Menelusuri Ayat Masjidil Aqsa

Ilustrasi Kubah Batu Masjidil Aqsa

Kedudukan Spiritual Masjidil Aqsa

Masjidil Aqsa, yang secara harfiah berarti "Masjid terjauh," adalah salah satu situs paling suci dalam Islam, setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Keagungannya tidak hanya terletak pada arsitekturnya yang bersejarah, tetapi terutama pada landasan teologis yang kuat yang tertuang dalam berbagai ayat suci Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat ini menegaskan peran sentralnya sebagai kiblat pertama umat Islam dan lokasi peristiwa Isra' Mi'raj yang monumental.

Ayat Penting Tentang Isra' dan Al-Aqsa

Rujukan paling eksplisit mengenai kesucian tempat ini tertera dalam Surat Al-Isra' ayat pertama. Ayat inilah yang menjadi fondasi utama keutamaan Masjidil Aqsa di mata umat Muslim di seluruh dunia.

QS. Al-Isra’ [17]: 1

"Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini saksi bisu perjalanan agung Nabi Muhammad SAW. Frasa "yang telah Kami berkahi sekelilingnya" menekankan bahwa keberkahan ilahi tidak hanya meliputi bangunan masjid itu sendiri, tetapi juga wilayah sekitarnya yang merupakan tanah suci Syam (Palestina). Keberkahan ini mencakup spiritualitas, kesuburan, dan keutamaan hidup di sana.

Keutamaan Shalat di Masjidil Aqsa

Selain ayat yang menyebutkan secara langsung, berbagai hadis Nabi SAW memperkuat nilai spiritual Masjidil Aqsa. Salah satu keutamaan yang sering dikutip adalah pahala shalat di dalamnya. Ini memberikan motivasi besar bagi umat Islam untuk berziarah dan beribadah di sana, meskipun tantangan geografis dan politik seringkali menghadang.

Menurut riwayat shahih, shalat di Masjidil Aqsa memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Keutamaan ini menjadikan Aqsa sebagai destinasi spiritual yang tak ternilai. Banyak ulama tafsir juga menghubungkan ayat-ayat tentang tanah yang diberkahi dengan perintah untuk menjaga dan mempertahankan kesuciannya.

Hubungan dengan Kiblat Pertama

Sebelum Ka'bah ditetapkan sebagai kiblat permanen, umat Islam di masa awal diperintahkan untuk menghadap ke arah Masjidil Aqsa saat menunaikan shalat. Meskipun kini kiblat telah berpindah, fakta historis ini menempatkan Aqsa pada posisi istimewa sebagai kiblat pertama (Al-Qiblatul Ula).

Meskipun Al-Qur'an tidak secara spesifik menyebutkan "kiblat pertama" dalam kaitannya dengan Aqsa, penetapan arah shalat temporer ini tertera dalam hadis-hadis yang menjelaskan proses perubahan kiblat. Ayat-ayat mengenai ketetapan kiblat kedua (di Al-Baqarah) secara implisit mengakhiri periode penghormatan khusus terhadap arah Aqsa, namun tidak menghilangkan kemuliaannya sebagai masjid ketiga yang diagungkan.

Tantangan dan Komitmen Umat

Memahami ayat-ayat yang mengagungkan Masjidil Aqsa mendorong kesadaran kolektif umat Islam akan tanggung jawab pemeliharaannya. Wilayah ini terus menjadi pusat perhatian global karena signifikansi sejarah, agama, dan politiknya. Ayat-ayat yang telah disebutkan di atas berfungsi sebagai pengingat abadi akan janji ilahi atas keberkahan tempat tersebut dan pentingnya menjaga kehormatan rumah ibadah yang agung ini. Setiap muslim yang mendalami makna ayat Masjidil Aqsa akan merasakan panggilan spiritual yang mendalam untuk menghormati dan mendoakan kedamaian di sana.

🏠 Homepage