Memahami Ayat Kebaikan dan Pertolongan: Al-Maidah Ayat 2

Surat Al-Maidah adalah surat ke-lima dalam urutan mushaf Al-Qur'an, yang dikenal sebagai salah satu surat Madaniyah. Ayat-ayat di dalamnya sarat dengan hukum, adab, dan prinsip-prinsip sosial dalam Islam. Salah satu ayat yang sangat fundamental dalam membangun etika bermasyarakat dan berinteraksi adalah Al-Maidah ayat 2. Ayat ini menjadi landasan penting mengenai kerjasama dalam kebaikan dan larangan keras terhadap kerjasama dalam permusuhan.

Ilustrasi Prinsip Kebaikan dan Keadilan

Teks Asli dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 2

Ayat ini menegaskan sebuah kaidah universal dalam muamalah (interaksi sosial) bagi umat Islam. Berikut adalah lafal aslinya diikuti terjemahannya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan (pula) melanggar kehormatan bulan Haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang korban (yang dibawa ke Baitullah), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya. Dan apabila kamu telah menghalalkan (berihram), maka burulah (binatang buruan). Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Inti Pesan Utama: Tolong Menolong dalam Kebaikan

Meskipun ayat ini diawali dengan larangan-larangan spesifik yang berkaitan dengan musim haji, ritual keagamaan, dan interaksi dengan kaum Quraisy pada masa itu, bagian penutup ayat ini mengandung pesan yang bersifat universal dan abadi, yaitu: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (Wa ta'awanu 'alal birri wat taqwa, wa la ta'awanu 'alal itsmi wal 'udwan).

Frasa "Al-Birr" (kebajikan) mencakup segala bentuk kebaikan yang diperintahkan Allah, baik yang bersifat ritual (ibadah mahdhah) maupun yang bersifat sosial (muamalah). Sementara "At-Taqwa" (ketakwaan) adalah landasan untuk menjaga diri dari hal-hal yang dilarang. Ayat ini secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk membangun jaringan solidaritas yang positif. Jika ada program sosial, bantuan kemanusiaan, penegakan keadilan, atau dakwah, seorang Muslim wajib berpartisipasi dan mendukungnya.

Larangan Mutlak: Bersekutu dalam Kejahatan

Sebaliknya, Allah SWT melarang keras adanya bentuk kerjasama dalam dosa (*itsm*) dan permusuhan (*udwan*). Kerjasama dalam dosa berarti membantu merealisasikan kemaksiatan, baik itu penipuan, riba, penyebaran fitnah, maupun pelanggaran syariat lainnya. Lebih jauh lagi, larangan ini mencakup permusuhan (*udwan*), yaitu melampaui batas keadilan dan menindas orang lain.

Sebagai contoh, meskipun seorang Muslim memiliki konflik pribadi dengan kelompok tertentu, ia tidak diperbolehkan untuk bersatu dengan kelompok ketiga (yang mungkin memusuhi kelompok kedua tersebut) hanya untuk tujuan merugikan kelompok kedua, terutama jika tindakan itu melanggar batas keadilan. Bahkan, ayat ini memberikan peringatan keras: "Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." Ini menunjukkan bahwa prinsip keadilan (keseimbangan) harus selalu di atas emosi kebencian.

Keadilan Sebagai Pilar Ketakwaan

Penutup ayat ini menekankan bahwa keadilan (*al-'adl*) adalah manifestasi nyata dari ketakwaan. Dalam konteks sosial dan politik, ini berarti bahwa hubungan antarmanusia harus didasarkan pada timbangan yang benar, terlepas dari afiliasi agama, suku, atau ideologi. Ketika seseorang bersikap adil, ia telah menempatkan dirinya pada posisi yang paling dekat dengan standar ketakwaan yang ditetapkan Allah.

Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap Al-Maidah ayat 2 memberikan panduan moral yang kuat bagi umat Islam. Ia mengajarkan pentingnya membangun komunitas yang solid dalam kebaikan, sementara secara tegas menarik garis batas untuk tidak terlibat dalam proyek-proyek yang merusak moral dan merugikan sesama manusia, apalagi jika merugikan umat manusia secara keseluruhan.

Memahami dan mengamalkan ayat ini merupakan kunci untuk menciptakan masyarakat yang harmonis, di mana prinsip tolong-menolong diprioritaskan untuk kemaslahatan bersama, dan prinsip keadilan dijunjung tinggi di atas segala bentuk prasangka.

🏠 Homepage