Kisah pengorbanan pertama di muka bumi, yang diceritakan dengan gamblang dalam Al-Qur'an, tersaji pada Surat Al-Maidah ayat 27 hingga 31. Kisah ini melibatkan dua putra Nabi Adam, Habil dan Qabil, dan menjadi landasan moral fundamental mengenai keadilan, ketulusan niat, serta konsekuensi fatal dari kedengkian dan pengabaian terhadap perintah Ilahi.
Allah SWT memerintahkan keduanya untuk mempersembahkan kurban. Tujuannya jelas: untuk menguji keikhlasan dan membedakan mana persembahan yang diterima di sisi-Nya.
Ayat ini langsung menunjukkan perbedaan mendasar antara Habil dan Qabil. Habil melakukannya dengan niat yang murni, didorong oleh ketakwaan—ia mengorbankan bagian terbaik dari hasil panen atau ternaknya. Sebaliknya, Qabil, yang hatinya sudah dipenuhi hasad dan rasa tidak puas, mempersembahkan apa adanya tanpa ketulusan. Respons Qabil terhadap penerimaan kurban saudaranya sungguh mengejutkan: ancaman pembunuhan. Pernyataan Habil, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa," menegaskan bahwa yang dinilai Tuhan bukanlah materi persembahan, melainkan isi hati pelakunya.
Puncak Tragedi dan Hukum Pembunuhan Pertama
Ketidakrelaan dan iri hati Qabil membawanya kepada tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya di muka bumi: pembunuhan saudara kandung. Ini bukan sekadar pertikaian biasa; ini adalah pelanggaran moral pertama yang merusak tatanan kemanusiaan.
Tanggapan Habil menunjukkan kedewasaan spiritual yang luar biasa. Ia menolak membalas dendam. Ia memilih untuk membiarkan Qabil menanggung kezaliman perbuatannya sendiri, sambil mendoakan agar Qabil sadar dan terhindar dari kehinaan di akhirat. Habil mencontohkan prinsip memaafkan dan menahan diri dari kekerasan, meskipun nyawanya terancam.
Konsekuensi Abadi dari Kejahatan
Tragedi mencapai puncaknya. Qabil tetap nekat dan akhirnya membunuh saudaranya. Di sinilah Allah SWT menampilkan pengajaran agung tentang bagaimana menangani kejahatan dan kematian.
Ayat 31 adalah momen pencerahan yang menyakitkan bagi Qabil. Setelah didorong oleh hawa nafsu, ia dibiarkan menghadapi konsekuensi mengerikan dari perbuatannya: tubuh Habil yang tak bernyawa. Kebutuhan untuk menguburkan jenazah adalah insting dasar kemanusiaan yang baru muncul. Melalui perantaraan seekor gagak—hewan yang sederhana—Allah mengajarkan tata cara penguburan. Penyesalan Qabil bukanlah penyesalan yang membawa pada pertobatan sejati di akhir ayat, melainkan kesadaran pahit akan kebodohannya telah melakukan kejahatan yang tak termaafkan dan merugikan dirinya sendiri.
Pelajaran Utama (Al-Maidah 27-31)
- Ketulusan Niat (Ikhlas): Kualitas ibadah diukur dari ketakwaan, bukan kuantitas persembahan.
- Bahaya Iri Hati (Hasad): Iri hati adalah pintu gerbang menuju kezaliman besar, bahkan pembunuhan.
- Menghindari Pembalasan: Habil mengajarkan bahwa menghadapi kejahatan dengan kebaikan atau menahan diri adalah bentuk kesalehan yang lebih tinggi daripada membalas dendam.
- Pertanggungjawaban: Setiap perbuatan, baik atau buruk, akan memiliki konsekuensi yang harus dipikul pelakunya.
Kisah Habil dan Qabil dalam Al-Maidah 27-31 menjadi peringatan abadi bagi umat manusia. Ia menunjukkan bahwa konflik bisa berakar dari masalah hati yang dangkal, dan bahwa jalan menuju kebahagiaan sejati adalah dengan membersihkan diri dari iri dengki dan memilih jalan ketakwaan yang diridai Allah SWT.