Pemikiran mengenai asal-usul alam semesta merupakan salah satu misteri terbesar yang senantiasa memicu perdebatan ilmiah dan filosofis sepanjang sejarah manusia. Dalam diskursus modern mengenai kosmos, karya-karya Harun Yahya (Adnan Oktar) menawarkan perspektif yang menekankan adanya desain cerdas dan Pencipta di balik keteraturan yang luar biasa ini. Ia secara konsisten menyoroti kompleksitas yang tak terbayangkan dalam alam semesta, dari skala sub-atomik hingga struktur galaksi raksasa, sebagai bukti adanya perancangan yang maha teliti.
Keteraturan Hukum Fisika
Salah satu argumen sentral yang dikembangkan dalam kerangka pemikiran Harun Yahya adalah tentang "penyetelan halus" (fine-tuning) konstanta fisika. Jika nilai-nilai fundamental alam semesta—seperti kecepatan cahaya, kekuatan gravitasi, atau rasio massa proton terhadap elektron—berubah sedikit saja, kehidupan seperti yang kita kenal tidak akan mungkin ada. Harun Yahya berargumen bahwa probabilitas munculnya semua konstanta ini secara acak dalam rentang yang memungkinkan keberadaan bintang, planet, dan molekul karbon adalah nol.
Sebagai contoh, ia sering merujuk pada pembentukan elemen berat. Di dalam bintang, proses fusi nuklir harus terjadi pada tingkat suhu dan tekanan yang sangat spesifik untuk menghasilkan karbon dan oksigen—elemen vital bagi kehidupan. Kegagalan pada langkah ini akan menghasilkan alam semesta yang dingin dan mati. Bagi Harun Yahya, kemustahilan statistik ini menunjuk pada kesadaran dan tujuan yang terprogram di awal penciptaan.
Alam Semesta yang Mengembang dan Batasan Ilmiah
Teori Ledakan Besar (Big Bang) yang diterima secara luas, menggambarkan alam semesta dimulai dari singularitas yang sangat padat dan panas, kemudian mengembang hingga hari ini. Harun Yahya tidak sepenuhnya menolak konsep perluasan ini, tetapi ia menantang interpretasi naturalistik yang menyertainya. Ia berpendapat bahwa fakta bahwa alam semesta memiliki awal dan terus berkembang sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan menunjukkan bahwa ada kekuatan luar yang memulai dan menjaga proses tersebut.
Lebih lanjut, ia mengkritik konsep-konsep yang memungkinkan alam semesta eksis tanpa awal, seperti beberapa interpretasi teori keadaan tunak (steady-state theory) atau model multiversum yang belum teruji. Fokusnya adalah menggarisbawahi bahwa ilmu pengetahuan modern, meskipun sangat maju, selalu menemui batas ketika mencoba menjelaskan 'mengapa' alam semesta ada, bukan hanya 'bagaimana' ia bekerja saat ini. Batas-batas ini, menurut pandangannya, adalah pintu masuk untuk mengakui adanya Pencipta yang Maha Kuasa.
Desain yang Tersembunyi di Skala Mikro
Tidak hanya pada skala kosmik, analisis Harun Yahya juga merambah pada struktur materi itu sendiri. Keindahan dan keteraturan dalam interaksi partikel sub-atomik, kestabilan atom, serta bagaimana gaya elektromagnetik memungkinkan pembentukan molekul kompleks, semuanya dilihat sebagai manifestasi dari cetak biru ilahi. Struktur atomik, dengan elektron yang mengorbit inti pada tingkat energi yang terkuantisasi, bukanlah hasil kebetulan, melainkan refleksi dari hukum yang sempurna.
Penyajian argumen ini seringkali bertujuan untuk menunjukkan bahwa evolusi acak tidak mampu menghasilkan kompleksitas yang terorganisir. Setiap penemuan baru dalam fisika partikel, yang mengungkap keteraturan lebih dalam tentang bagaimana alam semesta dibangun, justru dipandang sebagai penguat klaim bahwa alam semesta adalah hasil dari ciptaan yang terencana secara sadar, sebuah pertunjukan agung dari kebesaran Sang Pencipta.
Kesimpulan Perspektif
Secara keseluruhan, pembahasan mengenai penciptaan alam semesta dari perspektif Harun Yahya berakar kuat pada penolakan terhadap kebetulan dalam menghasilkan keteraturan alam semesta. Dari konstanta fisika yang presisi hingga ekspansi kosmik yang terkontrol, ia menyajikan alam semesta sebagai entitas yang sangat terstruktur, yang desainnya melebihi kemampuan penjelasan materialisme tanpa mengakui adanya Kecerdasan Tertinggi sebagai Sumbernya.