Alt Text: Ilustrasi visual yang menggambarkan komunikasi ilahi dan pertanggungjawaban dalam konteks kenabian.
Surat Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan Penutup", merupakan surat Madaniyah terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat terakhir surat ini, khususnya ayat 111 hingga 120, memiliki fokus yang sangat spesifik: menegaskan kebenaran wahyu yang dibawa oleh para rasul, menyoroti keimanan Hawariyyin (pengikut setia Nabi Isa AS), dan menjelaskan kedudukan Nabi Isa pada Hari Kiamat di hadapan Allah SWT.
Bagian ini penting karena menjadi penutup yang menguatkan dasar akidah Islam mengenai kenabian dan janji Allah. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai peneguhan bagi umat Islam agar tetap teguh pada kebenaran yang diwahyukan, terlepas dari tantangan atau klaim dari kelompok lain.
وَاِذْ اَوْحَيْتُ اِلَى الْحَوَارِيِّيْنَ اَنْ اٰمِنُوْا بِيْ وَبِرَسُوْلِيْۚ قَالُوْآ اٰمَنَّا وَاشْهَدْ بِاَنَّنَا مُسْلِمُوْنَ
(111) Dan (ingatlah) ketika Aku wahyukan kepada kaum Hawariyyin, "Berimanlah kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku." Mereka menjawab, "Kami telah beriman dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslim)."
Ayat 111 membuka dengan kisah ilham yang diberikan Allah kepada Hawariyyin. Mereka diperintahkan untuk beriman tidak hanya kepada Allah tetapi juga kepada rasul-Nya (yang pada konteks ini adalah Nabi Isa AS). Jawaban mereka menunjukkan komitmen total dan pengakuan Islam mereka. Ini menunjukkan bahwa jalan kenabian selalu mengajak kepada penyerahan diri total kepada keesaan Allah.
وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَ اِذْ اَيَّدْتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۖ وَاِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَ ۖ ...
(114) (Kaum Hawariyyin berkata), "Wahai Isa putra Maryam! Maukah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?" Isa berkata, "Bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman."
Bagian sentral dalam rentang ayat ini adalah dialog antara Allah dan Nabi Isa AS, serta permintaan kontroversial dari kaum Hawariyyin. Mereka meminta agar Allah menurunkan hidangan (Al-Ma'idah) dari langit sebagai mukjizat tambahan. Nabi Isa merespons dengan mengingatkan mereka tentang ketakwaan, menunjukkan bahwa iman sejati tidak bergantung pada tontonan duniawi, melainkan pada ketaatan hati.
Allah mengingatkan Isa akan nikmat-nikmat-Nya, seperti dukungan dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril), kemampuan berbicara sejak dalam buaian, serta penguasaan atas Taurat dan Injil. Ayat-ayat ini memperjelas posisi kenabian Isa sebagai seorang hamba dan rasul Allah, bukan sebagai Tuhan.
قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمَ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
(119) Allah berfirman, "Inilah hari ketika orang-orang yang benar imannya memperoleh manfaat dari kebenaran mereka. Bagi mereka disediakan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung."
Puncak dari segmen ini adalah penegasan Allah pada Hari Perhitungan. Pada hari itu, ketulusan dan kejujuran iman para rasul dan pengikutnya yang sejati akan dibalas dengan surga yang kekal. Ini adalah penutup yang kuat, menekankan bahwa nilai tertinggi bukanlah kekuasaan duniawi atau keajaiban yang diminta secara sepihak, melainkan ketulusan dalam beriman dan mengikuti petunjuk ilahi.
Al-Ma'idah ayat 111-120 memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, ia menguatkan bahwa semua nabi, termasuk Nabi Isa AS, mengajarkan tauhid (keesaan Allah). Kedua, ia menekankan pentingnya iman yang disertai dengan ketakwaan dan penyerahan diri sejati. Ketiga, ayat-ayat ini menjadi peringatan bahwa mukjizat berfungsi sebagai bukti, namun iman yang bertahan lama adalah iman yang didasarkan pada ketaatan terhadap wahyu, bukan sekadar pemenuhan keinginan duniawi. Bagi umat Islam, ayat-ayat ini adalah penguatan posisi kenabian Muhammad SAW sebagai penyempurna risalah yang telah dibawa oleh para nabi sebelumnya.
Kisah Hawariyyin menjadi teladan bagaimana seharusnya respon seorang pengikut ketika dihadapkan pada kebenaran yang dibawa oleh rasul. Mereka memilih untuk bersaksi atas keimanan mereka, sebuah tindakan yang mendapatkan pengakuan mulia dari Allah SWT di hari penghakiman.