Menentukan dan Memahami Bulan Muharram

Pendahuluan: Mengapa Pertanyaan "Berapa Muharram Sekarang" Selalu Relevan?

Pertanyaan mengenai berapa Muharram sekarang merupakan pertanyaan mendasar yang muncul seiring mendekatnya pergantian tahun dalam kalender Hijriyah. Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis peredaran matahari (syamsiyah) dan memiliki periode tetap, kalender Islam atau Qomariyah (berbasis bulan) memiliki siklus yang bergeser mundur sekitar 10 hingga 11 hari setiap tahun Masehi. Pergeseran inilah yang membuat penentuan tanggal 1 Muharram—yang menandai awal tahun baru Islam—menjadi dinamis dan memerlukan metode penentuan yang spesifik.

Muharram bukan sekadar penanda dimulainya siklus hitungan baru. Bulan ini adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (Asyhurul Hurum), memiliki makna historis mendalam, dan menjadi waktu penting bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah, terutama puasa sunnah. Memahami cara penentuan tanggal Muharram adalah kunci untuk menyambut dan melaksanakan amalan-amalan yang dianjurkan pada bulan penuh berkah ini.

Bulan Sabit dan Bintang, lambang Kalender Islam

Ilustrasi Penentuan Awal Bulan Qomariyah (Hilal).

Bagian I: Dasar Penentuan Waktu dalam Kalender Hijriyah

Untuk menjawab secara akurat mengenai berapa Muharram sekarang, kita harus memahami bagaimana kalender Hijriyah bekerja, yang secara fundamental berbeda dari kalender yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari (Masehi).

Sistem Qomariyah (Lunar)

Kalender Islam didasarkan pada siklus bulan (Qomariyah). Satu bulan Qomariyah adalah interval waktu antara satu kemunculan hilal (bulan sabit baru) dengan kemunculan hilal berikutnya. Siklus ini biasanya berlangsung antara 29 atau 30 hari. Karena siklus sinodik bulan rata-rata adalah 29,53 hari, penentuan awal bulan tidak selalu pasti 30 hari, melainkan bergantung pada penampakan hilal.

Metode Penentuan Awal Bulan: Rukyatul Hilal dan Hisab

Ada dua metode utama yang digunakan umat Islam di seluruh dunia untuk menentukan kapan tanggal 1 Muharram dimulai:

1. Rukyatul Hilal (Pengamatan Langsung)

Metode ini adalah metode tradisional dan yang paling sesuai dengan nash-nash agama. Rukyatul hilal adalah upaya mengamati secara langsung penampakan bulan sabit muda setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan sebelumnya (dalam konteks Muharram, ini berarti tanggal 29 Dzulhijjah). Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai tanggal 1 Muharram. Jika hilal tidak terlihat (misalnya karena tertutup awan atau posisinya masih di bawah batas visibility), maka bulan Dzulhijjah digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Penentuan Muharram melalui rukyatul hilal melibatkan otoritas keagamaan tertinggi di suatu wilayah atau negara. Keputusan resmi (misalnya, sidang isbat di Indonesia) memastikan keseragaman penetapan awal tahun baru Islam.

2. Hisab (Perhitungan Astronomi)

Hisab adalah metode perhitungan matematis dan astronomis untuk memprediksi posisi bulan, matahari, dan bumi. Metode ini memberikan kepastian waktu dan lokasi di mana hilal *seharusnya* terlihat. Dalam konteks modern, hisab sangat penting untuk perencanaan jangka panjang, seperti penentuan kalender tahunan.

Seringkali, jawaban atas pertanyaan berapa Muharram sekarang akan merujuk pada hasil hisab yang telah ditetapkan oleh lembaga kalender atau otoritas pemerintah, namun penetapan resmi tetap menunggu hasil rukyat atau sidang isbat.

Bagian II: Sejarah dan Kedudukan Muharram dalam Islam

Muharram memiliki kedudukan yang sangat istimewa, bukan hanya sebagai bulan pertama, tetapi juga sebagai bulan yang penuh makna sejarah dan keutamaan ibadah.

Muharram sebagai Asyhurul Hurum (Bulan-Bulan Haram)

Muharram adalah satu dari empat bulan haram (suci) yang disebutkan dalam Al-Qur'an (At-Taubah [9]: 36), yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Di bulan-bulan ini, umat Islam diperintahkan untuk menahan diri dari peperangan, meningkatkan amal saleh, dan menjauhi perbuatan dosa, karena pahala dan dosa dilipatgandakan.

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan) yang empat itu."

Penetapan Awal Tahun Hijriyah

Meskipun Muharram sudah ada sejak zaman jahiliyah, penetapan Muharram sebagai bulan pertama kalender Islam terjadi jauh setelah peristiwa Hijrah. Keputusan ini diambil pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, sekitar tahun 638 M. Para sahabat berdiskusi tentang perlunya sistem penanggalan terstruktur untuk memudahkan administrasi negara yang semakin meluas.

Gulungan Kertas Kuno, simbol Sejarah dan Perpindahan

Peristiwa Hijrah menjadi dasar penetapan awal Tahun Baru Islam pada bulan Muharram.

Bagian III: Keutamaan Ibadah di Bulan Muharram

Setelah mengetahui berapa Muharram sekarang, langkah selanjutnya adalah memahami ibadah apa saja yang dianjurkan untuk mengisi waktu berharga ini. Muharram adalah waktu emas untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan ibadah yang paling utama di bulan ini adalah puasa sunnah.

1. Puasa Sunnah: Puasa Paling Utama Setelah Ramadhan

Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam (Qiyamul Lail)." (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan keutamaan istimewa bulan Muharram. Berpuasa di bulan ini secara umum sangat dianjurkan, meskipun terdapat puasa sunnah yang lebih spesifik, yaitu puasa Tasu'a dan Asyura.

2. Puasa Asyura (10 Muharram)

Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, adalah hari yang memiliki sejarah panjang, bahkan sebelum kedatangan Islam. Pada hari ini, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israel dari kejaran Fir'aun, yang kemudian dirayakan oleh kaum Yahudi dengan berpuasa.

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau bersabda: "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.

Keutamaan Puasa Asyura

Puasa pada 10 Muharram memiliki keutamaan yang luar biasa, yaitu menghapus dosa-dosa setahun yang lalu. Rasulullah ﷺ bersabda mengenai puasa Asyura: "Aku berharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim).

3. Puasa Tasu'a (9 Muharram)

Melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura, dan dalam upaya untuk membedakan amalan umat Islam dengan kaum Yahudi, Rasulullah ﷺ berniat untuk menambah puasa sehari sebelumnya (9 Muharram). Beliau bersabda: "Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu'a)." (HR. Muslim).

Meskipun Rasulullah ﷺ wafat sebelum Muharram tahun berikutnya tiba, sunnah untuk berpuasa Tasu'a (9 Muharram) tetap dianjurkan sebagai pelengkap dan pembeda dari umat lain. Oleh karena itu, amalan yang paling sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram, atau bahkan 9, 10, dan 11 Muharram (sebagai bentuk kehati-hatian).

4. Amalan Lain yang Dianjurkan

Selain puasa, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan umum seperti:

Bagian IV: Perspektif Sejarah: Tragedi Karbala pada 10 Muharram

Hari ke-10 Muharram, atau Asyura, memegang makna yang sangat mendalam dan terkadang menyedihkan dalam sejarah Islam, yang dikenal dengan peristiwa Karbala. Pemahaman tentang peristiwa ini penting untuk memahami bagaimana Muharram diperingati di berbagai belahan dunia, terutama di kalangan Muslim Syiah.

Latar Belakang Peristiwa

Tragedi Karbala terjadi pada tahun ke-61 Hijriyah. Ini adalah puncak konflik politik yang terjadi setelah wafatnya Muawiyah bin Abu Sufyan dan naiknya Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah. Kelompok yang menolak kepemimpinan Yazid memandang cucu Rasulullah ﷺ, Husain bin Ali, sebagai pemimpin yang sah.

Perjalanan Menuju Karbala

Husain bin Ali, bersama keluarga dan rombongan kecilnya (sekitar 72 orang), berangkat dari Madinah menuju Kufah (Irak) setelah menerima janji dukungan dari penduduk Kufah. Namun, di tengah jalan, janji dukungan tersebut dikhianati, dan pasukan Husain dihadang oleh pasukan Khalifah Yazid di padang Karbala.

Pengepungan dan Syahadah

Rombongan Husain dikepung dan dicegah dari mengakses air selama beberapa hari. Puncaknya terjadi pada 10 Muharram, di mana pertempuran tidak seimbang terjadi. Husain bin Ali, beserta hampir seluruh kerabat dan sahabatnya, syahid. Peristiwa ini merupakan titik balik kelam dalam sejarah politik dan spiritual Islam, memicu perpecahan mendalam yang berlanjut hingga hari ini.

Peringatan Asyura Berbagai Mazhab

Penting untuk diketahui bahwa terlepas dari perbedaan ritual peringatan, Muharram, khususnya hari Asyura, adalah hari yang menuntut refleksi dan pengorbanan bagi semua Muslim.

Bagian V: Menentukan "Berapa Muharram Sekarang" Secara Praktis dan Astronomis

Di era modern, ketika kalender Masehi mendominasi aktivitas sehari-hari, penentuan berapa Muharram sekarang memerlukan konversi atau merujuk pada kalender yang telah dihitung secara akurat. Karena sifatnya yang bergantung pada pergeseran bulanan, mengetahui posisinya relatif terhadap kalender Masehi adalah esensial.

Sistem Hisab dan Konversi Kalender

Perhitungan hisab telah berkembang menjadi sangat akurat. Beberapa sistem hisab yang terkenal di dunia Islam meliputi:

Tantangan Perbedaan Awal Muharram

Meskipun hisab menawarkan kepastian matematis, perbedaan dalam kriteria yang digunakan (misalnya, Wujudul Hilal vs. Imkanur Rukyat) sering menyebabkan perbedaan penetapan awal Muharram di berbagai negara atau organisasi Islam.

Misalnya, jika pada tanggal 29 Dzulhijjah, hilal sudah wujud (terjadi), tetapi ketinggiannya masih di bawah 3 derajat (batas minimum Imkanur Rukyat yang sering dipakai), maka:

Oleh karena itu, ketika mencari tahu berapa Muharram sekarang, kita harus merujuk pada keputusan resmi otoritas keagamaan di wilayah tempat tinggal kita.

Pergeseran Siklus Muharram (The Retrograde Motion)

Satu tahun Hijriyah (sekitar 354 hari) lebih pendek dari satu tahun Masehi (sekitar 365,25 hari). Perbedaan sekitar 11 hari ini memastikan bahwa Muharram akan terus bergeser melalui semua musim dalam siklus sekitar 33 tahun. Ini berarti, seiring waktu berjalan, umat Islam akan mengalami Muharram pada musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi.

Buku Terbuka, simbol Ilmu Fiqh dan Hikmah

Memahami Muharram memerlukan ilmu hisab dan fiqh yang mendalam.

Bagian VI: Fiqh dan Detail Hukum Puasa Muharram

Untuk melengkapi ibadah di bulan Muharram, penting untuk memahami detail hukum (fiqh) terkait pelaksanaan puasa sunnah, terutama puasa Asyura dan Tasu'a.

Hukum Puasa Asyura: Sunnah Muakkadah

Puasa Asyura (10 Muharram) dihukumi sebagai sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Keutamaan penghapusan dosa setahun yang lalu adalah motivasi besar bagi umat Islam untuk melaksanakannya.

Melengkapi dengan Tasu'a

Sebagaimana telah disebutkan, puasa 9 Muharram (Tasu'a) sangat dianjurkan untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam membedakan diri dari Ahli Kitab. Para ulama fiqh sepakat bahwa urutan puasa yang paling diutamakan adalah:

  1. Puasa tiga hari: 9, 10, dan 11 Muharram (Tasu'a, Asyura, dan sehari setelahnya).
  2. Puasa dua hari: 9 dan 10 Muharram (Tasu'a dan Asyura).
  3. Puasa sehari: 10 Muharram saja (Asyura). Namun, hal ini dihukumi makruh tanzih (makruh yang ringan) oleh sebagian ulama jika dilakukan tanpa puasa Tasu'a, kecuali jika ada halangan.

Puasa Khusus Hari Jumat atau Sabtu

Terkadang, hari Asyura jatuh bertepatan dengan hari Jumat atau hari Sabtu. Dalam fiqh, terdapat larangan berpuasa sunnah pada hari Jumat atau Sabtu secara tunggal (kecuali puasa wajib atau puasa sunnah yang memiliki sebab tertentu, seperti puasa Daud).

Jika 10 Muharram jatuh pada hari Jumat, puasa Tasu'a (9 Muharram) yang jatuh pada hari Kamis akan otomatis membatalkan kemakruhan tersebut, karena puasa dilakukan secara berpasangan. Ini semakin menegaskan pentingnya puasa Tasu'a.

Qadha Puasa Ramadhan dan Muharram

Bagi seseorang yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan (qadha), para ulama sepakat bahwa puasa Ramadhan harus didahulukan. Namun, jika seseorang ingin mendapatkan pahala puasa Asyura, ia dapat melakukan puasa qadha Ramadhan pada tanggal 9 atau 10 Muharram dengan niat menggabungkan (tasyriik) kedua puasa tersebut. Menurut pendapat sebagian ulama Syafi'iyyah, pahala sunnahnya tetap didapatkan, meskipun niat utamanya adalah membayar hutang wajib.

Puasa di Awal Muharram (Menyambut Tahun Baru)

Selain puasa Tasu'a dan Asyura, berpuasa sunnah pada tanggal 1 Muharram dan hari-hari pertama di bulan ini juga sangat dianjurkan. Ini adalah bagian dari menjalankan sunnah memperbanyak puasa di bulan haram secara umum. Mengawali tahun dengan amal saleh adalah bentuk syukur atas kesempatan hidup baru yang diberikan Allah.

Bagian VII: Hikmah dan Filosofi Muharram

Muharram tidak hanya tentang perhitungan kalender atau puasa, tetapi juga tentang pelajaran filosofis dan spiritual yang mendalam bagi kehidupan seorang Muslim.

1. Hijrah: Semangat Perubahan dan Pergerakan

Muharram, yang akarnya terhubung pada peristiwa Hijrah, mengajarkan bahwa perubahan sejati memerlukan pengorbanan dan pergerakan. Hijrah bukan hanya perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah, tetapi perpindahan spiritual dari keadaan yang pasif menuju aktif, dari kegelapan menuju cahaya, dan dari stagnasi menuju pembangunan peradaban.

Memasuki berapa Muharram sekarang, kita diajak untuk meninjau kembali apakah kita telah melakukan "hijrah" dalam kehidupan pribadi kita—meninggalkan kebiasaan buruk dan pindah ke kebiasaan yang lebih Islami dan produktif.

2. Kezaliman dan Keadilan (Pelajaran Karbala)

Tragedi Karbala, meskipun menyakitkan, memberikan pelajaran abadi tentang pentingnya berdiri di sisi kebenaran dan melawan kezaliman, meskipun harus menghadapi penderitaan. Hikmah ini relevan sepanjang masa. Muharram mengingatkan umat Islam akan konsekuensi dari perpecahan dan pentingnya mempertahankan nilai-nilai inti agama, bahkan di tengah tekanan politik dan sosial.

3. Pintu Taubat dan Penyucian Diri

Sebagai bulan pertama, Muharram sering disebut sebagai Syahrullah al-Asham (Bulan Allah yang Sunyi/Mulia), di mana kesuciannya membuka pintu taubat yang lebar. Puasa Asyura yang menghapus dosa setahun adalah representasi dari kasih sayang Allah yang memberikan kesempatan baru bagi hamba-Nya untuk memulai lembaran bersih.

Memanfaatkan waktu di bulan Muharram untuk taubat nasuha, perbaikan diri, dan peningkatan ketaqwaan adalah inti dari perayaan tahun baru Islam yang sesungguhnya.

Bagian VIII: Praktik dan Tradisi Muharram di Berbagai Budaya

Meskipun Muharram adalah bulan suci yang universal, cara ia diperingati dan dirayakan memiliki warna-warni budaya yang kaya di seluruh dunia Islam.

1. Indonesia: Bubur Suro dan Santunan Anak Yatim

Di Indonesia, Muharram sering kali disebut sebagai bulan Suro (dari kata Asyura). Meskipun terdapat nuansa sinkretisme di beberapa daerah, tradisi yang kuat di kalangan Muslim Nusantara adalah:

2. Asia Selatan (India dan Pakistan): Tabut dan Ratapan

Di Asia Selatan, pengaruh peringatan Karbala sangat kuat, baik di kalangan Syiah maupun sebagian Sunni lokal. Tradisi yang menonjol adalah pembuatan Tabut atau Taziah (replika makam Husain) yang kemudian diarak dalam prosesi berkabung. Prosesi ini mencapai puncaknya pada hari Asyura, sering diiringi dengan ratapan, syair duka, dan berbagai bentuk ekspresi duka cita.

3. Timur Tengah: Fokus pada Puasa dan Khutbah

Di negara-negara Arab mayoritas Sunni, peringatan cenderung lebih terfokus pada pelaksanaan puasa Tasu'a dan Asyura. Masjid-masjid mengisi hari tersebut dengan khutbah yang mengingatkan umat tentang keutamaan puasa dan kisah Nabi Musa. Pemerintah memastikan libur pada hari Asyura untuk memfasilitasi pelaksanaan ibadah.

4. Malaysia dan Singapura: Awal Tahun Hijriyah

Di kawasan Melayu, peringatan 1 Muharram sebagai Tahun Baru Islam dirayakan dengan pawai, ceramah, dan doa bersama. Ini adalah momen refleksi kolektif dan pengukuhan kembali identitas Muslim.

Bagian IX: Memperdalam Pengkajian Ilmiah Kalender Hijriyah

Karena pentingnya penentuan berapa Muharram sekarang untuk ibadah, upaya ilmiah untuk menyatukan kalender Islam telah menjadi fokus utama para astronom dan ulama modern. Konflik antara Rukyat dan Hisab terus mendorong inovasi.

Siklus Saros dan Metonik

Para ahli falak (astronomi Islam) telah lama menggunakan perhitungan canggih. Siklus Metonik, yang ditemukan pada zaman kuno, menunjukkan bahwa 19 tahun Masehi hampir setara dengan 19 tahun Hijriyah yang terdiri dari 12 tahun biasa (354 hari) dan 7 tahun kabisat (355 hari). Pengetahuan ini memungkinkan prediksi kalender yang sangat panjang.

Kalender Islam Global (Universal Islamic Calendar)

Terdapat upaya berkelanjutan di tingkat internasional untuk menciptakan Kalender Islam Tunggal. Tujuan utamanya adalah menghilangkan perbedaan penetapan hari raya (termasuk 1 Muharram) di berbagai negara, sehingga umat Islam dapat memulai dan mengakhiri ibadah mereka secara serempak. Namun, perbedaan kriteria (apakah kriteria hisab harus berlaku global, atau lokal) masih menjadi hambatan utama.

Beberapa usulan menyarankan penggunaan Mekkah sebagai titik koordinat tunggal untuk melihat hilal (Global Visibility), sementara yang lain menyarankan Zona Tanggal Internasional Islam yang berbasis pada zona waktu.

Muharram di Masa Depan: Kepastian vs. Kepatuhan

Perdebatan mengenai Muharram akan selalu berada di antara dua kutub: kebutuhan akan kepastian ilmiah (Hisab) dan kepatuhan terhadap teks agama yang menekankan pengamatan langsung (Rukyat). Saat ini, mayoritas negara memilih pendekatan kombinasi, di mana hisab digunakan untuk perencanaan, dan rukyat (atau kriteria visibilitas minimum) digunakan untuk penetapan resmi.

Ketika seseorang bertanya berapa Muharram sekarang, jawaban yang paling bertanggung jawab adalah merujuk pada kalender yang disahkan oleh pemerintah atau otoritas keagamaan setempat, yang telah melalui proses rukyat dan/atau hisab yang disepakati.

Kesimpulan: Memanfaatkan Momentum Muharram

Muharram adalah gerbang menuju tahun spiritual yang baru. Ini adalah bulan yang mulia, yang dipenuhi dengan sejarah agung—mulai dari penetapan kalender Islam berdasarkan Hijrah, hingga tragedi Karbala yang mengajarkan pengorbanan, dan keutamaan puasa Asyura yang menjanjikan pengampunan dosa setahun penuh.

Mencari tahu berapa Muharram sekarang adalah langkah awal untuk memastikan kita tidak melewatkan momentum ibadah yang luar biasa ini. Begitu tanggal 1 Muharram ditetapkan, umat Islam diajak untuk segera mempersiapkan diri, mengisi hari-hari Asyhurul Hurum dengan peningkatan kualitas shalat, memperbanyak puasa sunnah, sedekah, dan introspeksi diri secara mendalam. Semoga setiap awal tahun Hijriyah membawa berkah dan kesempatan baru bagi kita semua untuk menjadi hamba yang lebih baik.

🏠 Homepage