Akhlak adalah cerminan kualitas spiritual dan moral seseorang. Ketika akhlak tersebut diarahkan kepada Allah SWT, ia dikenal sebagai akhlakul khaliqiyyah, atau sikap yang menunjukkan pengabdian, rasa takut, cinta, dan penghormatan tertinggi kepada Sang Pencipta. Dalam kehidupan sehari-hari, manifestasi akhlak kepada Allah tidak hanya terbatas pada ritual ibadah formal, tetapi meresap dalam setiap tindakan, ucapan, dan niat kita. Memahami dan mengamalkan contoh akhlak ini adalah kunci menuju ketenangan jiwa dan keridhaan Ilahi.
Pilar utama akhlak kepada Allah adalah tauhid—keyakinan penuh bahwa Allah adalah Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan hanya Dia yang layak disembah. Dalam keseharian, tauhid ini terwujud melalui:
Ibadah wajib adalah "kontrak" harian antara hamba dan Tuhannya. Menjaga pelaksanaannya menunjukkan keseriusan seorang hamba dalam hubungannya dengan Sang Khalik. Contoh konkretnya meliputi:
Akhlak terpuji muncul dari kesadaran bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui (Al-Bashir dan Al-Alim). Muraqabah ini mengubah cara kita berperilaku, bahkan di saat tidak ada manusia lain yang melihat.
Misalnya, ketika sendirian, seseorang menahan diri dari perbuatan maksiat, berkata jujur dalam transaksi keuangan, atau bekerja dengan sungguh-sungguh karena menyadari bahwa setiap detail perbuatannya tercatat. Inilah bentuk penghambaan yang paling murni, jauh dari sifat riya (pamer).
Syukur adalah bentuk pengakuan lisan, hati, dan perbuatan atas nikmat yang diberikan Allah. Akhlak syukur tampak jelas dalam dua kondisi:
Akhlak yang ideal terhadap Allah adalah menyeimbangkan antara cinta (raja') dan rasa takut (khauf).
Secara keseluruhan, contoh akhlak kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari adalah upaya untuk menjadikan seluruh hidup—mulai dari niat tidur hingga cara kita berbisnis—sebagai bentuk ibadah yang ditujukan semata-mata untuk mencari ridha-Nya. Ini memerlukan introspeksi dan muhasabah diri yang berkelanjutan agar kita tidak tergelincir dalam kelalaian duniawi.