Surah Al-Isra, atau sering juga disebut Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Ayat-ayat permulaan surah ini memiliki kedudukan yang sangat penting karena mengandung penggalan kisah agung perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra' Mi'raj, sekaligus penegasan akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
Memahami arti dari Surah Al-Isra ayat 1 hingga 3 memberikan kita fondasi kuat mengenai hakikat keimanan, kesucian Rasulullah, dan bagaimana Allah melindungi hamba-Nya yang bertakwa.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Subhaanalladzii asraa bi 'abdihi lailam minal Masjidil Haraami ilal Masjidil Aqshal-ladzii baaraknaa haulahuu linuriyahu min aayaatinaa, innahu huwas Samii'ul Bashiir.
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat pertama ini membuka lembaran sejarah dengan pujian tertinggi kepada Allah SWT: Subhaanallah (Maha Suci Allah). Pujian ini bukan sekadar ucapan biasa, melainkan pengakuan bahwa peristiwa luar biasa yang terjadi setelahnya—perjalanan malam (Isra')—hanyalah mungkin terjadi karena kekuasaan mutlak-Nya.
“Memperjalankan hamba-Nya” menegaskan status Nabi Muhammad SAW sebagai hamba (Abd), yang menunjukkan kerendahan hati sekaligus kedekatan beliau dengan Pencipta. Perjalanan ini dimulai dari Masjidil Haram (Mekkah) dan berakhir di Masjidil Aqsa (Yerusalem), sebuah rute yang sangat jauh jika ditempuh secara normal dalam waktu satu malam.
Tujuan utama Isra' ini disebutkan dengan jelas: “agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” Ini adalah demonstrasi kuasa Allah yang luar biasa, mempersiapkan Nabi untuk perjalanan Mi'raj selanjutnya (kenaikan ke langit) dan memberikan bukti nyata akan kebenaran risalahnya kepada kaum yang meragukan.
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا
Wa aataynaa Muusal Kitaaba wa ja'alnaahu hudan li Banii Israaiila al-laa tattakhidzuu min duunii wakiilaa.
Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
Setelah membahas keajaiban pada Nabi Muhammad SAW, ayat kedua beralih mengisahkan perjalanan kenabian sebelumnya, yaitu Nabi Musa AS. Allah memberikan Taurat kepada Nabi Musa sebagai petunjuk bagi Bani Israil.
Fokus utama ayat ini adalah peringatan keras: “Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku.” Ini menekankan konsep tauhid murni. Keberhasilan Bani Israil dalam mengikuti petunjuk Allah selalu bergantung pada seberapa teguh mereka berpegang kepada Allah sebagai satu-satunya Waliy (Pelindung dan Penolong).
ذُرِّيَّةَ مَنْ أَنْعَمْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
Dzurriyyata man an'amnaa ma'a Nuuh, innahu kaana 'abdan syakuuraa.
(Yaitu) keturunan orang-orang yang telah Kami anugerahi rahmat bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah seorang hamba (Allah) yang sangat bersyukur.
Ayat ketiga ini memberikan konteks historis dan spiritual yang mendalam. Frasa “keturunan orang-orang yang telah Kami anugerahi rahmat bersama Nuh” merujuk kepada orang-orang yang selamat dari banjir besar bersama Nabi Nuh AS, yang kemudian menjadi cikal bakal bagi para nabi selanjutnya, termasuk Nabi Musa.
Penutup ayat ini memuji Nabi Nuh AS dengan sifat yang sangat agung: “Sesungguhnya dia adalah seorang hamba (Allah) yang sangat bersyukur.” Sifat syukur ini menjadi kunci mengapa Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada keturunannya dan kepada para nabi setelahnya. Syukur adalah jalan menuju keberkahan dan pertolongan ilahi.
Secara keseluruhan, Surah Al-Isra ayat 1-3 mengajarkan beberapa poin fundamental:
Dengan merenungi ayat-ayat ini, seorang muslim diingatkan untuk selalu mengagungkan kebesaran Allah dalam setiap peristiwa, menjauhkan diri dari kesyirikan dalam segala bentuknya, dan senantiasa menjaga lisan dan hati untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya.