Akhlak merupakan salah satu pilar fundamental dalam pembentukan karakter dan moralitas individu, baik dalam perspektif filosofis maupun religius. Secara etimologis, kata "akhlak" berasal dari bahasa Arab (jamak dari khuluq) yang secara harfiah berarti watak, tabiat, atau perangai. Dalam konteks yang lebih luas, akhlak merujuk pada seperangkat perilaku, sifat, dan nilai-nilai yang tertanam dalam diri seseorang yang kemudian termanifestasi dalam interaksi mereka dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Memahami pengertian akhlak memerlukan pemisahan antara aspek internal (niat dan batin) dan aspek eksternal (perbuatan yang terlihat). Akhlak bukanlah sekadar perilaku yang dilakukan sesekali, melainkan sebuah kecenderungan alami jiwa yang membentuk cara pandang dan respons seseorang terhadap berbagai situasi.
Beberapa ahli mendefinisikan akhlak sebagai:
Untuk memudahkan pemahaman, akhlak dapat dipecah menjadi dua komponen utama yang saling terkait erat, sebagaimana digambarkan pada ilustrasi di atas:
Ini adalah dimensi batiniah yang mencakup niat (niyyah), keyakinan, perasaan, dan motivasi yang mendorong tindakan. Komponen internal ini sering disebut sebagai madzhab al-qalbi (domain hati). Jika hati seseorang dipenuhi rasa syukur, maka perilaku yang muncul adalah kerendahan hati dan tidak tamak. Jika hati dipenuhi kesombongan, maka perilaku yang muncul adalah arogansi dan meremehkan orang lain.
Ini adalah wujud nyata dari akhlak internal yang terlihat dalam ucapan (lisan) dan perbuatan fisik. Tindakan nyata ini adalah indikator yang dapat dinilai oleh orang lain. Misalnya, kejujuran adalah akhlak internal (keengganan berbohong dalam hati), sedangkan menyampaikan kebenaran saat berbicara adalah akhlak eksternal (berbicara jujur).
Penting untuk ditekankan bahwa kedua komponen ini harus selaras. Tindakan baik yang dilakukan hanya demi pencitraan (tanpa didasari niat baik) seringkali dianggap kurang sempurna atau tidak bernilai optimal dalam perspektif pembentukan karakter sejati.
Pembentukan akhlak yang baik bukan hanya urusan individual, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas. Akhlak yang mulia adalah fondasi terciptanya tatanan masyarakat yang harmonis, adil, dan saling mengasihi.
Kesimpulannya, pengertian akhlak jauh melampaui sekadar tata krama. Ia adalah struktur karakter internal yang menentukan kualitas hidup batiniah seseorang dan terwujud nyata dalam setiap interaksinya di dunia luar. Pembinaan akhlak adalah proses seumur hidup yang menuntut kesadaran, latihan terus-menerus, dan koreksi diri.