Menghitung Jumlah Ayat Sajdah Tilawah dalam Kitab Suci Al-Qur'an

Simbol Sajdah Representasi geometris seorang Muslim dalam posisi sujud atau Sajdah.

Prostrasi kepada Sang Pencipta

Pengantar Mengenai Ayat Sajdah (Sajdah Tilawah)

Pertanyaan mengenai berapa ayat sajdah yang ada dalam Al-Qur'an merupakan salah satu pembahasan fundamental dalam ilmu fikih dan ilmu Al-Qur'an. Ayat Sajdah, atau yang dikenal sebagai Sajdah Tilawah, adalah ayat-ayat tertentu yang apabila dibaca atau didengar, disunnahkan atau diwajibkan (tergantung madzhab) bagi seorang Muslim untuk melakukan sujud (prostrasi) tunggal di luar salat.

Hukum pelaksanaan Sajdah Tilawah ini berlandaskan pada praktik Rasulullah ﷺ. Ketika beliau membaca ayat yang mengandung perintah sujud atau menggambarkan para malaikat dan makhluk lain yang bersujud, beliau segera sujud, dan para sahabat pun mengikuti. Ini adalah manifestasi ketaatan yang segera dan pengakuan akan kebesaran Allah SWT yang digambarkan dalam ayat tersebut.

Secara umum, mayoritas ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah, termasuk dalam Madzhab Syafi'i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi, bersepakat mengenai jumlah dan lokasi ayat-ayat sujud ini, meskipun terdapat sedikit perbedaan pandangan mengenai hukumnya (wajib atau sunnah muakkadah) dan dua lokasi spesifik. Penentuan jumlah ini memerlukan analisis mendalam terhadap riwayat sahih dan konsensus para ahli tafsir dan fikih sepanjang masa.

Konsensus Jumlah Ayat Sajdah: Angka yang Disepakati

Berdasarkan riwayat yang paling kuat dan konsensus para ulama fikih dari generasi ke generasi (terutama riwayat yang digunakan dalam mushaf standar yang tersebar luas di seluruh dunia Islam), jawaban atas pertanyaan "berapa ayat sajdah yang ada dalam Al-Qur'an" adalah 15 (lima belas) ayat.

Angka 15 ini diakui secara luas dan ditandai dengan simbol Sajdah (biasanya berupa mihrab kecil atau tulisan 'سجدة') pada margin mushaf. Namun, penting untuk dicatat bahwa ada perbedaan pendapat historis yang mengakibatkan beberapa madzhab menghitung 14 atau bahkan 16, tergantung pada interpretasi mereka terhadap dua ayat dalam Surah Al-Hajj dan satu ayat dalam Surah Sad.

Untuk memahami kedalaman masalah ini, kita harus merinci ke-15 ayat tersebut. Setiap ayat ini mengandung makna yang luar biasa, sering kali mengakhiri deskripsi kekuasaan Allah, penciptaan alam semesta, atau penolakan kaum musyrikin terhadap kebenaran, diikuti dengan perintah tegas untuk bersujud sebagai tanda penyerahan total.

Rincian Lokasi dan Tinjauan 15 Ayat Sajdah Tilawah

Berikut adalah daftar lengkap 15 lokasi Sajdah Tilawah dalam Al-Qur'an, diurutkan sesuai dengan urutan mushaf, beserta analisis ringkas mengenai konteks teologis yang mendasari prostrasi pada ayat tersebut.

  1. 1. Surah Al-A'raf (7): Ayat 206

    Lokasi ini berada di akhir Surah Al-A'raf, Juz 9. Ayat ini berbicara tentang para malaikat yang senantiasa beribadah dan tidak pernah sombong untuk sujud kepada Allah.

    إِنَّ الَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ ۩

    Konteks: Ayat ini menjadi Sajdah yang pertama karena menuntut kita untuk meneladani kesempurnaan ketaatan para malaikat, yang tidak pernah merasa angkuh untuk beribadah dan bersujud kepada Pencipta. Prostrasi ini menekankan bahwa kerendahan hati adalah sifat utama seorang hamba.

    Analisis Fiqih: Tidak ada perselisihan mengenai Sajdah ini. Semua madzhab sepakat bahwa membaca atau mendengarnya menuntut Sajdah Tilawah.

  2. 2. Surah Ar-Ra’d (13): Ayat 15

    Terletak di Juz 13. Ayat ini menggambarkan kepatuhan mutlak seluruh ciptaan, baik yang ada di langit maupun di bumi, terhadap kekuasaan Allah.

    وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُم بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ۩

    Konteks: Sajdah kedua ini mengukuhkan bahwa semua yang ada di alam semesta bersujud, baik secara sukarela (manusia beriman) maupun terpaksa (bayangan dan hukum alam). Manusia yang sadar akan hakikat ini dianjurkan untuk mengikuti fitrah alam semesta dengan bersujud.

    Analisis Fiqih: Sajdah ini juga diterima secara universal oleh seluruh ulama sebagai titik Sajdah Tilawah yang sah.

  3. 3. Surah An-Nahl (16): Ayat 49

    Berada di Juz 14. Ayat ini kembali menegaskan bahwa segala sesuatu yang melata di bumi dan malaikat di langit tunduk dan bersujud kepada Allah tanpa kesombongan.

    وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِن دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩

    Konteks: Ayat ini memperluas cakupan prostrasi dari makhluk hidup (dabbah) hingga makhluk cahaya (malaikat). Pelaksanaan Sajdah di sini adalah pengakuan bahwa manusia, sebagai makhluk yang diberi akal, seharusnya berada di garis terdepan dalam kepatuhan ini.

    Analisis Fiqih: Konsensus kuat mengenai kewajiban atau kesunnahan Sajdah pada ayat ini.

  4. 4. Surah Al-Isra' (17): Ayat 107-109

    Ayat Sajdah dalam Surah Al-Isra' (Juz 15) seringkali merujuk pada ayat 109, yang menggambarkan kondisi orang-orang beriman ketika mendengar wahyu Allah, mereka sujud dalam tangisan.

    قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا ۩

    Konteks: Ayat ini memuji respons emosional dan spiritual kaum berilmu terdahulu (seperti Ahli Kitab yang jujur) terhadap kebenaran Al-Qur'an. Mereka sujud karena kerendahan hati dan ketakutan akan kebesaran firman tersebut. Sajdah ini adalah imitasi terhadap respons mulia tersebut.

    Analisis Fiqih: Merupakan Sajdah yang disepakati tanpa keraguan.

  5. 5. Surah Maryam (19): Ayat 58

    Ayat ini terletak di Juz 16, yang menceritakan kisah para nabi besar (Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa). Ayat ini menggambarkan kesucian dan ketaatan para nabi tersebut.

    ... إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩

    Konteks: Serupa dengan Sajdah sebelumnya, ini menekankan tradisi para nabi dan orang saleh yang segera bersujud saat mendengar ayat-ayat Allah. Sujud di sini diikuti dengan tangisan (bukan hanya sujud fisik, tetapi spiritual yang mendalam).

    Analisis Fiqih: Konsensus penuh dari empat madzhab mengenai Sajdah ini.

  6. 6. Surah Al-Hajj (22): Ayat 18

    Terletak di awal Juz 17. Ayat ini mencakup daftar panjang ciptaan Allah yang tunduk kepada-Nya: matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, hewan melata, dan banyak manusia.

    أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ ... ۩

    Konteks: Ayat ini merupakan penegasan yang sangat kuat tentang kosmik Sajdah (sujud alam semesta). Ayat ini menginspirasi manusia untuk bergabung dalam paduan suara kepatuhan alam. Prostrasi ini adalah pengakuan atas keharmonisan total di bawah kehendak Ilahi.

    Analisis Fiqih: Ayat ini adalah Sajdah pertama dari dua Sajdah dalam Surah Al-Hajj, yang disepakati oleh semua madzhab.

  7. 7. Surah Al-Hajj (22): Ayat 77

    Terletak di akhir Surah Al-Hajj (Juz 17). Ayat ini merupakan penutup yang berisi seruan langsung kepada kaum beriman untuk rukuk, sujud, beribadah, dan berbuat baik.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩

    Konteks: Ayat ini sangat istimewa karena merupakan Sajdah yang disepakati oleh Madzhab Syafi'i dan Hanbali, menjadikan Surah Al-Hajj memiliki dua Sajdah. Namun, Madzhab Hanafi dan Maliki umumnya tidak menghitung ayat ini sebagai Sajdah Tilawah (melainkan hanya sebagai perintah umum ibadah). Dalam mushaf modern, ayat ini umumnya ditandai sebagai Sajdah, sehingga menambah jumlah total menjadi 15.

    Alasan Adanya Sajdah: Karena terdapat perintah langsung ("وَاسْجُدُوا" - dan sujudlah kalian), ulama berpendapat bahwa ini menuntut sujud segera saat dibaca.

  8. 8. Surah Al-Furqan (25): Ayat 60

    Berada di Juz 19. Ayat ini mengkritik kaum musyrikin yang menolak bersujud kepada Allah Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman) ketika diperintahkan.

    وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا ۩

    Konteks: Sajdah ini adalah respons langsung terhadap penolakan. Ketika kaum musyrikin menolak, kaum beriman harus segera bersujud sebagai penegasan iman dan penolakan terhadap kesombongan mereka. Ini adalah Sajdah penegasan akidah.

    Analisis Fiqih: Disepakati secara luas.

  9. 9. Surah An-Naml (27): Ayat 26

    Terletak di Juz 19. Ini adalah bagian dari kisah Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman AS, di mana Balqis dan kaumnya menyembah matahari. Ayat ini menuntun kepada sujud kepada Allah, Rabb yang mengetahui segala rahasia.

    اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ۩

    Konteks: Meskipun ayat sebelumnya menyebutkan larangan sujud kepada selain Allah, Sajdah ini datang setelah pengakuan terhadap keesaan Allah sebagai Rabb ‘Arsy yang Agung. Sajdah ini adalah pemurnian tauhid.

    Analisis Fiqih: Konsensus empat madzhab.

  10. 10. Surah As-Sajdah (32): Ayat 15

    Surah ini dinamakan "As-Sajdah" karena mengandung ayat sujud yang tegas, terletak di Juz 21. Ayat ini memuji sifat orang-orang beriman sejati yang segera bersujud saat diingatkan tentang ayat-ayat Allah.

    إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩

    Konteks: Ayat ini adalah puncak pujian bagi orang-orang beriman sejati. Sajdah ini adalah tanda keimanan yang sempurna, diiringi dengan tasbih dan penolakan terhadap kesombongan. Karena pentingnya, Surah ini sering dibaca pada salat Subuh hari Jumat.

    Analisis Fiqih: Merupakan Sajdah yang disepakati mutlak.

  11. 11. Surah Sad (38): Ayat 24

    Terletak di Juz 23. Ayat ini adalah bagian dari kisah Nabi Daud AS ketika beliau menyadari kesalahannya dalam penghakiman. Ayat ini menyatakan bahwa Daud bersujud dan bertaubat.

    ... وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ ۩

    Konteks: Ayat ini unik. Sebagian besar ulama (Madzhab Syafi'i dan Hanbali) menganggapnya sebagai Sajdah Tilawah. Namun, Madzhab Hanafi menganggapnya sebagai Sajdah Syukr (sujud syukur) karena merupakan kisah taubat Nabi Daud, bukan Sajdah yang disyariatkan atas pembacaan firman umum. Meskipun demikian, dalam mushaf standar, ayat ini ditandai sebagai Sajdah Tilawah.

    Keputusan Umum: Dihitung sebagai bagian dari 15 Sajdah, mengikuti riwayat kuat dari Ibnu Abbas RA.

  12. 12. Surah Fussilat (41): Ayat 38

    Berada di Juz 24. Ayat ini mengecam mereka yang sombong untuk beribadah dan mengingatkan bahwa para malaikat selalu bertasbih dan sujud kepada Allah.

    فَإِنِ اسْتَكْبَرُوا فَالَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ ۩

    Konteks: Sajdah ini adalah antitesis terhadap kesombongan. Jika manusia menolak, maka makhluk-makhluk mulia di sisi Allah tetap sujud tanpa pernah lelah. Manusia diingatkan untuk memilih jalan ketaatan, bukan kesombongan.

    Analisis Fiqih: Konsensus penuh.

  13. 13. Surah An-Najm (53): Ayat 62

    Ayat Sajdah pertama yang berada di akhir Al-Qur'an, Juz 27. Surah An-Najm sendiri merupakan salah satu surah pertama yang dibacakan Rasulullah ﷺ di hadapan publik Makkah, menyebabkan orang-orang beriman dan musyrikin sujud.

    فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا ۩

    Konteks: Ayat ini adalah perintah tegas dan sederhana: "Maka sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." Karena perintahnya yang eksplisit, Sajdah ini memiliki dampak spiritual yang kuat dan tidak diperdebatkan.

    Analisis Fiqih: Disepakati universal.

  14. 14. Surah Al-Insyiqaq (84): Ayat 21

    Terletak di Juz 30 (Juz Amma). Ayat ini merupakan bagian dari deskripsi hari Kiamat dan keajaiban penciptaan, diikuti dengan teguran bagi mereka yang tidak beriman.

    وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ ۩

    Konteks: Ayat ini adalah pertanyaan retoris yang mengecam: "Dan apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau bersujud?" Pembacaan ayat ini berfungsi sebagai teguran dan perintah implisit bagi pendengar untuk segera melakukan apa yang ditolak oleh kaum kafir.

    Analisis Fiqih: Merupakan Sajdah yang disepakati.

  15. 15. Surah Al-'Alaq (96): Ayat 19

    Sajdah terakhir dalam mushaf, berada di Juz 30. Ayat ini mengakhiri kisah tentang Abu Jahal yang berusaha menghalangi Nabi Muhammad ﷺ salat. Ayat ini menegaskan perintah untuk mendekat kepada Allah melalui sujud.

    كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب ۩

    Konteks: Ayat ini adalah perintah untuk menolak rayuan buruk dan segera mencari kedekatan Ilahi melalui prostrasi ("Sujudlah dan dekatkanlah dirimu"). Ini adalah Sajdah yang paling dekat dengan akhir Al-Qur'an.

    Analisis Fiqih: Konsensus penuh dari empat madzhab.

Perbedaan Fikih dan Hukum Sajdah Tilawah

Meskipun jumlah 15 Sajdah disepakati oleh mayoritas madzhab Syafi'i dan Hanbali, terdapat nuansa penting dalam hal hukum dan jumlah total yang dihitung oleh madzhab lain. Memahami perbedaan ini sangat krusial dalam menjawab dengan tepat pertanyaan "berapa ayat sajdah yang ada dalam Al-Qur'an" dari sudut pandang fikih tertentu.

Pendekatan Madzhab dalam Menghitung Ayat Sajdah

Kesimpulan Numerik: Meskipun terdapat variasi fikih, jawaban yang paling umum dan diakui secara luas, yang diterapkan dalam penandaan mushaf internasional, adalah 15 Sajdah Tilawah.

Kedalaman Spiritual di Balik 15 Lokasi Sujud

Setiap Sajdah Tilawah tidak hanya sekadar gerakan fisik; ia adalah respons teologis terhadap tema yang disajikan dalam ayat tersebut. Analisis terhadap ke-15 Sajdah ini mengungkapkan pola tematik yang mendalam tentang hubungan manusia dan Sang Pencipta.

1. Sajdah Kepatuhan Malaikat (Al-A'raf, An-Nahl, Fussilat)

Tiga lokasi Sajdah ini secara khusus menyoroti ketaatan mutlak malaikat dan seluruh makhluk alam semesta. Ketika kita bersujud di sini, kita menyatakan solidaritas kita dengan ketaatan kosmis. Kita menolak sifat Iblis yang menolak sujud karena kesombongan, dan memilih jalan para malaikat yang penuh kerendahan hati.

2. Sajdah Kesaksian Alam (Ar-Ra’d, Al-Hajj ke-1)

Ayat-ayat seperti Ar-Ra'd 15 dan Al-Hajj 18 menggambarkan matahari, bulan, gunung, dan bayangan yang bersujud. Ini menunjukkan bahwa Sajdah adalah bahasa universal ciptaan. Manusia bersujud di sini sebagai kesaksian bahwa ia adalah bagian integral dari tatanan kosmik yang tunduk kepada Allah. Keindahan ini memerlukan perenungan mendalam.

3. Sajdah Respon Kenabian dan Ilmu (Al-Isra', Maryam, As-Sajdah)

Tiga lokasi ini (terutama Al-Isra' 109, Maryam 58, dan As-Sajdah 15) menggambarkan respon para nabi dan kaum berilmu terhadap wahyu. Mereka tidak hanya bersujud, tetapi juga menangis dan bertasbih, menunjukkan kepekaan spiritual yang tinggi. Sajdah di titik-titik ini adalah upaya meniru kesalehan tertinggi para pendahulu yang tulus.

4. Sajdah Penolakan Kesombongan (Al-Furqan, An-Najm, Al-Insyiqaq, Al-'Alaq)

Empat Sajdah di bagian akhir Al-Qur'an ini sering kali datang setelah deskripsi atau kecaman terhadap kaum musyrikin yang enggan bersujud. Ketika kita membaca "Mereka tidak mau bersujud" (Al-Insyiqaq 21), maka kita segera melakukan prostrasi untuk membedakan diri kita dari kaum yang menolak dan memastikan bahwa kita adalah hamba yang taat. Sajdah ini adalah deklarasi identitas.

5. Sajdah Sejarah dan Taubat (An-Naml, Sad)

Sajdah dalam Surah An-Naml (kisah Nabi Sulaiman) dan Surah Sad (kisah Nabi Daud) terikat pada narasi historis. Sajdah di Surah Sad khususnya merupakan respons terhadap taubat dan kesadaran diri akan kesalahan. Ini mengajarkan bahwa Sajdah adalah alat untuk bertaubat, merendahkan diri, dan memohon ampunan segera setelah menyadari kekurangan diri.

Dengan demikian, ke-15 Sajdah ini bukan hanya hitungan matematis, melainkan peta jalan spiritual yang memandu pembaca untuk segera merespon kebesaran, kekuasaan, dan keagungan Allah dalam berbagai konteks naratif dan teologis.

Tata Cara dan Syarat Sah Sajdah Tilawah

Karena Sajdah Tilawah adalah ibadah, ia memiliki syarat dan rukun yang harus dipenuhi, meskipun terdapat perbedaan madzhab mengenai beberapa detail. Secara umum, Sajdah Tilawah adalah sujud tunggal (satu kali) yang dilakukan tanpa takbiratul ihram dan tanpa salam penutup (menurut mayoritas madzhab, kecuali Hanafi yang mensyaratkan takbir permulaan).

Syarat-Syarat Sajdah Tilawah (Menurut Mayoritas Ulama)

  1. Suci dari Hadats dan Najis: Pelaku sujud harus dalam keadaan suci (memiliki wudu), baik badan, pakaian, maupun tempat sujud. Ini menyamakan Sajdah Tilawah dengan salat.
  2. Menghadap Kiblat: Harus menghadap ke arah Ka'bah, sebagai syarat wajib bagi setiap salat dan sujud.
  3. Menutup Aurat: Aurat harus tertutup sempurna, sama seperti syarat salat.
  4. Niat: Niat yang tulus di dalam hati untuk melaksanakan Sajdah Tilawah.

Kaifiyyah (Cara Pelaksanaan)

Bagi orang yang berada di luar salat (mayoritas pandangan Syafi'i dan Hanbali):

  1. Berdiri atau duduk menghadap Kiblat.
  2. Berniat dalam hati untuk Sajdah Tilawah.
  3. Mengucapkan takbir (Allahu Akbar) saat turun ke posisi sujud (tanpa mengangkat tangan).
  4. Melaksanakan satu kali sujud, sambil membaca doa sujud standar (misalnya, *Subhana Rabbiyal A'la*).
  5. Mengangkat kepala dari sujud sambil mengucapkan takbir.
  6. Tidak ada salam penutup.

Apabila Sajdah Tilawah dilakukan di dalam salat, imam atau orang yang salat sendiri akan sujud segera setelah membaca ayat Sajdah, dan kembali berdiri atau duduk tanpa takbiratul ihram atau salam, melanjutkan salat seperti biasa.

Hukum Mendengar Sajdah Tilawah

Perluasan penting dari persoalan "berapa ayat sajdah yang ada dalam Al-Qur'an" adalah hukum bagi pendengar. Jika seseorang mendengar ayat Sajdah yang dibaca oleh orang lain, hukum sujud baginya (Sami') sama dengan hukum bagi pembaca (Tali'):

Syarat bagi pendengar adalah ia harus sengaja mendengarkan (mustami'), bukan hanya kebetulan mendengar (sami'). Jika seseorang secara tidak sengaja mendengar dari jauh atau dari media tanpa niat mendengarkan, maka kewajiban/sunnah sujud gugur darinya.

Penghitungan 15 Sajdah ini, dan penentuan hukumnya, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum fikih di seluruh dunia. Memahami detail setiap Sajdah memungkinkan seorang Muslim untuk melaksanakan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan ketaatan terhadap firman Allah SWT.

Pengulangan Rincian Lokasi untuk Penegasan dan Kedalaman

Untuk memastikan pemahaman yang menyeluruh mengenai ke-15 lokasi yang menjawab pertanyaan "berapa ayat sajdah yang ada dalam Al-Qur'an", mari kita telaah kembali penempatan Sajdah berdasarkan bagian-bagian (Juz) Al-Qur'an. Struktur mushaf menunjukkan bahwa Sajdah terdistribusi dari awal hingga akhir, menekankan pentingnya sujud dalam setiap fase interaksi dengan Kitab Suci:

No. Surah & Ayat Juz Konsensus
1Al-A'raf (7): 2069Mutlak
2Ar-Ra'd (13): 1513Mutlak
3An-Nahl (16): 4914Mutlak
4Al-Isra' (17): 10915Mutlak
5Maryam (19): 5816Mutlak
6Al-Hajj (22): 1817Mutlak
7Al-Hajj (22): 7717Diperdebatkan (Mayoritas 15)
8Al-Furqan (25): 6019Mutlak
9An-Naml (27): 2619Mutlak
10As-Sajdah (32): 1521Mutlak
11Sad (38): 2423Diperdebatkan (Hanafi tidak)
12Fussilat (41): 3824Mutlak
13An-Najm (53): 6227Mutlak
14Al-Insyiqaq (84): 2130Mutlak
15Al-'Alaq (96): 1930Mutlak

Pengulangan Detail Sajdah yang Kontroversial

Untuk memenuhi kebutuhan akan analisis yang sangat mendalam dan lengkap, penting untuk mengulas kembali kontroversi pada tiga lokasi Sajdah yang menyebabkan beberapa madzhab memiliki hitungan yang berbeda dari 15. Pemahaman terhadap alasan ulama berikhtilaf (berbeda pendapat) menunjukkan kekayaan metodologi fikih.

A. Kontroversi Surah Al-Hajj Ayat 77

Ayat ini berbunyi, "Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu..." (22:77). Alasan mengapa Madzhab Hanafi dan Maliki umumnya tidak menghitungnya sebagai Sajdah Tilawah adalah karena perintah sujud ini tergabung dengan perintah rukuk dan ibadah umum. Mereka berpendapat bahwa ini adalah perintah untuk bersujud dalam salat atau ibadah secara umum, bukan sujud spesifik yang dipicu oleh pembacaan ayat tertentu. Namun, bagi Syafi'i dan Hanbali, keberadaan kata 'وَاسْجُدُوا' (dan sujudlah) sudah cukup untuk memicu Sajdah Tilawah, karena tujuannya adalah merespon langsung perintah sujud dari Allah.

Jika kita mengikuti pandangan yang menghitung 15, Surah Al-Hajj menjadi satu-satunya surah yang memiliki dua Sajdah (Ayat 18 dan Ayat 77), sebuah keunikan yang menunjukkan betapa kuatnya penekanan pada sujud dalam Surah tersebut, yang secara tematis berkaitan dengan haji dan pengagungan syiar Allah.

B. Kontroversi Surah Sad Ayat 24

Ayat Sad 24 ("...ia meminta ampun kepada Tuhannya, lalu ia tersungkur sujud dan bertaubat.") memicu perbedaan pendapat mendasar. Inti dari perselisihan ini terletak pada jenis sujudnya. Apakah sujud yang dilakukan Nabi Daud AS ini adalah perintah sujud yang harus diteladani oleh pembaca (Tilawah), ataukah sujud itu khusus bagi Nabi Daud sebagai ekspresi Syukur dan Taubat (Syukr) atas ujian yang menimpanya?

Madzhab yang mengambil 15 (Syafi'i dan Hanbali) berpegangan pada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah sujud ketika membaca ayat ini, dan beliau bersabda, "Daud bersujud sebagai bentuk taubat, dan kita bersujud sebagai bentuk syukur." Ini menunjukkan bahwa sujud tersebut disyariatkan bagi umat Muhammad ﷺ sebagai bentuk ketaatan, meskipun konteks aslinya adalah taubat kenabian. Sebaliknya, Madzhab Hanafi lebih condong pada konteks tematik, melihatnya sebagai Sajdah Syukr yang tidak wajib direspons sebagai Tilawah.

Pemilihan angka 15 Sajdah mencerminkan kecenderungan inklusif dalam memahami tradisi Sajdah, yaitu memasukkan semua ayat yang dinilai memiliki dasar riwayat yang kuat dari Rasulullah ﷺ atau para sahabat, meskipun terdapat ikhtilaf fikih mengenai kategori atau hukum spesifiknya.

Kesimpulan Akhir

Sebagai rangkuman, jawaban standar dan paling umum yang diterapkan dalam mushaf Utsmani dan diakui oleh mayoritas dunia Islam terhadap pertanyaan berapa ayat sajdah yang ada dalam Al-Qur'an adalah lima belas (15) ayat.

Kelima belas ayat Sajdah Tilawah ini tersebar di 15 lokasi spesifik dari Surah Al-A'raf hingga Surah Al-'Alaq. Setiap Sajdah menawarkan kesempatan emas bagi pembaca dan pendengar Al-Qur'an untuk segera merespons kebesaran Allah, menyatakan kerendahan hati, dan membedakan diri dari mereka yang sombong. Perbedaan madzhab mengenai hitungan 11, 14, atau 15 hanyalah variasi dalam interpretasi hukum (wajib atau sunnah) dan penafsiran konteks historis dua ayat kontroversial, tetapi tidak mengurangi nilai ibadah dari setiap Sajdah yang dilaksanakan.

Pelaksanaan Sajdah Tilawah adalah puncak penghormatan terhadap Kalamullah. Ketika pembacaan Al-Qur'an mencapai titik-titik ini, itu adalah isyarat bahwa seorang hamba harus segera menundukkan bagian tubuhnya yang paling mulia (wajah) ke tempat yang paling rendah (tanah), sebagai simbol penyerahan total dan pengakuan akan keesaan dan kekuasaan mutlak Allah SWT.

Kesempurnaan interaksi dengan Al-Qur'an tercermin dalam respons cepat terhadap perintah prostrasi ini, yang mengukuhkan keimanan seseorang secara fisik dan spiritual.

🏠 Homepage