan sedih karena ditinggal wafat oleh paman tercinta, Abu Thalib, dan penolakan keras dari kaum Ta'if.

Fase kedua, Mi'raj, adalah kenaikan vertikal menuju alam malakut. Di setiap lapisan langit, Nabi dipertemukan dengan para nabi lain—seperti Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa—yang masing-masing memberikan penghormatan atas kenabiannya. Puncak dari Mi'raj adalah ketika beliau bersua langsung dengan Allah SWT di hadapan-Nya, tanpa perantara. Inilah titik tertinggi kedekatan makhluk dengan Khalik yang pernah dialami manusia.

Penetapan Shalat Wajib

Hikmah terbesar yang dibawa kembali oleh Nabi Muhammad SAW dari Sidratul Muntaha adalah perintah langsung mengenai salat lima waktu. Semula, Allah menetapkan 50 kali salat sehari semalam. Namun, atas saran bijaksana dari Nabi Musa AS, Rasulullah kembali memohon keringanan. Allah kemudian mengampuni dan meringankannya menjadi lima waktu salat sehari semalam, namun pahalanya tetap setara dengan lima puluh kali. Hal ini menunjukkan betapa mahalnya nilai salat dalam Islam, bahkan di hadapan Allah SWT. Salat lima waktu menjadi tiang penopang ruhani umat Islam, sebuah penghubung rutin antara hamba dan Rabbnya.

Pelajaran Spiritual untuk Umat

Kisah Isra Mi'raj memberikan suntikan spiritual yang vital. Pertama, ia mengajarkan keteguhan iman (yaqin). Bagaimana mungkin keraguan bisa menghinggapi hati seseorang yang baru saja menyaksikan kebesaran dan keagungan Allah? Kedua, peristiwa ini menekankan pentingnya kesabaran dalam berdakwah. Setelah menghadapi penolakan menyakitkan, Allah memberikan hadiah berupa perjalanan agung ini sebagai peneguhan bahwa pertolongan dan penghargaan Ilahi pasti datang kepada orang-orang yang sabar dan teguh.

Ketiga, Isra Mi'raj adalah afirmasi bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh, bukan hanya urusan duniawi semata. Perjalanan melintasi alam semesta dan alam gaib membuktikan adanya dimensi lain di luar persepsi indrawi manusia. Ini memperluas cakrawala keimanan bahwa Allah adalah Penguasa tunggal atas segala dimensi, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Bagi umat Muslim modern, memperingati Al Isra Mi'raj adalah momentum untuk merefleksikan kualitas salat kita. Apakah salat kita telah menjadi penyejuk mata, sebagaimana hadis Nabi, ataukah masih menjadi beban? Perjalanan agung ini mengingatkan bahwa kunci kedekatan sejati dengan Allah dapat diraih melalui kepatuhan dan ketaatan yang konsisten. Peringatan Isra Mi'raj harus mendorong kita untuk meningkatkan kualitas ibadah ritual kita sebagai fondasi spiritual dalam menghadapi tantangan kehidupan. Perjalanan Nabi adalah peta jalan menuju kesempurnaan rohani.

🏠 Homepage