Pertanyaan mengenai berapa derajat sekarang Jakarta adalah salah satu pertanyaan paling sering dicari, terutama oleh warga yang beraktivitas di luar ruangan, maupun mereka yang merencanakan perjalanan. Sebagai megapolitan yang terletak persis di garis Khatulistiwa, Jakarta memiliki dinamika suhu yang unik, jauh melampaui sekadar angka yang tertera di termometer. Suhu di Jakarta bukan hanya dipengaruhi oleh iklim tropis semata, tetapi juga oleh kompleksitas lingkungan perkotaan yang padat.
Artikel ini akan membawa kita menelusuri secara mendalam faktor-faktor utama yang menentukan temperatur harian, dari pengaruh geografis hingga fenomena Urban Heat Island (UHI). Pemahaman ini penting, tidak hanya untuk kenyamanan pribadi, tetapi juga untuk perencanaan kota, pengelolaan energi, dan isu kesehatan publik.
Suhu di Jakarta, pada umumnya, berada di rentang 24°C hingga 33°C. Namun, angka "terasa" (feels like temperature) seringkali jauh lebih tinggi akibat kelembaban ekstrem.
Jakarta, layaknya sebagian besar wilayah Indonesia, berada di zona iklim tropis muson (Am menurut klasifikasi Köppen). Lokasi yang sangat dekat dengan garis Khatulistiwa, yaitu sekitar 6° Lintang Selatan, memastikan bahwa intensitas radiasi matahari yang diterima sepanjang merupakan konstan dan sangat tinggi. Ini adalah dasar utama mengapa suhu rata-rata tahunan di Jakarta tidak pernah turun signifikan.
Karena posisi Khatulistiwa, matahari berada hampir tegak lurus di atas Jakarta dua kali dalam setahun (sekitar Maret dan September). Ini memaksimalkan penyerapan panas. Bahkan saat musim hujan, tutupan awan yang tebal cenderung memerangkap panas, menjaga suhu malam hari tetap tinggi.
Jakarta berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Proximity ini menciptakan kelembaban udara yang sangat tinggi. Kelembaban (Relative Humidity/RH) rata-rata seringkali berkisar antara 70% hingga 90%. Udara yang lembab memiliki kapasitas panas yang lebih besar, dan yang lebih penting, menghambat proses pendinginan alami tubuh melalui penguapan keringat. Inilah sebabnya mengapa meskipun termometer menunjukkan 30°C, sensasi panas yang dirasakan (Indeks Panas) bisa mencapai 35°C atau lebih.
Di daerah tropis seperti Jakarta, perbedaan antara suhu tertinggi di siang hari dan suhu terendah di malam hari (Diurnal Temperature Range) cenderung kecil. Suhu malam hari jarang turun di bawah 24°C, terutama di pusat kota. Hal ini membuat Jakarta terasa panas sepanjang waktu, tanpa adanya jeda pendinginan yang signifikan saat malam tiba, seperti yang terjadi di daerah subtropis atau gurun.
Meskipun faktor tropis sudah menjelaskan suhu tinggi, fenomena Urban Heat Island (Pulau Panas Perkotaan) adalah faktor krusial yang membuat suhu di pusat kota Jakarta secara konsisten 3°C hingga 5°C lebih panas dibandingkan daerah pinggiran atau pedesaan sekitarnya. UHI adalah anomali panas yang sepenuhnya disebabkan oleh aktivitas dan material perkotaan.
Material seperti beton, aspal, dan atap gelap yang mendominasi lanskap Jakarta memiliki albedo (kemampuan memantulkan sinar matahari) yang rendah. Mereka menyerap radiasi matahari dalam jumlah besar sepanjang hari dan menyimpannya sebagai energi termal. Panas ini kemudian dilepaskan perlahan pada malam hari, mencegah pendinginan alami. Kontrasnya, vegetasi atau permukaan air akan memantulkan panas atau menggunakannya untuk proses pendinginan (evapotranspirasi).
RTH berfungsi sebagai pendingin alami. Pepohonan tidak hanya memberikan naungan tetapi juga mendinginkan udara melalui proses evapotranspirasi. Dengan rasio RTH yang relatif rendah dibandingkan kepadatan bangunan, Jakarta kehilangan mekanisme pendinginan alami yang vital ini.
Sumber panas buatan manusia (antropogenik) sangat signifikan. Di Jakarta, ini terutama berasal dari:
Kepadatan gedung-gedung tinggi menciptakan "ngarai jalan" (street canyons). Struktur ini memerangkap radiasi matahari yang masuk, mengurangi sirkulasi angin, dan menghambat keluarnya udara panas. Panas terperangkap di level permukaan tempat manusia beraktivitas.
Ketika mencari tahu berapa derajat sekarang Jakarta, penting untuk menyadari bahwa tidak ada satu suhu tunggal yang berlaku di seluruh wilayah. Jakarta terbagi menjadi lima wilayah administratif, dan masing-masing memiliki karakteristik mikroiklim yang berbeda signifikan:
Ini adalah area dengan UHI paling intens. Pusat kota (terutama area Sudirman, Thamrin, Kuningan) didominasi oleh gedung pencakar langit dan infrastruktur beton. Panas yang terperangkap di sini menyebabkan suhu minimum malam hari (sekitar pukul 03:00) seringkali menjadi yang tertinggi di seluruh kota. Suhu siang hari bisa terasa mencapai puncaknya di area-area ini.
Jakarta Utara dipengaruhi oleh kedekatan dengan Laut Jawa. Meskipun suhu siang hari bisa serupa dengan pusat kota, kelembaban di Utara cenderung lebih tinggi, membuat indeks panas terasa sangat ekstrem. Angin laut, dalam beberapa kasus, dapat memberikan sedikit pendinginan di sore hari, tetapi seringkali membawa lebih banyak uap air.
Area ini, yang mencakup beberapa zona industri dan perumahan yang lebih menyebar, terkadang menunjukkan variasi suhu yang lebih besar. Beberapa area yang masih memiliki kantong-kantong hijau atau dekat dengan sungai besar mungkin mengalami suhu yang sedikit lebih rendah pada malam hari dibandingkan Pusat dan Selatan.
Kombinasi antara area komersial padat dan perumahan yang lebih tradisional. Seperti wilayah lain, kepadatan bangunan menentukan intensitas UHI. Area yang berbatasan langsung dengan Tangerang yang masih memiliki lahan terbuka menunjukkan suhu yang sedikit lebih terkontrol.
Intinya: Pengukuran suhu di stasiun BMKG pusat mungkin menunjukkan 31°C, tetapi suhu permukaan aspal di jalanan Jakarta Pusat pada saat yang sama dapat mencapai 50°C atau lebih, yang secara langsung memengaruhi suhu udara di dekat permukaan tanah.
Data mengenai berapa derajat sekarang Jakarta didapatkan dari jaringan stasiun pemantauan cuaca. Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) adalah sumber resmi data iklim dan cuaca.
Pengukuran suhu udara standar dilakukan di stasiun meteorologi menggunakan termometer yang diletakkan di dalam sangkar Stevenson. Sangkar ini melindungi termometer dari radiasi matahari langsung sambil memastikan sirkulasi udara yang baik. Sangkar diletakkan pada ketinggian standar (biasanya 1.2 hingga 2 meter di atas permukaan tanah) dan di atas permukaan rumput. Ini adalah praktik internasional yang memastikan bahwa data suhu mewakili suhu udara aktual, bukan suhu permukaan yang ekstrem.
Saat melihat data suhu resmi (misalnya 32°C), kita harus selalu mengingat dua hal:
Selain stasiun darat, BMKG juga menggunakan citra satelit untuk memantau suhu permukaan tanah (Land Surface Temperature/LST). Data LST sangat berguna untuk memetakan distribusi UHI dan mengidentifikasi area-area yang memerlukan intervensi hijau.
Suhu tinggi yang konstan, terutama yang diperburuk oleh UHI dan kelembaban, menimbulkan risiko kesehatan serius bagi penduduk Jakarta. Kondisi ini menuntut adaptasi fisiologis dan perilaku yang ketat.
Karena tingginya kelembaban, keringat yang dikeluarkan tubuh tidak menguap seefektif di udara kering. Ini menghambat mekanisme pendinginan alami tubuh, meningkatkan risiko Heat Exhaustion (Kelelahan Panas) dan pada kasus ekstrem, Heat Stroke (Sengatan Panas), yang merupakan kondisi darurat medis. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja lapangan berisiko paling tinggi.
Terdapat korelasi erat antara suhu tinggi dan polusi udara. Suhu yang lebih panas mempercepat reaksi kimia di atmosfer yang membentuk ozon permukaan (polutan sekunder). Selain itu, kondisi udara panas yang stabil (stagnasi udara) memerangkap polutan di lapisan bawah atmosfer, memperburuk masalah kualitas udara yang sudah parah di Jakarta.
Peningkatan suhu rata-rata memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Suhu yang lebih tinggi berarti nyamuk bereproduksi lebih cepat dan virus inkubasi di dalamnya matang lebih cepat, meningkatkan risiko transmisi.
Tingginya suhu harian dan malam hari di Jakarta memiliki konsekuensi langsung pada kebutuhan energi dan keberlanjutan infrastruktur kota.
Ketika suhu melonjak, permintaan akan pendingin udara (AC) juga meroket. Ini menciptakan lonjakan signifikan dalam beban puncak (peak load) listrik, terutama pada siang hari. Penggunaan AC yang masif ini memerlukan investasi besar dalam infrastruktur pembangkit dan distribusi listrik, serta berkontribusi pada sumber panas antropogenik yang dijelaskan sebelumnya.
Ekspansi dan kontraksi material akibat perubahan suhu ekstrem dapat memperpendek usia infrastruktur. Aspal jalanan yang terus-menerus terpapar suhu tinggi dan lalu lintas berat lebih cepat mengalami kerusakan (retak, deformasi). Demikian pula, sistem perpipaan dan material bangunan harus dirancang untuk menahan fluktuasi termal yang signifikan.
Suhu tinggi meningkatkan laju evaporasi air permukaan. Di Jakarta, yang menghadapi tantangan air bersih dan intrusi air laut, evaporasi yang dipercepat ini menambah tekanan pada sumber daya air, terutama di musim kemarau yang panas.
Untuk mengatasi masalah suhu ekstrem dan mengurangi intensitas UHI di Jakarta, diperlukan pendekatan multi-sektoral yang fokus pada desain kota yang lebih berkelanjutan.
RTH adalah solusi paling efektif untuk pendinginan alami. Strategi ini mencakup:
Pemerintah kota dan pengembang perlu didorong untuk menggunakan material bangunan dengan albedo tinggi (warna terang atau reflektif) pada atap dan permukaan jalan. Material ini memantulkan radiasi matahari kembali ke atmosfer, mengurangi jumlah panas yang diserap dan disimpan oleh kota.
Mengintegrasikan sistem penahanan air (seperti kolam retensi atau danau buatan) dapat membantu memoderasi suhu lokal melalui pendinginan evaporatif, sekaligus membantu pengendalian banjir.
Mendorong penggunaan desain bangunan yang pasif (mengoptimalkan ventilasi alami, insulasi termal yang lebih baik) dapat mengurangi ketergantungan pada AC, yang pada gilirannya mengurangi emisi panas antropogenik.
Analisis data historis BMKG menunjukkan tren yang jelas: suhu rata-rata tahunan di Jakarta mengalami peningkatan. Peningkatan ini adalah hasil gabungan dari perubahan iklim global dan intensifikasi efek UHI lokal.
Peningkatan suhu paling terasa terjadi pada suhu minimum malam hari. Data menunjukkan bahwa malam-malam di Jakarta semakin hangat dari waktu ke waktu. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena malam yang hangat menghilangkan periode istirahat termal yang diperlukan tubuh dan infrastruktur. Suhu minimum yang tinggi adalah indikator kuat dari akumulasi panas yang signifikan akibat UHI.
Jika tren urbanisasi dan emisi global tidak berubah, proyeksi iklim menunjukkan bahwa Jakarta akan mengalami:
Oleh karena itu, upaya untuk mengetahui berapa derajat sekarang Jakarta bukan sekadar keingintahuan harian, melainkan merupakan pemantauan kritis terhadap kesehatan lingkungan dan sosial kota ini. Kota ini berada di garis depan tantangan iklim perkotaan, di mana kepadatan penduduk dan infrastruktur bertemu dengan iklim tropis yang memanas.
Mengetahui berapa derajat sekarang Jakarta harus diikuti dengan tindakan pencegahan yang cerdas untuk meminimalkan dampak negatif panas harian:
Minum air secara teratur, bahkan sebelum merasa haus. Hindari minuman berkafein atau manis berlebihan yang dapat mempercepat dehidrasi. Jika beraktivitas di luar ruangan, bawa persediaan air yang cukup dan cairan elektrolit.
Usahakan untuk melakukan aktivitas fisik berat di luar ruangan sebelum pukul 10:00 pagi atau setelah pukul 16:00 sore, saat radiasi matahari dan suhu mencapai puncaknya.
Gunakan pakaian yang longgar, berbahan ringan, dan berwarna cerah. Warna cerah memantulkan radiasi matahari, membantu tubuh tetap sejuk. Gunakan topi dan kacamata hitam.
Waspadai gejala awal heat exhaustion, seperti pusing, mual, berkeringat berlebihan, dan kram otot. Jika gejala ini muncul, segera pindah ke tempat yang teduh atau ber-AC dan dinginkan tubuh.
Gunakan tirai atau penutup jendela pada siang hari untuk memblokir panas matahari langsung. Jika menggunakan AC, atur pada suhu yang wajar (24°C-26°C) untuk menghemat energi dan mengurangi pembuangan panas ke luar.
Jakarta adalah studi kasus sempurna mengenai kompleksitas iklim tropis perkotaan. Suhu yang kita lihat di laporan cuaca—baik itu 30°C, 32°C, atau lebih—adalah hasil interaksi antara letak geografis Khatulistiwa, lautan yang lembab, dan struktur perkotaan yang padat dan menyerap panas. Menjawab pertanyaan berapa derajat sekarang Jakarta memerlukan pemahaman bahwa suhu tersebut bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari tantangan lingkungan dan kebutuhan mendesak untuk merencanakan kota yang lebih tangguh terhadap iklim.
Dengan menerapkan strategi mitigasi UHI dan adaptasi perilaku yang cerdas, warga Jakarta dapat menghadapi hari-hari panas dengan lebih aman dan nyaman. Masa depan iklim kota ini sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola ruang hijau, material bangunan, dan energi yang kita gunakan saat ini.