Surah Al-Zalzalah (Kegoncangan), surah ke-99 dalam Al-Qur'an, memiliki delapan ayat yang menggambarkan hari kiamat dengan gambaran yang sangat dahsyat. Setiap ayatnya membangun ketegangan naratif, mulai dari guncangan bumi yang luar biasa, hingga dikeluarkan segala isinya. Namun, inti kekuatan dan peringatan terbesar surah ini tersimpan dalam satu ayat penutup yang singkat namun mengandung makna universal tentang pertanggungjawaban.
Ayat terakhir dari Surah Al-Zalzalah (ayat 8) berbunyi:
"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat hasilnya (balasan). Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya (balasan)."
Kata kunci utama dalam ayat penutup ini adalah "miqala dzarrah", yang diterjemahkan sebagai seberat zarrah atau seberat biji sawi. Dalam konteks bahasa Arab klasik, 'dzarrah' merujuk pada partikel terkecil yang tidak dapat dibagi lagi, analogi yang sangat kuat untuk menunjukkan skala terkecil dari suatu perbuatan.
Ayat ini berfungsi sebagai penutup sekaligus penegasan ulang bahwa di hadapan Allah SWT, tidak ada perbuatan, sekecil apapun itu, yang luput dari perhitungan. Konsep ini menegaskan prinsip keadilan ilahi yang sempurna. Keadilan di hari kiamat bukanlah berdasarkan jumlah atau kuantitas, melainkan berdasarkan kualitas dan niat yang melekat pada setiap tindakan, baik maupun buruk.
Bayangkan seseorang yang melakukan kebaikan kecil—sebuah senyuman tulus, menyingkirkan duri dari jalan, atau memberikan setetes air kepada yang kehausan—mungkin ia meremehkannya. Namun, ayat ini menjamin bahwa kebaikan tersebut akan dibalas. Sebaliknya, tindakan kemaksiatan atau kezaliman sekecil apa pun yang dilakukan secara diam-diam atau dianggap remeh oleh pelakunya, akan dihadirkan kembali di hadapannya.
Surah Al-Zalzalah dimulai dengan gambaran kehancuran total (guncangan bumi yang dahsyat), yang menyiratkan berakhirnya kehidupan duniawi dan dimulainya perhitungan akhir. Ketika struktur dunia telah runtuh, harta benda, pangkat, dan status sosial menjadi tidak berarti. Yang tersisa hanyalah catatan amal perbuatan individual.
Ayat terakhir ini memastikan bahwa proses perhitungan tersebut bersifat transparan dan adil. Tidak ada tempat untuk manipulasi atau intervensi. Ini adalah manifestasi sempurna dari sifat Al-'Adl (Yang Maha Adil) dan Al-Hakeem (Yang Maha Bijaksana).
Bagi seorang mukmin, pemahaman terhadap ayat ini memberikan motivasi luar biasa. Ia mendorong kita untuk senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatan, menyadari bahwa setiap detik kehidupan adalah kesempatan untuk mengumpulkan bekal. Pepatah mengatakan bahwa 'kebaikan kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan timbunan pahala yang besar', dan ayat inilah landasan spiritualnya.
Implikasi dari ayat ini sangat mendalam bagi psikologi spiritual seorang Muslim. Pertama, ia memberikan harapan besar bagi mereka yang merasa upayanya kecil dalam berbuat baik di tengah kesulitan. Kedua, ia menjadi peringatan keras (serta pencegah) bagi siapa saja yang berniat melakukan keburukan, seolah-olah tidak ada yang melihat.
Ayat ini melatih jiwa untuk selalu berada dalam keadaan muraqabah (merasa diawasi) oleh Tuhan. Ketika kita tahu bahwa bahkan keputusan hati dan gerakan fisik seberat debu terkecil pun tercatat, otomatis kita akan mengoreksi diri secara berkelanjutan. Ini adalah mekanisme koreksi diri yang paling kuat dalam ajaran Islam.
Dengan demikian, ayat terakhir Surah Al-Zalzalah bukan sekadar penutup surah tentang kiamat, melainkan sebuah jaminan permanen mengenai akuntabilitas total. Ini adalah pengingat bahwa kehidupan dunia adalah ladang tanam, dan hari perhitungan adalah saat panen, di mana tidak ada satu pun biji yang ditanam yang akan hilang atau terabaikan.