Eksplorasi nilai moral dari lensa sufistik.
Tasawuf, atau Sufisme, bukan hanya sekadar praktik ritual, melainkan sebuah jalan spiritual menuju kedekatan (qurb) dengan Tuhan. Inti dari perjalanan ini adalah pemurnian hati dan pengembangan akhlak mulia (tazkiyatun nufus). Dalam pandangan tasawuf, baik dan buruknya akhlak seseorang adalah cerminan langsung dari kedalaman hubungannya dengan Sang Pencipta. Akhlak yang baik adalah manifestasi dari keikhlasan dan kesadaran ilahi (muraqabah), sementara akhlak buruk merupakan indikasi penyakit hati (adhyaan al-qalb).
1. Apa perbedaan mendasar antara etika (akhlak) dalam tasawuf dengan etika filosofis atau hukum Islam (syariah)?
Etika filosofis cenderung berfokus pada rasionalitas dan mencapai kebahagiaan duniawi melalui kebajikan (Aristoteles). Syariah menetapkan batasan legal-ritual. Sementara itu, akhlak tasawuf berakar pada kecintaan ilahi (mahabbah) dan pengetahuan langsung (ma'rifah). Tujuan utamanya adalah mencapai ihsan—beribadah seolah melihat Allah—sehingga perbuatan baik menjadi otomatis, bukan sekadar kewajiban eksternal. Perbedaan utamanya adalah motivasi: dari takut siksa/mengharapkan pahala (syariat) menjadi dorongan cinta murni dan kerinduan akan ridha Ilahi.
2. Bagaimana tasawuf mendefinisikan 'akhlak buruk' (sifat tercela)?
Dalam tasawuf, akhlak buruk (seperti riya'/pamer, hasad/dengki, ujub/sombong, dan kibr/angkuh) disebut sebagai "penyakit hati" (mahaalik). Sifat-sifat ini dianggap buruk karena mereka menciptakan 'tirai' (hijab) antara seorang hamba dan kehadiran Tuhan. Riya' misalnya, adalah bentuk syirik kecil karena mengharapkan pujian selain dari Allah, yang menghancurkan keikhlasan. Setiap sifat buruk adalah ekspresi dari ego (nafs ammarah) yang belum berhasil ditaklukkan.
3. Sejauh mana konsep 'fana' (peleburan diri) berhubungan dengan pembentukan akhlak yang baik?
Konsep fana' (peleburan eksistensi diri di hadapan Kebenaran Mutlak) adalah kunci dalam pembentukan akhlak tertinggi. Ketika seorang sufi berhasil memfana-kan egonya (nafsu), maka sifat-sifat buruk yang berasal dari ego tersebut otomatis sirna. Misalnya, kesombongan hilang karena menyadari bahwa segala kebaikan adalah karunia Allah semata. Akhlak yang tampak baik pada sufi sejati bukanlah hasil usaha keras melawan sifat buruk, melainkan konsekuensi alami dari keberadaan kesadaran yang terpusat pada Tuhan.
4. Apakah ada perbedaan dalam penilaian baik dan buruk antar tarekat tasawuf?
Secara fundamental, konsep inti tentang akhlak tercela (seperti keserakahan, iri hati) dan akhlak terpuji (seperti sabar, syukur, tawakkal) adalah universal dan disepakati oleh semua tarekat (Naqsyabandiyah, Qadiriyah, Syadziliyah, dll.). Perbedaan mungkin muncul pada penekanan praktik spesifik atau prioritas dalam tahapan suluk (perjalanan spiritual). Misalnya, sebagian tarekat mungkin sangat menekankan khalwat (isolasi) untuk membersihkan hati, sementara yang lain lebih fokus pada suluk al-jam'i (kehidupan sosial yang penuh kesadaran) untuk menguji akhlak di tengah interaksi manusia.
5. Bagaimana seorang pemula (salik) mengidentifikasi dan mengatasi keburukan akhlaknya tanpa bimbingan seorang mursyid?
Mengidentifikasi keburukan akhlak tanpa bimbingan adalah tantangan terbesar karena sifat dasar ego adalah menipu diri sendiri (tadlis al-nafs). Namun, seorang pemula dapat memulai dengan muhasabah (introspeksi) rutin, sering merefleksikan reaksi emosional terhadap orang lain, dan membandingkan perilaku mereka dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah yang dipahami secara mendalam. Penggunaan cermin—yaitu memperhatikan reaksi dan kritik orang lain yang jujur—sangat vital. Meskipun demikian, tasawuf menekankan bahwa perjalanan pembersihan total memerlukan bimbingan seorang Guru (Mursyid) yang telah mencapai derajat tertentu, karena Mursyid bertindak sebagai 'dokter hati' yang mampu mendiagnosis penyakit tersembunyi.