Dalam hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, seringkali kita terjebak dalam pencarian kesuksesan, pengakuan, dan kecanggihan. Kita berlomba-lomba untuk terlihat pintar, bijak, dan selalu benar. Namun, terkadang, justru dalam kesederhanaan dan bahkan apa yang dianggap "kebodohan" oleh sebagian orang, tersembunyi pelajaran berharga yang dapat mengubah cara pandang kita terhadap dunia.
Mari kita selami kisah seorang tokoh yang mungkin tak memiliki gelar sarjana, tak lihai beretorika, dan seringkali ucapannya terdengar lugu atau bahkan "bodo". Dialah Kakek Bodo, sebuah panggilan sayang yang diberikan oleh cucu-cucunya, yang justru menjadi sumber inspirasi tak terduga dalam kehidupan keluarga mereka. Nama aslinya adalah Pak Seno, seorang petani sederhana di sebuah desa terpencil. Sehari-harinya, ia menghabiskan waktu di sawah, merawat tanamannya dengan cinta dan ketekunan. Namun, di luar aktivitas bertaninya, Pak Seno memiliki caranya sendiri dalam memandang kehidupan, yang seringkali membuat orang tersenyum geli.
Suatu hari, cucunya yang bernama Adi, seorang mahasiswa cerdas yang baru saja pulang dari kota, sedang mengeluh tentang tugas kuliahnya yang sangat rumit. Ia merasa frustrasi dan kewalahan. Kakek Seno yang mendengarnya hanya tersenyum. Dengan gaya bicaranya yang khas, ia berkata, "Adi, kalau kerjamu berat, jangan dipikir sampai puyeng. Ambil saja satu langkah kecil, selesaikan itu. Nanti, langkah kecil itu akan membawamu ke langkah selanjutnya. Lama-lama, ya selesai."
Adi awalnya agak meremehkan nasihat kakeknya. Ia berpikir, "Mana mungkin masalah sebesar ini bisa selesai hanya dengan langkah kecil?" Namun, ketika ia benar-benar mencoba memecah tugasnya menjadi bagian-bagian kecil dan mengerjakannya satu per satu, ia terkejut. Perlahan tapi pasti, tugas yang tadinya tampak mustahil mulai terselesaikan. Ia sadar, Kakek Bodo-nya, dengan cara pandangnya yang sederhana, telah memberinya strategi pemecahan masalah yang efektif.
Kisah lain datang saat musim kemarau panjang melanda desa. Sumur-sumur mulai mengering, tanaman layu, dan kepanikan mulai melanda. Warga desa berdiskusi dengan tegang, mencari solusi di tengah keputusasaan. Kakek Seno, yang biasanya pendiam, tiba-tiba mengajukan ide. Ia mengusulkan agar warga bersama-sama membuat lubang biopori di berbagai titik desa. Warga lain sempat ragu, "Untuk apa membuat lubang-lubang kecil seperti itu? Itu kan tidak akan menyelesaikan masalah kekeringan."
Namun, Kakek Seno tetap teguh. Ia menjelaskan bahwa lubang biopori akan membantu resapan air saat hujan nanti, sehingga dapat menjaga ketersediaan air tanah. Ia bahkan mengajak beberapa tetangga untuk segera memulainya. Awalnya hanya segelintir orang yang ikut, namun melihat kesungguhan Kakek Seno, perlahan warga lain pun tergerak. Benar saja, ketika musim hujan tiba, lubang-lubang biopori itu terbukti efektif. Sumber air mulai terisi kembali, dan desa pun terhindar dari krisis air yang lebih parah.
Mengapa Kakek Bodo bisa memberikan pelajaran yang mendalam? Kebodohan yang dimaksud di sini bukanlah kekurangan pengetahuan atau kecerdasan. Sebaliknya, ini adalah tentang keberanian untuk tidak terjebak dalam kompleksitas yang diciptakan pikiran kita sendiri. Kakek Seno tidak pernah merasa perlu untuk terdengar pintar atau mengeluarkan teori-teori rumit. Ia hanya berbicara dari pengalaman hidupnya yang sederhana, dari pengamatannya yang jujur terhadap alam dan manusia.
Pandangan hidupnya yang lugu seringkali membersihkan kerumitan-kerumitan yang kita ciptakan sendiri. Ketika kita dilanda kecemasan, ia mengingatkan kita untuk fokus pada apa yang bisa dilakukan saat ini. Ketika kita merasa terbebani masalah, ia menunjukkan bahwa solusi bisa ditemukan dalam langkah-langkah kecil. Ia mengajarkan kita pentingnya ketekunan, kesabaran, dan keyakinan pada proses.
Kisah Kakek Bodo mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari buku-buku tebal atau seminar-seminar mahal. Kadang, ia hadir dalam bisikan seorang petani sederhana, dalam senyum teduh seorang kakek, dalam cara pandang yang polos namun mendalam. Kakek Bodo mengajarkan kita untuk menghargai kesederhanaan, untuk melihat dunia dengan mata yang jernih, dan untuk menyadari bahwa dalam setiap situasi, ada pelajaran yang bisa diambil, bahkan dari apa yang sekilas tampak seperti "kebodohan". Ia adalah pengingat bahwa terkadang, menjadi sedikit "bodo" justru membuat kita lebih manusiawi, lebih terbuka, dan lebih bijaksana.