Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 59
Al-Qur'an Surah Al-Maidah ayat ke-59 merupakan ayat yang memiliki signifikansi penting dalam konteks hubungan antara umat Islam dengan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), khususnya dalam hal penegasan identitas keimanan dan batasan-batasan pergaulan.
Konteks Historis dan Penegasan Iman
Ayat ini turun sebagai respons terhadap sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh sebagian kelompok Ahlul Kitab (terutama Yahudi Madinah pada masa itu) terhadap kaum Muslimin. Permusuhan ini bukan didasarkan pada cacat moral atau perbuatan buruk kaum Muslimin, melainkan murni karena perbedaan keyakinan fundamental.
Poin penting di sini adalah bahwa keimanan kaum Muslimin mencakup seluruh wahyu ilahi yang diturunkan sejak zaman Nabi Musa hingga Nabi Muhammad SAW. Dalam pandangan Islam, seorang Muslim wajib mengimani semua nabi dan kitab suci yang benar, tanpa membeda-bedakan. Sikap ini justru menunjukkan integritas keimanan yang sejati, yang seharusnya dihargai, bukan dimusuhi.
Mengapa Permusuhan Itu Terjadi?
Ayat tersebut kemudian memberikan diagnosis atas akar masalah permusuhan tersebut, yaitu pada bagian akhir: "dan karena kebanyakan di antara kamu adalah orang-orang yang fasik." Kata "fasik" di sini memiliki makna mendalam. Secara harfiah berarti keluar dari ketaatan atau melanggar batas.
Dalam konteks ini, kefasikan Ahlul Kitab yang dimaksud merujuk pada beberapa hal:
- Penolakan Kebenaran yang Baru: Mereka menolak keras kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, meskipun kebenaran tersebut konsisten dengan prinsip tauhid yang telah mereka terima sebelumnya.
- Penyimpangan Ajaran: Banyak dari mereka yang telah menyembunyikan atau mengubah sebagian ajaran kitab suci mereka sendiri demi kepentingan duniawi atau mempertahankan status sosial mereka.
- Sikap Iri Hati dan Kesombongan: Adanya rasa iri karena kenabian dan risalah terakhir jatuh kepada bangsa Arab (Ismailiyah) dan bukan dari kalangan mereka (Bani Israil).
Al-Maidah 59 dan Prinsip Toleransi
Meskipun ayat ini berbicara tentang permusuhan yang diakibatkan oleh perbedaan akidah, pesan universalnya adalah bahwa komunitas Muslim harus bersikap jelas mengenai identitas keimanannya. Ayat ini tidak menganjurkan pembalasan permusuhan dengan permusuhan yang sama dalam ranah ibadah, melainkan menelanjangi motif permusuhan tersebut: yaitu kebencian terhadap kebenaran tauhid yang sempurna.
Dalam tradisi Islam, pengakuan terhadap nabi-nabi sebelumnya (yang merupakan inti dari klaim keimanan Muslim dalam ayat ini) menjadi landasan kuat bagi toleransi antar agama. Muslim beriman pada Musa dan Isa, oleh karena itu, tidak ada alasan logis untuk membenci pengikut sah mereka, kecuali jika pengikut tersebut telah melakukan pelanggaran substansial terhadap ajaran ilahi yang mereka pegang sendiri.
Implikasi pada Kehidupan Kontemporer
Memahami Al-Maidah ayat 59 memberikan pelajaran penting bagi umat Islam hari ini. Ketika dihadapkan pada kritik atau penolakan terhadap ajaran Islam, seorang Muslim perlu menganalisis: apakah kritik tersebut datang dari ketidaktahuan, ataukah ia didorong oleh kefasikan (kesengajaan untuk menentang kebenaran yang diyakini)?
Ayat ini mengajak umat beriman untuk teguh dalam pondasi keimanan mereka—yaitu beriman kepada semua wahyu—sekaligus melakukan introspeksi terhadap pihak yang memusuhi. Teguh pada iman bukanlah berarti memusuhi manusia, tetapi menegaskan bahwa sumber masalah seringkali bukan terletak pada perbedaan kecil, melainkan pada penolakan fundamental terhadap kebenaran itu sendiri, yang dibungkus dalam kesombongan dan kefasikan. Dengan demikian, ayat ini adalah seruan untuk konsistensi iman di tengah gejolak perbedaan pandangan.