Kisah Al-Maidah Ayat 70-80: Teguran Iman dan Tanggung Jawab

Ilustrasi Timbangan dan Kitab Suci Keadilan Wahyu Petunjuk Ilahi

Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran penting mengenai akidah, hukum, dan sejarah umat terdahulu. Bagian dari surat ini, khususnya ayat 70 hingga 80, memberikan penekanan kuat tentang pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah SWT, baik secara individu maupun kolektif, terutama terkait dengan ajaran para nabi.

Permintaan Kepada Ahli Kitab (Al-Maidah: 70-74)

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا ۖ كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ

(70) Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengutus kepada mereka rasul-rasul. Setiap kali seorang rasul datang kepada mereka dengan membawa sesuatu (ajaran) yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, segolongan (dari mereka) mereka dustakan dan segolongan (yang lain) mereka bunuh.

Ayat-ayat ini secara tegas mengingatkan tentang sejarah kelam Bani Israil. Allah telah mengikat perjanjian (misytaq) dengan mereka, mengirimkan para rasul, namun respons mereka sering kali berupa penolakan keras, bahkan pembunuhan terhadap utusan Allah. Ini adalah contoh nyata bagaimana hawa nafsu dapat membutakan hati manusia dari kebenaran.

Ayat 73 menambah dimensi peringatan tersebut dengan menegaskan bahwa yang mengatakan Allah itu adalah Al-Masih Isa putra Maryam adalah orang-orang yang telah kafir. Mereka secara langsung menentang tauhid murni. Ayat 74 kemudian menegaskan bahwa seharusnya mereka bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan, karena Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.

Peringatan bagi Mereka yang Terjerumus dalam Kekafiran (Al-Maidah: 75-80)

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

(75) Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar (shiddiqah). Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling.

Ayat 75 berfungsi sebagai koreksi tegas terhadap anggapan yang mengultuskan Nabi Isa AS. Beliau adalah seorang rasul, sama seperti rasul-rasul sebelumnya, dan ibunya, Maryam, adalah seorang wanita yang mulia (shiddiqah), namun keduanya tetaplah manusia biasa yang membutuhkan makanan. Pengingat ini menekankan bahwa segala bentuk pengultusan di luar batas kenabian adalah penyimpangan.

Ayat 77-78 memberikan teguran keras kepada mereka yang melampaui batas dalam memuja makhluk. Allah bertanya apakah mereka menyembah selain Allah padahal Allah adalah Yang Maha Kuasa. Kemudian datanglah ancaman keras bagi orang-orang kafir dari Bani Israil yang durhaka, yaitu laknat Allah, rasul-Nya, dan para malaikat, karena mereka terus menerus melakukan kedurhakaan dan permusuhan.

Tanggung Jawab dan Konsekuensi (Al-Maidah: 78-80)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

(78) Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Hal itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

Bagian akhir dari rentetan ayat ini (78-80) menyoroti konsekuensi dari pembangkangan tersebut. Laknat tersebut diturunkan melalui lisan dua nabi besar, Daud dan Isa, sebagai penegasan bahwa kedurhakaan mereka sudah sangat melampaui batas toleransi Ilahi. Dosa mereka bukan sekadar kesalahan, tetapi adalah 'ashaw (durhaka) dan ya'taduun (melampaui batas).

Ayat 80 menutup segmen ini dengan pernyataan bahwa orang-orang yang beriman tidak boleh mencontoh mereka. Bahkan, ketika melihat perbuatan buruk tersebut, seharusnya itu menjadi pelajaran untuk menjauhi perbuatan serupa. Allah menegaskan bahwa kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik, yang secara sadar memilih jalan kemaksiatan.

Refleksi Mengenai Tanggung Jawab

Secara keseluruhan, Al-Maidah ayat 70-80 berfungsi sebagai cermin bagi umat Islam untuk introspeksi. Pesan utamanya adalah bahwa kedudukan spiritual, kemuliaan nasab, atau kedekatan dengan para nabi tidak menjamin keselamatan jika iman tidak dibuktikan dengan ketaatan dan penolakan terhadap hawa nafsu pribadi. Setiap umat memiliki ujiannya sendiri, dan kegagalan untuk mengikuti petunjuk rasul akan berujung pada konsekuensi berat, bahkan laknat. Allah SWT selalu menekankan pentingnya memegang teguh kebenaran yang dibawa oleh rasul-rasul-Nya tanpa menuhankan unsur-unsur lain di luar batas tauhid.

Memahami ayat-ayat ini mendorong kita untuk senantiasa menjaga amanah iman, menolak segala bentuk penyimpangan akidah, dan memahami bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan, menimbang antara ketaatan dan kedurhakaan.

🏠 Homepage