Biografi Lengkap Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani: Menguak Jejak Kehidupan Spiritual Sang Wali Martapura

Simbol Cahaya Ilmu Ilustrasi simbolis yang menggambarkan pelita atau lentera, mewakili Nur Ilahi dan bimbingan spiritual Guru Sekumpul.

Visualisasi Simbolis: Pelita Petunjuk Spiritual Martapura.

Pendahuluan: Sekelumit Keagungan Guru Sekumpul

Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani Al-Banjari, yang lebih dikenal dengan panggilan Guru Sekumpul atau Abah Guru Sekumpul, adalah salah satu ulama besar dan wali Allah yang sangat dihormati di Nusantara, khususnya di Kalimantan Selatan. Beliau bukan sekadar seorang penceramah; beliau adalah pusat spiritualitas, mursyid tarekat, dan panutan akhlak bagi jutaan pengikutnya. Kehadirannya telah mengubah Martapura menjadi salah satu kota spiritual terpenting di Asia Tenggara.

Membicarakan Guru Sekumpul adalah menyelami lautan ilmu dan kebijaksanaan. Kehidupannya didedikasikan sepenuhnya untuk dakwah, pengajaran tasawuf, dan penyebaran mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ dan para auliya. Ulasan biografi tentang beliau, termasuk detail tentang kehidupan pribadinya, selalu menjadi topik yang dicari oleh umat, bukan karena keingintahuan yang dangkal, melainkan sebagai upaya untuk meneladani setiap aspek kehidupan beliau, termasuk Sunnah dalam berkeluarga.

Artikel ini hadir untuk mengupas tuntas perjalanan hidup Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani, mulai dari nasabnya yang mulia, masa pendidikannya yang sarat perjuangan, hingga dampaknya yang tak terhingga pada Majelis Ta’lim yang beliau pimpin. Di tengah pembahasan luas mengenai kontribusi spiritual beliau, perhatian sering kali tertuju pada ranah pribadi yang beliau jaga dengan penuh kehormatan, termasuk persoalan berapa istri Guru Sekumpul. Pertanyaan ini, meskipun bersifat personal, perlu ditempatkan dalam konteks kepatuhan beliau terhadap syariat dan upaya beliau menjaga Sunnah Rasulullah.

Nasab Mulia dan Masa Kecil di Martapura

Garis Keturunan yang Tersambung

Guru Sekumpul dilahirkan pada malam Rabu 27 Rajab, di desa Tunggul Irang, Martapura. Keturunan beliau adalah rangkaian silsilah emas yang menghubungkan beliau dengan tokoh-tokoh besar ulama Banjar. Ayah beliau adalah Abdul Ghani, sementara sang ibu adalah Hj. Masliah. Nasab beliau tersambung kepada para ulama terkemuka, terutama melalui jalur Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, atau yang dikenal sebagai Datu Kelampayan, penulis kitab fenomenal *Sabilal Muhtadin*.

Sanad (rantai keilmuan) dan nasab ini memiliki peran penting dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya di Banjar. Nasab yang mulia ini bukan hanya sekadar catatan darah, tetapi juga penanda kesinambungan spiritualitas dan tanggung jawab dakwah yang diwariskan secara turun-temurun. Sejak kecil, aura kewalian telah terpancar, meskipun beliau tumbuh dalam kesederhanaan dan keheningan, ditempa oleh didikan agama yang sangat ketat.

Pendidikan Awal dan Guru Pertama

Pendidikan awal Guru Sekumpul bermula di lingkungan keluarga. Beliau diasuh oleh kakek beliau dari pihak ibu, Syekh H. Muhammad Semman Mulia, seorang ulama dan mursyid yang sangat berpengaruh. Kakek beliaulah yang menjadi guru pertama dan utama, menanamkan dasar-dasar ilmu tauhid, fiqh, dan yang terpenting, adab dan akhlak. Intensitas pembelajaran di masa kecil ini membentuk karakter beliau yang dikenal sangat tawadhu (rendah hati) dan penuh hormat kepada guru.

Kehidupan masa kecil beliau penuh dengan riyadhah (latihan spiritual) dan mujahadah (perjuangan diri). Banyak kisah yang menceritakan bagaimana Guru Sekumpul muda sudah menunjukkan kecenderungan untuk menjauhi kemewahan dunia dan fokus pada pencapaian ilmu batin. Pengajaran yang beliau terima tidak hanya berkutat pada hafalan, tetapi lebih kepada pengamalan dan penghayatan makna-makna spiritual yang mendalam. Hal ini berbeda dengan kebanyakan metode pengajaran umum, menandakan bahwa beliau dipersiapkan untuk peran spiritual yang luar biasa di masa depan.

Proses pendidikan ini melibatkan disiplin diri yang tinggi, puasa sunnah, dan qiyamul lail (shalat malam) yang rutin, bahkan sejak usia belia. Setiap detail kecil dalam kehidupan beliau, dari cara beliau berpakaian hingga cara beliau berbicara, diawasi dan dibimbing oleh kakek dan gurunya. Lingkungan Martapura yang saat itu merupakan pusat peradaban Islam di Kalimantan sangat mendukung tumbuhnya calon ulama besar seperti beliau.

Perjalanan Ilmu dan Kedalaman Tasawuf

Mencari Ilmu ke Seluruh Penjuru

Setelah mendapatkan dasar ilmu dari keluarga, perjalanan Guru Sekumpul untuk mencari ilmu diperluas. Meskipun Martapura kaya akan ulama, beliau juga menempuh pendidikan di berbagai pesantren dan majelis ta’lim di Kalimantan, bahkan melakukan perjalanan ke pulau Jawa untuk memperdalam ilmu-ilmu tertentu. Namun, puncak dari pencarian ilmu beliau adalah perjalanannya ke Makkah dan Madinah, dua kota suci yang merupakan sumber mata air ilmu pengetahuan Islam.

Di Tanah Suci, beliau berguru kepada banyak ulama besar, baik dari mazhab Syafi’i maupun ulama-ulama sufi dari berbagai silsilah. Beliau dikenal sangat cepat dalam menangkap pelajaran dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Kemampuan beliau dalam menguasai berbagai cabang ilmu, mulai dari Ushul Fiqh, Tafsir, Hadits, hingga ilmu Nahwu dan Sharaf, membuat guru-guru beliau kagum. Namun, yang paling menonjol dari diri beliau adalah kecintaan yang mendalam terhadap ilmu tasawuf.

Beliau tidak hanya mempelajari tasawuf dari buku, tetapi langsung dari para mursyid yang memiliki sanad yang jelas. Guru Sekumpul diakui sebagai salah satu pewaris utama Tarekat Samaniyah, sebuah tarekat yang sangat populer di Nusantara dan memiliki kaitan erat dengan silsilah Banjar. Penguasaan beliau atas ilmu batin inilah yang kemudian menjadi fondasi utama dakwah beliau di Martapura.

Sanad dan Kemursyidan

Pengakuan sebagai mursyid (pembimbing spiritual) tidak datang dengan mudah. Itu diperoleh melalui riyadhah yang panjang, ujian spiritual yang berat, dan pengakuan dari guru-guru besar beliau. Guru Sekumpul adalah sosok yang menggabungkan syariat (hukum Islam) dan hakikat (kebenaran spiritual) dalam satu kesatuan yang harmonis. Beliau mengajarkan bahwa tasawuf bukanlah jalan untuk meninggalkan dunia, melainkan cara untuk membersihkan hati agar ibadah kepada Allah menjadi murni.

Poin penting dari ajaran beliau adalah Mahabbah atau cinta sejati. Beliau selalu menekankan pentingnya mencintai Allah, Rasulullah, dan para Auliya Allah. Melalui mahabbah ini, beliau mampu menyentuh hati jutaan orang, mengubah perilaku mereka tanpa perlu ceramah yang keras atau menghakimi. Gaya dakwah inilah yang membuat majelis beliau selalu dipenuhi jemaah yang datang dari berbagai lapisan masyarakat dan penjuru dunia.

Ilmu yang beliau ajarkan selalu berakar kuat pada Al-Qur'an dan Sunnah, namun disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat awam. Beliau mengajarkan pentingnya menjaga lisan, menghindari ghibah (menggunjing), dan selalu berprasangka baik (husnudzon). Keikhlasan beliau dalam mengajar adalah kunci utama yang membuka pintu hati banyak orang. Beliau mengajarkan bahwa kerendahan hati adalah mahkota seorang pencari ilmu, dan bahwa tanpa adab, ilmu yang didapat tidak akan membawa berkah.

Kehidupan Rumah Tangga dan Menjaga Sunnah

Ketika membahas biografi seorang ulama besar, pertanyaan mengenai kehidupan pribadinya, termasuk pertanyaan populer tentang berapa istri Guru Sekumpul, muncul sebagai bentuk keteladanan yang dicari umat. Guru Sekumpul adalah seorang manusia yang menjalankan syariat dan Sunnah Rasulullah secara kaffah (menyeluruh), termasuk dalam hal pernikahan.

Prinsip Privasi dan Kehormatan

Kehidupan pribadi Guru Sekumpul dikenal sangat tertutup dan jauh dari sorotan media atau publikasi yang berlebihan, mencerminkan sifat tawadhu beliau. Beliau memegang teguh prinsip bahwa urusan rumah tangga adalah ranah privasi yang harus dijaga kehormatannya. Oleh karena itu, detail tentang pernikahan beliau tidak pernah diekspos secara luas kepada masyarakat, kecuali hal-hal yang menjadi kebutuhan publik seperti kehadiran ahli waris.

Dalam konteks menjalankan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ, pernikahan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim, apalagi bagi seorang mursyid yang harus memberikan contoh. Pernikahan adalah benteng agama, penyempurna ibadah, dan jalan untuk mendapatkan keturunan yang saleh.

Menjawab Pertanyaan: Berapa Istri Guru Sekumpul?

Berdasarkan catatan keluarga dan sumber-sumber yang diakui dalam lingkaran Martapura, Guru Sekumpul diketahui pernah menikah. Informasi yang paling terpublikasi dan diakui secara luas adalah bahwa pernikahan beliau adalah dalam rangka mencari keturunan dan menjalankan Sunnah Nabi. Fokus utama dari pernikahan beliau adalah untuk melahirkan ahli waris yang dapat melanjutkan estafet keilmuan dan dakwah.

Pernikahan beliau dengan **Hj. Raudhatul Adawiyah** adalah yang paling dikenal publik dan menghasilkan dua putra yang hingga kini menjadi penerus spiritualitas beliau: Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali. Kedua putranya inilah yang menjadi simbol kesinambungan ajaran Guru Sekumpul. Detail mengenai kemungkinan pernikahan lain yang mungkin terjadi dalam rentang waktu yang singkat, sebagaimana tradisi para ulama zaman dahulu dalam menjalankan sunnah, sering kali tidak dicatat secara rinci dalam biografi publik, karena fokusnya selalu pada peran dakwah, bukan pada detail domestik.

Penting untuk dipahami bahwa, dalam syariat, seorang ulama besar bisa saja melaksanakan pernikahan lebih dari satu kali, entah karena berpulangnya istri, atau demi melaksanakan sunnah poligami yang disyariatkan. Namun, bagi Guru Sekumpul, hal-hal tersebut selalu dilakukan dalam bingkai syariat yang ketat dan dengan menjaga kehormatan serta keadilan, jauh dari sensasi publik. **Secara ringkas, beliau memiliki satu istri yang mendampingi dalam waktu lama dan melahirkan pewaris, yaitu Hj. Raudhatul Adawiyah, sementara detail pernikahan lain, jika ada, adalah urusan pribadi yang beliau jaga kerahasiaannya dengan sangat baik, konsisten dengan sikap zuhud beliau.**

Kehidupan keluarga Guru Sekumpul, meskipun tertutup, dikenal harmonis dan jauh dari hiruk pikuk dunia. Beliau berhasil memimpin rumah tangga sekaligus memimpin jutaan umat. Hal ini menunjukkan bahwa kesibukan dalam dakwah tidak lantas membuat beliau lalai terhadap kewajiban beliau sebagai suami dan ayah. Anak-anak beliau dididik dengan prinsip-prinsip tasawuf yang sama dengan yang beliau ajarkan kepada murid-muridnya.

Kemasyhuran Majelis Ta’lim: Cahaya Martapura

Fenomena Sekumpul

Setelah kembali dari perjalanan ilmunya dan mendapatkan ijazah kemursyidan, Guru Sekumpul mulai membuka Majelis Ta’lim di kediamannya. Awalnya, majelis tersebut hanya dihadiri oleh sedikit orang. Namun, seiring berjalannya waktu, karisma dan keikhlasan beliau menarik jemaah dalam jumlah yang fenomenal. Majelis beliau yang awalnya kecil berubah menjadi Komplek Ar-Raudhah, sebuah area yang mampu menampung ratusan ribu jemaah.

Majelis Ta’lim Sekumpul, yang biasanya diadakan pada malam-malam tertentu, menjadi magnet spiritual. Jemaah datang dari seluruh Indonesia, bahkan dari Malaysia, Brunei, dan Singapura. Mereka rela menempuh perjalanan jauh, berdesak-desakan, hanya demi mendapatkan siraman rohani dan melihat wajah mulia Guru Sekumpul secara langsung. Fenomena ini menunjukkan adanya kerinduan umat terhadap bimbingan spiritual yang murni dan tulus.

Inti dari pengajian beliau adalah fiqh (hukum Islam) yang disampaikan dengan humor dan akhlakul karimah (etika mulia), serta ajaran tauhid dan tasawuf yang menyejukkan hati. Beliau selalu menekankan agar jemaah menjauhi maksiat batin seperti iri, dengki, dan sombong. Beliau juga sering membacakan manaqib (kisah hidup) para wali dan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang selalu disambut dengan tangis rindu oleh para hadirin.

Filosofi Tawadhu dan Keseimbangan

Salah satu ajaran yang paling menonjol adalah Tawadhu (rendah hati). Guru Sekumpul sering mengatakan bahwa seorang hamba tidak akan rugi jika ia merendahkan diri di hadapan sesama. Sifat tawadhu inilah yang membuat beliau dicintai oleh semua kalangan, baik pejabat tinggi maupun rakyat jelata. Beliau tidak pernah membedakan perlakuan kepada jemaah, semua diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan hormat.

Beliau juga mengajarkan konsep **Keseimbangan**. Kehidupan dunia harus dijalani untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Beliau mendorong umatnya untuk bekerja keras dan mencari rezeki yang halal, namun tanpa melupakan kewajiban utama mereka sebagai hamba Allah. Keseimbangan antara zikir (mengingat Allah) dan fikir (berpikir atau bekerja) adalah kunci keberhasilan yang beliau tanamkan dalam hati jemaah.

Keagungan Majelis beliau terletak pada keberkahan yang dirasakan oleh setiap yang hadir. Banyak kesaksian dari jemaah yang mengaku mendapatkan ketenangan batin, solusi atas masalah hidup, dan dorongan spiritual hanya dengan duduk di Majelis beliau. Hal ini membuktikan bahwa kekuatan dakwah beliau berasal dari kedalaman hati yang ikhlas dan kedekatan beliau dengan Allah SWT.

Karomah, Kewafatan, dan Warisan Abadi

Karomah Sang Wali

Dalam tradisi Islam, seorang wali Allah sering kali dianugerahi karomah, yaitu kejadian luar biasa yang diberikan Allah sebagai bukti kedekatan hamba-Nya. Kisah-kisah karomah Guru Sekumpul tersebar luas di kalangan jemaah beliau, mulai dari kemampuan mengetahui hal-hal yang tersembunyi, menyembuhkan penyakit, hingga keberkahan yang menyertai makanan yang beliau sajikan dalam acara maulid.

Namun, yang paling ditekankan oleh Guru Sekumpul sendiri bukanlah karomah fisik, melainkan karomah terbesar yaitu **Istiqomah** (keteguhan hati) dalam menjalankan syariat. Beliau mengajarkan bahwa upaya untuk tidak pernah meninggalkan shalat, selalu jujur, dan menjaga hati dari penyakit adalah karomah yang paling utama dan harus dicari oleh setiap Muslim. Beliau sendiri adalah teladan istiqomah yang tak tergoyahkan, bahkan dalam kondisi sakit sekalipun.

Beliau juga mewariskan ratusan shalawat dan qasidah yang indah, yang hingga kini dilantunkan di berbagai majelis di seluruh Indonesia. Karya-karya spiritual beliau mencerminkan kedalaman rasa cinta beliau kepada Nabi Muhammad ﷺ dan merupakan warisan yang tak ternilai harganya bagi tradisi shalawat di Nusantara.

Wafat dan Haul Akbar

Guru Sekumpul wafat pada hari Rabu pagi di bulan Rabiul Awal. Kepergian beliau membawa duka mendalam bagi seluruh umat Islam, terutama di Kalimantan. Namun, wafatnya beliau tidak mengakhiri pengaruh spiritual beliau; justru menguatkan kecintaan umat.

Warisan terbesar Guru Sekumpul adalah **Haul** (peringatan wafat) beliau yang diadakan setiap tahun di Martapura. Haul ini telah menjadi salah satu pertemuan keagamaan terbesar di dunia, dihadiri oleh jutaan manusia yang datang dari berbagai penjuru, melintasi batas negara, agama, dan suku. Haul Guru Sekumpul bukan sekadar upacara, melainkan manifestasi nyata dari mahabbah dan penghormatan yang tak terbatas terhadap seorang wali yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Allah dan Rasul-Nya.

Penyelenggaraan Haul ini membutuhkan koordinasi logistik yang luar biasa, melibatkan ribuan relawan yang bekerja tanpa pamrih. Jutaan porsi makanan disiapkan gratis, jalan-jalan ditutup, dan seluruh Martapura berubah menjadi lautan manusia yang bersatu dalam doa dan zikir. Ini adalah bukti kekal bahwa ajaran dan aura spiritual Guru Sekumpul tetap hidup dan membimbing umat, jauh setelah jasad beliau dimakamkan di Komplek Ar-Raudhah.

Haul ini juga menjadi tempat berkumpulnya para ulama dan habaib dari berbagai silsilah, yang bersama-sama mendoakan dan mengenang jasa-jasa beliau. Dalam momen ini, semangat persatuan dan kebersamaan umat Islam diperkuat. Ini adalah puncak dari dakwah bil hal (dakwah melalui teladan) yang telah beliau ajarkan sepanjang hidupnya. Keberkahan yang mengalir dari Haul tersebut menjadi sumber kekuatan spiritual bagi umat yang terus merindukan bimbingan seorang mursyid sejati.

Pendalaman Ajaran: Filosofi Hidup Guru Sekumpul

Untuk memahami sepenuhnya sosok Guru Sekumpul, kita harus menyelami filosofi kehidupannya yang terangkum dalam tiga pilar utama: adab, mahabbah, dan ketaatan kepada sanad. Ketiga pilar ini saling menguatkan dan menjadi landasan mengapa majelis beliau begitu berkesan dan bertahan hingga kini, bahkan melampaui detail pribadi seperti berapa istri Guru Sekumpul, karena fokusnya adalah pada integritas spiritual yang beliau tampilkan.

Pilar Pertama: Adab di Atas Ilmu

Guru Sekumpul selalu menekankan bahwa adab (etika) jauh lebih penting daripada ilmu. Beliau berulang kali menceritakan kisah-kisah ulama terdahulu yang kehilangan keberkahan ilmunya hanya karena kurangnya adab terhadap guru atau sesama. Adab, bagi beliau, adalah pintu masuk menuju keridhaan Allah dan kunci untuk membuka rahasia-rahasia ilmu.

Adab yang beliau ajarkan meliputi: adab terhadap Al-Qur'an, adab terhadap Rasulullah ﷺ (melalui shalawat dan meneladani sunnahnya), adab terhadap ulama dan orang tua, serta adab terhadap sesama manusia. Kerendahan hati yang beliau miliki adalah manifestasi tertinggi dari adab ini. Beliau tidak pernah memamerkan kekayaan ilmunya, melainkan menyampaikannya dengan lembut, seolah-olah beliau adalah murid yang sedang belajar bersama-sama.

Pilar Kedua: Mahabbah dan Keagungan Rasulullah

Tidak ada ceramah Guru Sekumpul yang luput dari pembahasan tentang Mahabbah. Beliau adalah seorang pecinta sejati Nabi Muhammad ﷺ. Beliau mengajarkan bahwa cinta kepada Nabi adalah jalan tercepat menuju Allah. Cinta ini harus diwujudkan bukan hanya melalui lisan, tetapi melalui peneladanan total terhadap Sunnah Nabi, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau sering menyelenggarakan maulid (peringatan kelahiran Nabi) secara besar-besaran, bukan sebagai tradisi semata, melainkan sebagai media untuk menumbuhkan kerinduan dan kecintaan yang mendalam. Kecintaan beliau kepada Rasulullah ﷺ juga mencakup kecintaan kepada para ahli bait, keturunan Nabi, dan para sahabat, yang semuanya dihormati sebagai perantara keberkahan.

Pilar Ketiga: Ketaatan pada Sanad dan Guru

Dalam tasawuf yang beliau ajarkan, ketaatan mutlak kepada mursyid (guru pembimbing) adalah syarat mutlak. Ketaatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa mursyid memiliki sanad yang jelas hingga Rasulullah ﷺ. Sanad ini menjamin keaslian dan kemurnian ajaran yang diterima.

Guru Sekumpul sendiri menunjukkan teladan ketaatan yang luar biasa kepada guru-guru beliau, terutama kepada kakek beliau. Beliau mengajarkan bahwa keraguan terhadap guru dapat menutup pintu ilmu batin. Ketaatan inilah yang membuat ajaran beliau kokoh dan tidak terpengaruh oleh tren atau perubahan zaman, tetap berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah.

Pilar ketaatan ini juga menjamin bahwa setiap aspek kehidupan beliau, termasuk keputusan-keputusan pribadi seperti pernikahan, selalu didasarkan pada pertimbangan syariat yang disempurnakan oleh bimbingan spiritual dari para pendahulu beliau. Pernikahan, dengan demikian, dipandang sebagai sarana ibadah yang wajib dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan keadilan, jauh dari hawa nafsu duniawi.

Lebih lanjut, dalam konteks ajaran beliau, detail materi seperti jumlah harta atau detail pernikahan menjadi tidak relevan dibandingkan dengan warisan spiritual yang beliau tinggalkan. Fokus utama adalah pada bagaimana beliau menjalani kehidupan zuhudnya, bagaimana beliau memandang dunia sebagai persinggahan sementara, dan bagaimana beliau berhasil memimpin jutaan hati menuju pengenalan diri dan pengenalan Tuhan (Ma’rifatullah). Inilah yang menjadi esensi sejati dari biografi Guru Sekumpul.

Pengaruh Sosial dan Budaya Kalimantan

Pengaruh Guru Sekumpul melampaui batas-batas Martapura dan Kalimantan Selatan; beliau telah menjadi ikon budaya dan spiritual bagi masyarakat Banjar dan sekitarnya. Kehadiran beliau telah memberikan identitas keislaman yang kuat dan khas bagi wilayah tersebut, yang dikenal dengan sebutan "Kota Serambi Mekkahnya Indonesia."

Transformasi Martapura

Sebelum kemasyhuran Guru Sekumpul, Martapura adalah kota kecil yang dikenal sebagai pusat perdagangan batu mulia. Namun, setelah Majelis Ta’lim beliau mencapai puncak popularitasnya, Martapura bertransformasi menjadi pusat ziarah dan pendidikan agama. Infrastruktur kota berkembang pesat, semua didorong oleh kebutuhan untuk menampung jemaah yang datang dari berbagai daerah.

Masyarakat Martapura dikenal sangat ramah dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama, sebuah cerminan langsung dari ajaran Guru Sekumpul. Tradisi menyambut tamu dan bergotong royong, terutama saat Haul, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sosial mereka. Pengaruh ini menciptakan stabilitas sosial dan kekompakan yang langka ditemukan di daerah lain.

Menjaga Tradisi Sufi Nusantara

Di tengah modernisasi dan tantangan globalisasi, Guru Sekumpul berhasil menjaga dan melestarikan tradisi Sufi Nusantara yang moderat, toleran, dan inklusif. Ajaran beliau menolak ekstremisme dan radikalisme, sebaliknya, menekankan pentingnya persatuan umat dan penghormatan terhadap perbedaan. Beliau membuktikan bahwa ajaran tasawuf dapat menjadi solusi atas kegelisahan spiritual manusia modern.

Warisan lagu-lagu dan shalawat beliau, yang khas dengan irama Banjar, kini menjadi bagian dari kekayaan musik religius Indonesia. Qasidah-qasidah yang beliau ciptakan tidak hanya enak didengar, tetapi juga mengandung makna tasawuf yang mendalam, mengingatkan pendengarnya akan hakikat kehidupan dan tujuan akhirat.

Melalui semua warisan ini, terbukti bahwa Guru Sekumpul telah mewariskan bukan hanya ilmu, tetapi juga sebuah cara hidup yang utuh. Setiap langkah kehidupan beliau, termasuk bagaimana beliau menjalani peran sebagai kepala rumah tangga dan pewaris Sunnah Nabi, adalah cerminan dari kesempurnaan seorang hamba yang telah mencapai derajat Ma’rifatullah. Pembahasan mengenai berapa istri Guru Sekumpul, pada akhirnya, hanya menjadi sebuah sub-judul kecil dalam narasi besar tentang pengabdian, keikhlasan, dan cahaya spiritual yang tak pernah padam dari Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani Al-Banjari.

Keteladanan beliau dalam memegang teguh syariat dan sunnah adalah warisan utama. Beliau mengajarkan kita bahwa kehidupan pribadi seorang wali haruslah menjadi cerminan ketaatan, jauh dari riya’ dan pameran duniawi.

Untuk melengkapi gambaran utuh tentang keagungan beliau, kita perlu terus menelusuri bagaimana Majelis beliau menjadi benteng pertahanan spiritual. Setiap sesi pengajian adalah sebuah sekolah adab. Beliau tidak hanya mengajarkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga bagaimana cara melakukannya dengan hati yang bersih. Beliau sering mengingatkan bahwa amal yang sedikit namun dilakukan dengan ikhlas lebih baik daripada amal besar yang tercampur dengan riya’.

Konsistensi beliau dalam mengajarkan keikhlasan adalah salah satu karomah terbesar. Jemaah yang datang tidak pernah merasa dihakimi, melainkan merasa dipeluk dan dituntun perlahan menuju jalan yang benar. Metode dakwah yang penuh kasih sayang ini adalah ciri khas yang membedakan Guru Sekumpul dari banyak ulama kontemporer lainnya. Beliau memahami bahwa hati manusia lebih mudah didekati dengan kelembutan daripada kekerasan.

Seluruh aspek biografi beliau, termasuk bagaimana beliau menyeimbangkan tugas spiritual yang masif dengan kehidupan domestik, menunjukkan integritas yang luar biasa. Bagaimanapun, menjawab pertanyaan mendasar mengenai berapa istri Guru Sekumpul harus selalu diiringi dengan pemahaman bahwa kehidupan rumah tangga beliau adalah bagian dari upaya beliau dalam menyempurnakan ibadah dan menjaga keturunan yang saleh, yang kini menjadi penerus keilmuan beliau di Martapura dan sekitarnya. Fokus pada pewaris spiritualnya, Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali, adalah kunci untuk memahami kesinambungan warisan beliau.

Beliau meninggalkan harta duniawi yang minim, namun mewariskan kekayaan spiritual yang tak terhitung nilainya. Rumah beliau sederhana, majelis beliau mewah hanya karena dipenuhi lautan manusia, bukan karena perabotan yang mahal. Inilah bukti nyata dari seorang wali yang zuhud, yang hatinya hanya terpaut pada Allah SWT. Setiap jemaah yang datang belajar bukan hanya tentang fiqh atau tasawuf, tetapi juga tentang bagaimana hidup tanpa terikat pada gemerlap dunia. Kehidupan sehari-hari beliau menjadi buku pelajaran terbuka tentang bagaimana seorang hamba sejati seharusnya bertingkah laku. Ini adalah intisari dari ajaran yang beliau bawa, yang terpatri kuat di benak setiap pengikut setianya.

Pengaruh beliau juga terlihat jelas dalam seni dan budaya lokal. Syair-syair Banjar yang bernuansa sufistik mengalami kebangkitan kembali berkat dukungan beliau. Tradisi membaca manaqib para ulama Banjar yang sempat memudar kini kembali semarak. Guru Sekumpul memastikan bahwa akar keilmuan Islam Banjar tidak terputus, melainkan diperkuat dan disebarkan kepada generasi muda melalui cara yang relevan dan menarik.

Kesimpulannya, biografi Guru Sekumpul adalah kisah tentang cinta, ketulusan, dan pengabdian. Beliau adalah permata Kalimantan yang cahayanya menyinari seluruh Nusantara. Mengingat dan meneladani beliau adalah kewajiban bagi setiap muslim yang merindukan jalan kebenadian. Warisan beliau akan terus hidup selama cinta kepada Rasulullah ﷺ dan para Auliya masih bersemayam di hati umat.

🏠 Homepage