Ilustrasi: Simbol Wahyu dan Petunjuk
Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an yang kaya akan ajaran hukum, etika, dan kisah-kisah penting. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan karena mengandung peringatan keras dan penegasan tentang kekuasaan mutlak Allah SWT adalah Al-Maidah ayat 17. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat serius bagi manusia mengenai konsekuensi dari penolakan atau pengingkaran terhadap kebenaran yang dibawa oleh para Nabi.
Ayat 17 dari Surah Al-Maidah ini secara spesifik ditujukan kepada mereka yang melakukan kekeliruan teologis terbesar dalam pandangan Islam: yaitu menyekutukan Allah atau menetapkan bahwa Nabi Isa Al-Masih (yang dihormati sebagai salah satu nabi besar) adalah wujud fisik dari Allah sendiri. Dalam konteks sejarah turunnya ayat, ini sering dikaitkan dengan bantahan terhadap klaim beberapa kelompok Nasrani pada masa itu.
Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk menjawab klaim tersebut dengan pertanyaan retoris yang menunjukkan kelemahan klaim tersebut. Jika mereka benar-benar Tuhan, atau anak Tuhan, mengapa mereka membutuhkan perlindungan dan tunduk pada hukum sebab-akibat yang ada di dunia? Ayat ini menekankan bahwa klaim tersebut bertentangan dengan akal sehat dan prinsip dasar tauhid.
Puncak penegasan dalam ayat ini terletak pada kalimat penutup: "Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah...". Ini adalah penegasan tentang Qudrat (Kemahakuasaan) Allah SWT. Tidak ada satu entitas pun—bahkan sosok yang mereka agungkan—yang memiliki kekuatan untuk menentang atau membatalkan kehendak-Nya.
Ayat ini kemudian diperkuat dengan penegasan kepemilikan alam semesta. Kepunyaan Allah adalah kerajaan langit, bumi, dan segala isinya. Ini berarti bahwa segala sesuatu yang ada, dari atom terkecil hingga galaksi terbesar, berada dalam kendali penuh Sang Pencipta. Pengakuan ini mengharuskan manusia untuk tunduk hanya kepada-Nya, karena hanya Dia yang berhak diibadahi tanpa sekutu.
Meskipun konteks historisnya spesifik, pelajaran dari Al-Maidah ayat 17 bersifat universal dan abadi. Ayat ini menjadi peringatan bagi umat Muslim dan seluruh umat manusia agar senantiasa menjaga kemurnian akidah (tauhid). Dalam berbagai bentuk pemikiran modern, pengingkaran terhadap keesaan Tuhan bisa termanifestasi dalam bentuk lain, seperti ateisme, panteisme, atau materialisme ekstrem yang mengabaikan peran Tuhan dalam kehidupan dan alam semesta.
Ayat ini mengajarkan bahwa fondasi keimanan yang benar adalah mengakui keterbatasan makhluk dan kemahatinggian Khalik. Ketika seseorang mulai menempatkan makhluk, ideologi, atau bahkan emosi sebagai otoritas tertinggi yang setara atau di atas Allah, mereka sesungguhnya sedang mendekati bentuk penyimpangan teologis yang diperingatkan dalam ayat ini.
Dengan merenungkan ayat ini, seorang Muslim diingatkan untuk selalu bersyukur atas petunjuk yang diberikan melalui Al-Qur'an, yang menuntun dari kesesatan menuju kebenaran yang jelas. Pemahaman mendalam tentang ayat ini akan memperkuat keyakinan bahwa tidak ada kekuatan yang mampu menandingi kekuasaan Allah SWT, dan oleh karena itu, hanya kepada-Nya lah segala permohonan dan ketaatan harus diarahkan. Kesadaran akan kebesaran Allah ini menumbuhkan rasa takut (khauf) sekaligus harapan (raja') yang seimbang dalam diri seorang hamba.